Temukan minat Anda, bersama

Promo pilihan, ulasan jujur, dan cerita belanja dari mereka yang seminat dengan Anda — setiap hari di Kuybeli.

Temukan minat Anda, bersamaPromo pilihan, ulasan jujur, dan cerita belanja dari mereka yang seminat dengan Anda — setiap hari di Kuybeli.

Mengapa Generasi Muda Memilih Thrifting untuk Gaya Sehari-hari

Mengapa Generasi Muda Memilih Thrifting untuk Gaya Sehari-hari
Minat|Busana Kasual

Thrifting: Dari Pakaian Bekas Jadi Bahasa Gaya Baru

Tren thrifting pakaian bekas adalah kebiasaan membeli dan memadupadankan pakaian bekas berkualitas—sering kali impor dan bermerek—untuk menciptakan gaya pribadi yang unik, hemat, serta lebih ramah lingkungan dibanding terus membeli pakaian baru dari lini produksi massal yang memperbesar limbah tekstil.

Di mata generasi muda, terutama Gen Z, thrifting bukan lagi “plan B” ketika uang menipis, melainkan gaya hidup yang sadar harga dan sadar bumi. Aktivitas berburu pakaian bekas berkualitas kini semakin diminati, karena memberikan ruang berekspresi tanpa terikat katalog brand arus utama. Mereka tidak malu memakai label “secondhand”; sebaliknya, ada kebanggaan saat menemukan pakaian langka dengan harga rendah, sekaligus merasa berkontribusi mengurangi limbah tekstil yang membebani lingkungan. Kombinasi nilai ekonomi dan nilai lingkungan ini menjadikan thrifting lebih dekat pada gerakan sosial ketimbang sekadar cara belanja murah.

Mengapa Generasi Muda Memilih Thrifting untuk Gaya Sehari-hari

Media Sosial, Downgrade Style, dan Pesona Fashion Terjangkau Gen Z

Jika dulu pakaian bekas identik dengan pilihan terpaksa, kini ia tampil sebagai konten unggulan di lini masa. Anak muda bangga memamerkan hasil buruan pakaian bekas mereka di media sosial, saling berbagi lokasi lapak dan tips memilih pakaian bekas berkualitas. Toko thrift, lapak offline, hingga penjualan lewat live streaming menjadi panggung baru bagi tren thrifting pakaian bekas.

Dalam iklim ekonomi yang serba hati-hati, muncul downgrade style trend: kebiasaan menurunkan biaya berpakaian tanpa menurunkan selera. Bukan lagi soal siapa yang memakai barang paling mahal, melainkan bagaimana seseorang tetap bisa terlihat menarik dengan pilihan yang lebih masuk akal. Tas mahal diganti produk lokal lebih sederhana, satu celana dipakai berulang dengan atasan berbeda, blazer formal dipadukan kaus dan sneakers. Di sinilah thrifting menyatu dengan fashion terjangkau Gen Z: tampil keren tanpa memuja harga.

Mengapa Generasi Muda Memilih Thrifting untuk Gaya Sehari-hari

Murah, Unik, dan Jadi Bisnis: Sisi Ekonomi Thrifting

Daya tarik utama thrifting sederhana: murah dan unik. Kaus atau kemeja bermerek bisa ditemukan mulai kisaran Rp10.000 hingga Rp100.000, sementara sebagian produk baru buatan industri lokal berada di kisaran Rp100.000 hingga Rp500.000. Dengan selisih sebesar ini, tidak heran pakaian bekas impor punya pasar fanatik di kalangan pemburu fashion terjangkau Gen Z.

Thrifting juga melahirkan ekosistem usaha baru. Modal sekitar Rp4 juta–Rp6 juta untuk satu bal pakaian impor dapat berbuah omzet harian hingga sekitar Rp5 juta di pameran, dan lewat live streaming omzet mingguan hingga bulanan disebut bisa mencapai Rp30 juta–Rp35 juta. Pakaian vintage dengan harga ratusan ribu hingga sekitar Rp1 juta pun tetap punya peminat. Fenomena ini menunjukkan thrifting bukan hanya hobi hemat, tetapi jalur mobilitas ekonomi bagi pedagang kecil dan pelaku bisnis thrift.

Dampak Thrifting pada Tekstil Lokal: Antara Tekanan dan Peluang Berubah

Di balik euforia pakaian bekas berkualitas, ada catatan serius: dampak thrifting tekstil lokal tidak bisa diabaikan. Meningkatnya peredaran baju impor bekas berhadapan langsung dengan kepentingan industri tekstil dan produk tekstil dalam negeri yang tengah tertekan. Data yang dikaitkan dengan Asosiasi Pertekstilan Indonesia menyebut produksi tekstil dalam negeri turun hingga 15 persen pada 2023. Ketika produk lokal harus bersaing dengan pakaian bekas yang dijual murah, ruang gerak industri dalam negeri menjadi semakin terbatas.

Masalah diperparah oleh masuknya pakaian impor ilegal yang nilainya diperkirakan mencapai sekitar Rp5 triliun setiap tahun. Penindakan pun dilakukan, antara lain pemusnahan 537 bal pakaian bekas ilegal di satu wilayah, serta 824 bundel lain dengan nilai sekitar Rp10 miliar di wilayah lain. Kebijakan ini melindungi industri, tetapi sekaligus memukul pedagang kecil yang mengaku penjualannya turun 10–15 persen dan kesulitan mengelola stok. Thrifting memaksa kita mengakui: tidak ada pilihan yang sepenuhnya tanpa konsekuensi.

Thrifting sebagai Gerakan Sosial: Bagaimana Seharusnya Kita Menyikapinya?

Thrifting tumbuh karena menawarkan paket lengkap: harga bersahabat, gaya personal, dan klaim ramah lingkungan. Tren ini ramah di kantong sekaligus mendukung gerakan menjaga lingkungan hidup secara nyata, dengan mengurangi tekanan limbah tekstil. Kesadaran akan dampak limbah tekstil terhadap bumi menjadi alasan utama tren ini berkembang di kalangan generasi muda.

Namun menjadikannya gerakan sosial berarti berani melihat sisi gelapnya. Pakaian bekas impor yang murah dan unik melemahkan daya saing produk lokal, di tengah mesin produksi yang menua dan beban finansial tinggi di banyak perusahaan tekstil. Menurut data yang dikaitkan dengan Badan Pusat Statistik, nilai masuk pakaian impor ilegal dapat mencapai sekitar Rp5 triliun per tahun—angka yang menggambarkan skala persoalan struktural. Jalan tengahnya bukan menolak thrifting, melainkan mendorong konsumsi lebih bertanggung jawab: mendukung penjual yang patuh aturan, memberi ruang bagi brand lokal yang etis, dan memilih membeli seperlunya. Downgrade style seharusnya tidak sekadar soal harga pakaian, tetapi juga peningkatan kualitas pilihan kita sebagai konsumen.

Kuybeli memperoleh komisi saat Anda berbelanja melalui tautan kami, tanpa biaya tambahan untuk Anda.

You May Also Like

Comments
Tulis sesuatu...
Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berbagi pendapat!