Proyeksi BI: Pertumbuhan Ekonomi Sumatra Utara Naik dengan Mesin Baru
Pertumbuhan ekonomi Sumatra Utara adalah peningkatan nilai produksi barang dan jasa di provinsi ini yang tercermin pada naiknya aktivitas industri, perdagangan, pariwisata, dan konsumsi rumah tangga sebagai hasil dari kebijakan fiskal, iklim investasi, serta stabilitas harga yang dikelola oleh pemerintah daerah dan otoritas moneter secara terarah. Kepala Perwakilan Bank Indonesia Sumatra Utara, Ameriza Ma’ruf Moesa, menegaskan bahwa pertumbuhan ekonomi di daerah ini akan semakin baik pada 2026, dengan laju yang diproyeksikan lebih tinggi dibanding tahun sebelumnya. Pernyataan ini disampaikan dalam forum Bincang Bincang Media di Medan pada 7 Agustus 2026, sekaligus menandai sikap optimistis BI terhadap arah perekonomian daerah di tengah berbagai tekanan global yang masih berlangsung.
Event Nasional, Wisata, dan Posisi Strategis: Bahan Bakar Pertumbuhan
Optimisme BI bukan tanpa alasan: Sumatra Utara disebut sebagai daerah strategis dan potensial, dengan kombinasi bandara internasional, destinasi wisata berskala nasional, dan peran tuan rumah berbagai event besar. Menurut Ameriza, banyaknya event nasional, termasuk kegiatan olahraga seperti event sepak bola, telah mendorong perputaran ekonomi karena berbagai bidang usaha mengalami peningkatan pendapatan. Ia menegaskan bahwa wisata di Sumut tidak kalah dengan Bali, dan lonjakan jumlah wisatawan pada 2026 menjadi salah satu pendorong utama pertumbuhan ekonomi yang lebih baik dibanding 2025. Secara praktis, hotel, restoran, transportasi, UMKM, hingga sektor kreatif menikmati efek berantai dari agenda-agenda ini. Jika kota Medan dan daerah lain di Sumut terus agresif menjadi tuan rumah, kawasan ini berpeluang mengunci posisi sebagai pusat kegiatan bisnis dan pariwisata di kawasan barat.
Investasi Fiskal Daerah 2026: Jalan Menuju Kemandirian dan Akselerasi
Meski prospeknya cerah, BI mengingatkan bahwa pertumbuhan ekonomi Sumatra Utara di semester kedua 2026 masih akan menghadapi sejumlah tantangan, terutama melemahnya kapasitas fiskal daerah. Kapasitas fiskal yang menurun berarti kemampuan pemerintah daerah membiayai program pembangunan dan layanan publik ikut tertekan. Di saat bersamaan, ketidakstabilan geopolitik mendorong kenaikan harga komoditas seperti minyak dunia, batubara, dan emas, yang berpotensi menambah beban biaya dan inflasi. BI memposisikan investasi sebagai kunci kemandirian fiskal: sejak tahun lalu, kantor perwakilan Sumatra Utara bekerja sama dengan pemerintah provinsi untuk menarik investasi yang diyakini menjadi kunci dalam mendorong pertumbuhan ekonomi dan memperkuat pendapatan daerah. Pernyataan pentingnya tercermin pada kutipan: “sejak tahun lalu Bank Indonesia Kantor Perwakilan Sumatra Utara sudah bekerja sama dengan Pemerintah Provinsi Sumatra Utara ... terkait upaya menarik investasi yang diyakini menjadi kunci kemandirian fiskal”.
Mencari Motor Pertumbuhan Baru: Hilirasi, Pariwisata, Pertanian, dan MICE
Ameriza menyatakan perlunya mencari motor pertumbuhan ekonomi baru: hilirisasi industri, pariwisata, dan pertanian, sementara khusus Medan diarahkan menjadi pusat MICE (Meeting, Incentive, Conference, Exhibition). Ini mencerminkan pergeseran strategi dari sekadar bergantung pada komoditas mentah menuju struktur ekonomi yang lebih bernilai tambah dan berbasis jasa. BI dan pemda juga menaruh perhatian pada komposisi investasi: Deputi Direktur Divisi Implementasi KEKDA, Edy Kristianto, menilai bahwa investasi besar di sektor manufaktur dan hilirisasi harus berjalan beriringan dengan investasi berskala kecil dan menengah agar inklusivitas tetap terjaga. Abdul Khalim menambahkan, investasi skala kecil dan menengah dibutuhkan karena menyerap banyak tenaga kerja, dan saat ini banyak arus modal masuk ke kawasan industri seperti Sei Mangkei dan Kawasan Industri Medan, yang sedang didorong untuk lebih ramah bagi investor kecil dan menengah.
Menjaga Inflasi dan Menegaskan Agenda Investasi
Proyeksi pertumbuhan yang lebih tinggi tidak akan berkelanjutan tanpa pengendalian inflasi. Ameriza mencatat, inflasi Sumatra Utara pada Desember 2025 tercatat 4,66 persen secara tahunan, dan BI bersama seluruh pemangku kepentingan berupaya menjadikan capaian tahun ini lebih baik. Ia menekankan pentingnya kerja bersama seluruh stakeholder untuk menekan inflasi, karena harga yang stabil memberi kepastian bagi dunia usaha dan investasi. Di sisi lain, BI melihat potensi masuknya investasi dari Danantara yang mengarah ke sektor manufaktur dan hilirisasi, dengan harapan mampu mendorong pertumbuhan yang lebih kuat dan manfaat yang lebih luas bagi masyarakat. Intinya, pertumbuhan ekonomi Sumatra Utara yang lebih cepat bukan hadiah, melainkan hasil dari dua agenda yang harus konsisten: memperkuat investasi fiskal daerah 2026 dan menjaga inflasi tetap terkendali agar iklim usaha tetap sehat.






