Apa Artinya Internet 2 Gbps dengan Wi-Fi 7 bagi Rumah Tangga
Internet 2 Gbps berbasis Wi-Fi 7 adalah layanan fixed broadband rumah yang memadukan jaringan fiber berkecepatan gigabit dengan standar Wi-Fi generasi terbaru, sehingga perangkat di rumah dapat menikmati koneksi nirkabel jauh lebih cepat, stabil, dan efisien untuk aktivitas berat seperti streaming, gaming, serta kerja jarak jauh secara bersamaan tanpa mudah mengalami penurunan performa koneksi. PT Solusi Sinergi Digital Tbk (WIFI) atau Surge merilis layanan internet rumah Surge Starlite Super dengan kecepatan hingga 2 gigabit per detik (Gbps) atau 2.000 megabit per detik (Mbps), dan menjadikannya sebagai produk fixed broadband berbasis Wi-Fi 7 pertama yang ditawarkan ke pasar rumah tangga dengan tarif Rp 250.000 per bulan.
Harga Rp 250.000: Mengguncang Peta Layanan Internet Terjangkau
Keberanian Surge menempatkan harga Surge Starlite Super di Rp 250.000 per bulan untuk internet 2 Gbps adalah sinyal jelas bahwa perang harga dan kualitas di pasar layanan internet terjangkau memasuki babak baru. Dengan banderol tersebut, konsumen rumah tangga yang sebelumnya harus puas di kisaran 20–100 Mbps kini secara teoritis bisa melompat ke level gigabit tanpa lonjakan tagihan yang ekstrem. Pernyataan Shannedy Ong, “Melalui Starlite Super, kami ingin membawa pengalaman internet kelas dunia dengan kecepatan hingga 2.000 Mbps ke rumah-rumah dengan harga yang tetap terjangkau,” mempertegas ambisi mendorong standar baru di segmen fixed broadband. Di sisi lain, kehadiran layanan IRA-Internet Rakyat, internet rumah unlimited hingga 100 Mbps dengan tarif mulai Rp 100.000 per bulan, menutup celah kelas bawah dan menjadikan portofolio Surge tampak menyasar spektrum pengeluaran yang lebih luas.
Wi-Fi 7: Bukan Sekadar Angka Kecepatan di Atas Kertas
Label Wi-Fi 7 Indonesia di Starlite Super bukan sekadar gimmick teknis; ia adalah pernyataan bahwa standar koneksi nirkabel di rumah perlu naik kelas. Wi-Fi 7 dirancang untuk menangani lebih banyak perangkat secara bersamaan, latensi lebih rendah, dan efisiensi spektrum yang lebih baik dibanding generasi sebelumnya, sehingga sangat relevan untuk keluarga yang hidup dari streaming 4K, meeting video, dan gaming online di banyak perangkat sekaligus. Surge menegaskan bahwa mitra teknologi mereka menghadirkan solusi yang memungkinkan implementasi layanan Wi-Fi 7 dengan kecepatan hingga 2.000 Mbps, memadukan jaringan Fiber-to-the-Home (FTTH) berbasis XGS-PON dengan backbone serat optik lebih dari 8.000 kilometer di koridor perkeretaapian nasional. Diklaim bahwa langkah ini menempatkan negara sebagai salah satu yang terdepan di kawasan Asia-Pasifik dalam penerapan teknologi Wi-Fi 7 untuk masyarakat.
Strategi Gigacity: Infrastruktur, Mitra, dan Akses Lebih Luas
Di balik Surge Starlite Super, ada strategi yang lebih besar: membangun fondasi era “Gigacity” melalui integrasi infrastruktur dan kolaborasi lintas perusahaan. Surge mengandalkan PT Integrasi Jaringan Ekosistem (Weave) sebagai pengembang dan operator jaringan FTTH Starlite, dengan NTT East melalui NTT eASIA memegang 49% kepemilikan di Weave, sementara Huawei mendukung implementasi teknologi XGS-PON dan Wi-Fi 7. Kombinasi internet 2 Gbps berbasis fiber dan layanan 5G Fixed Wireless Access IRA-Internet Rakyat hingga 100 Mbps dengan tarif mulai Rp 100.000 ditargetkan memperluas penetrasi fixed broadband, dari segmen nirkabel yang paling hemat hingga fiber berkecepatan gigabit. Menariknya, biaya layanan IRA diperkirakan hanya sekitar 1,4% dari GNI per kapita bulanan, jauh di bawah ambang keterjangkauan 2% versi UN Broadband Commission dan rata-rata biaya layanan fixed broadband pemula sekitar 4,8% dari GNI per kapita bulanan.
Dampak Bagi Pengguna dan Tantangan Ke Depan
Bagi pengguna, janji utama Starlite Super adalah pengalaman internet rumah yang terasa “berlimpah”: streaming multi-layar tanpa buffering, gaming online dengan latensi minim, serta ruang lebih lega untuk kerja jarak jauh dan pembelajaran digital di satu jaringan. Ini sejalan dengan tujuan mempercepat adopsi internet berkecepatan gigabit sekaligus memperluas penetrasi fixed broadband, yang diharapkan mendorong transformasi digital lebih merata. Namun, ada beberapa tantangan tak bisa diabaikan: ketersediaan perangkat yang sudah mendukung Wi-Fi 7, persebaran jaringan FTTH di luar kota besar, dan konsistensi kualitas layanan akan menentukan apakah internet 2 Gbps benar-benar terasa di ruang keluarga atau hanya di brosur penjualan. Pengakuan global berupa World Broadband Association Gigacity Champion Award menunjukkan arah yang menjanjikan, tetapi konsumen akan menilai langsung apakah klaim layanan internet terjangkau dengan kecepatan gigabit ini memang sepadan dengan harapan dan kebutuhan sehari-hari.





