Temukan minat Anda, bersama

Promo pilihan, ulasan jujur, dan cerita belanja dari mereka yang seminat dengan Anda — setiap hari di Kuybeli.

Temukan minat Anda, bersamaPromo pilihan, ulasan jujur, dan cerita belanja dari mereka yang seminat dengan Anda — setiap hari di Kuybeli.

Dari Sekolah hingga Desa: Menguatkan Ketahanan Generasi Muda dari Narkoba

Dari Sekolah hingga Desa: Menguatkan Ketahanan Generasi Muda dari Narkoba
Minat|Kesehatan Mental

Pencegahan narkoba remaja: investasi karakter, bukan sekadar kampanye

Pencegahan narkoba remaja adalah rangkaian upaya sistematis yang dilakukan keluarga, sekolah, aparat, dan komunitas untuk membangun pengetahuan, sikap, serta keberanian generasi muda agar mampu menolak narkoba, menghindari lingkungan berisiko, dan menjaga masa depan pendidikan serta sosial mereka dari dampak ketergantungan dan kejahatan terkait zat terlarang. Inilah inti dari berbagai program edukasi anti-narkoba sekolah dan desa yang kini mulai bergerak serentak. Pendekatan ini tidak cukup berhenti pada slogan, melainkan menuntut pembentukan ketahanan generasi muda sebagai agenda jangka panjang. Badan Narkotika Nasional menegaskan bahwa membangun ketahanan generasi muda terhadap narkoba adalah investasi penting masa depan bangsa, bukan proyek seremonial yang selesai dengan satu kali seminar. Jika logika investasi dipegang teguh, maka setiap sekolah dan komunitas wajib menempatkan pencegahan sebagai prioritas, sejajar dengan urusan akademik.

Program BNN di sekolah: dari informasi ke keberanian menolak

Program BNN pelajar bersama Pelindo, bertajuk “Sobat Ananda Bersinar: Merdeka Tanpa Narkoba”, menjadi contoh konkret bagaimana pencegahan narkoba remaja digarap lebih serius melalui kemitraan lintas sektor. Program ini menjangkau sekitar 900 pelajar di sembilan sekolah di beberapa kota besar, dengan salah satu kegiatan di SMA Negeri 18 di kawasan pelabuhan yang rawan peredaran narkoba. "Melalui program tersebut, para pelajar dibekali pengetahuan mengenai bahaya narkoba, faktor risiko penyalahgunaan, serta pentingnya membangun lingkungan pergaulan yang sehat". Pernyataan ini penting: edukasi anti-narkoba sekolah tidak boleh berhenti pada penjelasan jenis zat, tetapi harus menyasar kualitas pergaulan dan kemampuan berkata tidak. Kolaborasi BNN yang memiliki keahlian substantif dengan perusahaan yang dekat dengan komunitas pelabuhan menunjukkan bahwa ketahanan generasi muda hanya bisa dibangun bila pihak di luar sekolah pun mau terlibat aktif.

Seminar di desa Masago: “berani berkata tidak” sebagai sikap sosial

Jika program nasional menyasar kota-kota besar, seminar Anti Narkoba di SMAN 19 Bone, Desa Masago, menunjukkan bahwa gerakan serupa bisa tumbuh dari akar rumput. Delapan mahasiswa KKN IAIN Bone Posko 104 menjadikan sekolah desa sebagai ruang edukasi bagi pelajar dan masyarakat, dengan seruan tegas “Katakan Tidak pada Narkoba!”. Di sini, pendekatan berani berkata tidak tidak hanya diposisikan sebagai pilihan pribadi, tetapi sebagai norma sosial baru yang diharapkan tumbuh di desa. Ketua Forbes Anti Narkoba setempat mengingatkan bahwa narkoba adalah musuh negara dan semua kalangan, dan bahwa pencegahan membutuhkan keterlibatan keluarga, sekolah, pemerintah, organisasi kemasyarakatan, hingga masyarakat desa. Ini menegaskan bahwa pencegahan narkoba remaja di wilayah pedesaan tidak boleh dianggap sekadar perpanjangan tangan kebijakan pusat, melainkan perjuangan komunitas mempertahankan masa depan generasinya.

Polisi, organisasi lokal, dan sekolah: model multi-stakeholder yang seharusnya jadi standar

Penyuluhan di SMA Al Jameea, Desa Pattukku, Kecamatan Bontocani, memperlihatkan sketsa ideal pendekatan multi-stakeholder: Kapolsek, personel kepolisian, Forbes Bone, dan mahasiswa KKN IAIN Bone turun bersama mengedukasi siswa pada 26 Agustus 2026. Para pelajar tidak hanya diberi paparan jenis dan bahaya narkotika, tetapi juga dampak terhadap kesehatan, pendidikan, lingkungan sosial, serta pentingnya berani mengatakan “tidak” terhadap narkoba. Kapolsek menekankan bahwa pencegahan bukan hanya urusan polisi; sekolah, keluarga, masyarakat, dan mahasiswa juga harus ikut menjaga generasi muda. Model ini lebih jujur menghadapi realitas: narkoba menyusup lewat relasi sosial, maka pencegahannya pun harus memanfaatkan jejaring sosial. Sekolah menyediakan ruang dan otoritas pendidikan, polisi memberi perspektif hukum dan keamanan, sementara organisasi lokal membawa kedekatan dan kepercayaan dengan warga. Ini formula yang seharusnya menjadi standar nasional, bukan pengecualian.

Dari pengetahuan ke ketahanan: PR besar kebijakan anti-narkoba remaja

Rangkaian program di berbagai sekolah dan desa menunjukkan satu hal: edukasi anti-narkoba sekolah sudah mulai bergerak dari pola satu arah menuju pola partisipatif yang mendorong keberanian menolak. Namun, tantangan utamanya adalah memastikan bahwa pengetahuan berubah menjadi ketahanan generasi muda yang nyata. Para pelajar harus didukung terus-menerus, bukan hanya saat ada penyuluhan. Lingkungan sekolah yang sehat, keluarga yang peka, komunitas desa yang menolak peredaran narkoba, serta aparat yang mudah diakses ketika ada indikasi penyalahgunaan adalah empat pilar yang harus berjalan bersama. Tanpa itu, slogan “berani berkata tidak” berisiko meredup begitu penyuluhan bubar. Masa depan remaja terlalu berharga untuk digadaikan pada pendekatan seremonial. Program BNN pelajar, inisiatif mahasiswa, dan gerak organisasi lokal telah membuka jalan; tugas berikutnya adalah menjadikannya gerakan berkelanjutan yang melekat dalam budaya sekolah dan komunitas.

Kuybeli memperoleh komisi saat Anda berbelanja melalui tautan kami, tanpa biaya tambahan untuk Anda. Artikel ini dibuat dengan AI dari sumber yang dipublikasikan dan data produk.

You May Also Like

Comments
Tulis sesuatu...
Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berbagi pendapat!