Gula Tersembunyi di Segelas Minuman Manis
Gula dalam minuman adalah jumlah gula tambahan yang terdapat pada minuman seperti es teh manis, artisan milk tea, kopi susu kekinian, dan minuman berpemanis lain, yang diam-diam menyumbang kalori tinggi dan berpotensi memenuhi atau bahkan melebihi batas asupan gula harian bila dikonsumsi secara rutin tanpa perhitungan sadar. Kebiasaan kita makan di luar nyaris selalu ditemani minuman manis; tidak lengkap rasanya menyantap makanan tanpa es teh atau minuman kekinian yang manis menyegarkan. Masalahnya, sebagian besar orang lebih fokus pada apakah makanan berminyak atau berlemak, lalu lupa menghitung berapa banyak gula yang mereka minum.
Praktik “jajan” sambil memesan es teh, minuman kekinian, sampai minuman dengan tambahan gula sudah menjadi pilihan utama banyak orang ketika membeli makanan. Ini bukan sekadar soal selera, tapi juga soal kebiasaan yang lama-lama terasa normal. Padahal, setiap teguk minuman manis berarti tambahan kalori dan gula yang mungkin tidak pernah kita masukkan ke dalam hitungan harian. Sikap abai inilah yang membuat banyak orang bertambah gemuk dan berisiko mengalami masalah kesehatan, tanpa sadar bahwa sumber masalahnya bukan hanya dari piring, tetapi juga dari gelas.
Segelas Milk Tea: 70–100% Jatah Gula Harian
Di tengah tren minuman kekinian, artisan milk tea tampil sebagai “bintang” dengan beragam rasa, warna, dan topping yang menggoda. Namun di balik tampilan cantik itu, ada fakta pahit: satu porsi artisan milk tea diperkirakan dapat menyumbang sekitar 70–100 persen dari batas konsumsi gula harian. Batas gula harian yang direkomendasikan adalah maksimal 50 gram atau sekitar empat sendok makan per orang per hari. Artinya, satu gelas milk tea saja bisa menghabiskan hampir seluruh jatah gula harian Anda—sebelum Anda makan nasi, camilan, atau dessert apa pun.
Yang sering terlupakan, milk tea bukan satu-satunya sumber gula dalam sehari; setelah meminumnya, seseorang masih mungkin mengonsumsi nasi dengan lauk, camilan, dessert, dan minuman kemasan lain yang juga mengandung gula. Selain pemanis utama, ada krimer olahan dan pemanis tambahan yang ikut menaikkan milk tea kalori secara signifikan. Begitu ditambah boba, cheese foam, dan puding, minuman yang awalnya hanya teh dan susu berubah menjadi bom kalori dalam satu gelas. Jika Anda rutin meminum kombinasi tinggi gula dan tinggi kalori ini, jangan kaget bila berat badan naik pelan-pelan, disertai risiko kesehatan yang ikut menumpuk.
Bahaya Kebiasaan Es Teh Manis dan Minuman Kekinian
Es teh manis sering dianggap minuman paling aman saat jajan: murah, segar, dan terasa ringan. Padahal, kebiasaan minum teh manis atau minuman tinggi gula secara terus-menerus dapat membuat asupan gula menjadi berlebihan. Selain meningkatkan asupan gula, minuman manis juga dapat menambah kalori; jika jumlah kalori yang masuk melebihi kebutuhan tubuh dan terjadi terus-menerus, kelebihan energi akan disimpan sebagai lemak. Di sinilah es teh manis bahaya—bukan karena sekali minum, tetapi karena menjadi pilihan “default” hampir setiap kali makan di luar.
Dokter Dyah Ayu Wulandari mengingatkan bahwa masyarakat kerap merasa sudah mengurangi makanan berminyak, namun tetap mengonsumsi minuman manis terus-menerus. Sementara itu, dalam artisan milk tea, masalah tidak berhenti pada gula; krimer olahan dan pemanis tambahan memperparah komposisi minuman tersebut. Kafein dari teh yang pekat pun dapat memicu kecemasan, jantung berdebar, gangguan tidur, dan masalah pencernaan pada orang yang sensitif. Jika tren minuman manis ini terus dianggap wajar, kita sedang menormalisasi pola hidup yang pelan-pelan mengganggu kesehatan jangka panjang.
Belajar Lebih Kritis: Membaca Gelas, Bukan Hanya Menu
Sudah saatnya konsumen berhenti bersikap pasif terhadap gula dalam minuman. Selama ini, kita terbiasa menawar porsi nasi atau memilih lauk yang lebih sehat, tetapi jarang sekali bertanya: berapa sendok makan gula di gelas ini? Ketika dokter perlu mengingatkan bahwa minuman juga harus menjadi bagian dari pertimbangan saat memilih menu, itu tanda bahwa kesadaran kita masih tertinggal. Mengabaikan sisi minuman berarti membiarkan celah besar dalam pola makan, tempat kalori dan gula berlebih masuk tanpa disadari.
Kandungan gula dalam artisan milk tea berbeda-beda, bergantung pada ukuran gelas, resep, tingkat kemanisan, susu atau krimer yang digunakan, hingga tambahan topping. Fakta ini seharusnya membuat kita lebih kritis, bukan cuek. Alih-alih menganggap semua milk tea sama, Anda perlu menyadari bahwa setiap pilihan sugar level dan topping adalah keputusan nutrisi, bukan sekadar gaya. Dalam jangka panjang, sikap kritis terhadap minuman manis akan jauh lebih berpengaruh dibanding sekadar “diet makanan” tanpa menyentuh apa yang ada di gelas.
Strategi Bijak Memesan Minuman Manis
Jika Anda tidak siap meninggalkan minuman manis sepenuhnya, setidaknya minumlah dengan strategi yang lebih bijak. Pertama, perlakukan batas 50 gram gula per hari sebagai “anggaran” yang harus Anda bagi sepanjang hari, bukan dihabiskan dalam satu gelas. Kedua, batasi sugar level saat memesan: pilih opsi gula lebih rendah, atau minta pengurangan takaran gula daripada mengikuti standar kedai yang biasanya sangat manis. Ketiga, pikir dua kali sebelum menambah topping; ingat bahwa boba, cheese foam, dan puding menambah kalori dalam satu gelas dan mengubah minuman Anda jadi sajian energi tinggi.
Selain gula, awasi juga frekuensi dan konteks konsumsi. Jangan biarkan milk tea kalori tinggi menjadi kebiasaan harian yang menemani setiap aktivitas, dari kerja hingga nonton. Seimbangkan dengan lebih sering minum air putih dan pilih minuman yang gula dalam minuman-nya lebih rendah di kesempatan lain. Mengurangi satu gelas manis per hari mungkin terasa kecil, tetapi dampaknya besar untuk berat badan, kadar energi, dan kesehatan Anda beberapa tahun ke depan. Pada akhirnya, minuman manis seharusnya menjadi “treat” sesekali, bukan bahan bakar harian.






