Temukan minat Anda, bersama

Promo pilihan, ulasan jujur, dan cerita belanja dari mereka yang seminat dengan Anda — setiap hari di Kuybeli.

Temukan minat Anda, bersamaPromo pilihan, ulasan jujur, dan cerita belanja dari mereka yang seminat dengan Anda — setiap hari di Kuybeli.

Dari Duovertime ke Worker Miriam: Soundtrack Kehidupan Kerja Modern

Dari Duovertime ke Worker Miriam: Soundtrack Kehidupan Kerja Modern
Minat|Menyanyi

Musik sebagai cermin kerasnya hidup kerja

Musik bertema kerja modern adalah gelombang baru lagu kehidupan kerja yang memakai bahasa jujur, humor pahit, dan emosi mellow untuk menangkap tekanan, kelelahan, dan kerentanan para pekerja yang selama ini hanya menggerutu di chat kantor, menjadikannya bukan sekadar hiburan, tetapi soundtrack harian lembur, slip gaji tipis, dan relasi personal yang ikut tergerus ritme kerja. Di sini, dua rilisan terbaru dari musisi indie Indonesia memperlihatkan bagaimana single debut Indonesia dan band alternative rock emo mulai berfokus pada narasi pekerja modern, dari keluhan job desc sampai rasa ingin berdamai dengan diri sendiri.

Duovertime: ketika konten kantor berubah jadi anthem pekerja modern

Duovertime mengubah keresahan timeline kerja menjadi anthem pekerja modern lewat single debut “Ga Pernah End” yang dirilis 25 September 2026. Ini adalah lagu kehidupan kerja yang menolak meromantisasi kantor: “job desc mayoritas, gajinya minoritas” sampai lembur tak dibayar dan gaji yang “baru dateng udah langsung pergi” disulap jadi hook yang menempel di kepala. Rilisan ini lahir bukan dari sesi penulisan serius, melainkan dari konten sehari-hari mereka yang sudah akrab bagi jutaan pekerja dan kemudian diolah jadi lagu. Devan menyebutnya sebagai debut yang “diolah dari konten kami sehari-hari” sementara Ibong menegaskan niatnya: “Lagu ini hadir untuk mengajak kita para pekerja bisa lebih berdamai, dan kamu gak sendirian”. Hasilnya, sebuah anthem yang tidak menawarkan solusi, tetapi menawarkan rasa kebersamaan yang selama ini hilang di balik “Siap Pak, noted” dan KPI yang tak masuk akal.

Worker Miriam: alternative rock/emo yang mengendur, emosi tetap tajam

Di sisi lain spektrum, band alternative rock/emo asal Surabaya, Worker Miriam, memilih jalur yang lebih tenang lewat single ketiga “Timeless” yang dirilis 19 September 2026. Berbeda dari dua rilisan sebelumnya yang penuh distorsi dan ledakan emosi, mereka menggeser fokus ke melodi, suasana, dan cerita personal namun tetap dalam karakter alternative rock emo yang sudah jadi identitas. Menariknya, lagu ini lahir dari jamming gitar yang tampak sepele: Fais menggenjreng “ngasal” di tongkrongan, Rizuma menangkap tiga–empat nada yang terasa indah, lalu pola gitar itu direkam, dikembangkan jadi melodi vokal, sebelum lirik ditulis sebagai tahap akhir. Secara personal, “Timeless” berangkat dari perasaan terhadap pasangan, tapi Rizuma menegaskan maknanya bebas ditafsir pendengar. Di tengah ritme kerja yang berisik, pendekatan mellow ini terasa seperti ruang napas; bukan teriakan di depan HR, melainkan monolog pelan ketika pulang terlalu larut.

Dari Duovertime ke Worker Miriam: Soundtrack Kehidupan Kerja Modern

Narasi pekerja dan evolusi sound musisi indie

Yang membuat Duovertime dan Worker Miriam penting bukan hanya cerita masing-masing, tetapi tren yang mereka wakili. Duovertime memotret struktur kerja yang timpang, dari job desc tak ada habisnya sampai lembur yang “gak dikasih upah, dapetnya makasih yah”, lalu mengemasnya jadi lagu kehidupan kerja yang terasa seperti obrolan di pantry kantor. Worker Miriam di sisi lain fokus pada dimensi emosional yang lebih halus—relasi dengan pasangan, lelah batin, dan kebebasan interpretasi—yang mudah ditempelkan ke pengalaman pekerja modern yang identitas pribadinya kerap larut dalam jam kerja. Keduanya adalah musisi indie Indonesia yang menggunakan bahasa sehari-hari dan aransemen alternatif untuk menyentuh audiens dari berbagai latar belakang, dari pegawai kantoran sampai pekerja kreatif. Ini bukan musik eskapis; ini musik yang menatap tepat ke arah struktur kerja dan dampaknya pada kesehatan mental, lalu berkata pelan: “kami juga di sini.”

Dari Duovertime ke Worker Miriam: Soundtrack Kehidupan Kerja Modern

Menuju EP dan masa depan soundtrack ruang kerja

Perkembangan ini bukan berhenti di satu lagu. “Timeless” diproyeksikan menjadi bagian dari EP Worker Miriam yang sedang disiapkan dan ditargetkan rampung akhir 2026. Dengan tiga rilisan yang sudah hadir, mereka perlahan membangun gambaran musikal yang tidak tunggal: dari keras dan emosional, menuju warna mellow yang memberi ruang kontemplasi. Duovertime, dengan “Ga Pernah End”, membuka pintu bagi lebih banyak single yang berangkat dari realita pekerja—konten keseharian yang sudah hidup bahkan sebelum masuk studio. Jika tren ini berlanjut, anthem pekerja modern tak lagi datang dari jingle motivasi atasan, melainkan dari musisi indie yang berani berkata bahwa karier bisa buntu meski “kerja melulu”, dan bahwa sah merasa letih tanpa harus pura-pura kuat. Pada akhirnya, kehadiran lagu-lagu seperti ini membuat ruang kerja tak hanya punya SOP dan KPI, tetapi juga soundtrack yang mengakui luka dan kelelahan di baliknya.

Kuybeli memperoleh komisi saat Anda berbelanja melalui tautan kami, tanpa biaya tambahan untuk Anda.

You May Also Like

Comments
Tulis sesuatu...
Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berbagi pendapat!