Wastra Tradisional Indonesia Memasuki Ruang Mode Baru
Wastra tradisional Indonesia adalah kain yang memuat identitas, pengetahuan, dan ritual komunitas, yang ditenun secara turun-temurun dan kini diolah ulang oleh desainer lokal berkelanjutan menjadi koleksi kontemporer wastra untuk menjembatani warisan leluhur dengan gaya hidup masa kini. Gelombang terbaru menguatkan gagasan bahwa mode bukan sekadar tren, melainkan medium politik budaya: siapa yang mengambil alih narasi, siapa yang mendapatkan manfaat ekonomi, dan bagaimana pengetahuan lokal diperlakukan. Dari Sumba Timur sampai kawasan Batak, kain-kain yang dulu hanya muncul di ritual adat mulai tampil sebagai gaun malam, vest modern, hingga potongan eksperimental. Pertanyaannya bukan lagi apakah wastra tradisional layak masuk panggung mode, tetapi bagaimana mode dapat mengabdi pada kain, bukan sebaliknya.
UMARATU: Rumah Budaya yang Menenun Kembali Marwah Sumba Timur
Langkah Asha Smara Darra melansir UMARATU Foundation sebagai rumah budaya yang memelihara sandang, pangan, dan papan tradisional Sumba Timur menandai pergeseran penting: pelestarian diangkat setara dengan inovasi mode. Dirilis dalam diskusi dan gelaran budaya di The Dharmawangsa pada Hari Tenun Nasional, 3 September 2026, yayasan di bawah naungan Oscar Lawalata Culture ini bukan proyek romantik budaya semata, melainkan kerangka kerja konkret untuk arsip motif, riset pangan, dan rekayasa arsitektur bambu modern. UMARATU mengangkat tiga pilar budaya dengan program komprehensif yang dirancang empiris dan memberdayakan masyarakat sekitar, menunjukkan bahwa wastra tradisional Indonesia hanya bisa hidup jika ekosistem sosialnya ikut dirawat.
Melalui pameran dan trunk show “Narasi Kain Tenun Dari Kampung Raja”, kain-kain eksklusif dari Prailiu, Pau, Rende, Kanatang, dan Kaliuda tampil bukan sebagai dekorasi, melainkan narasi yang mengafirmasi martabat penenun. Uka dan Mama Rambu Margaretha, keturunan Kerajaan Rende, bekerja dengan Asha untuk mengembangkan corak tenun modern tanpa melanggar pakem penting, memperlihatkan bahwa inovasi bisa taat adat sekaligus relevan pasar. Di sini, desainer lokal berkelanjutan tidak mengambil peran pusat panggung, melainkan berdiri sebagai fasilitator yang memastikan suara kampung adat terdengar. Model dibalut tenun dan perhiasan mamuli sakral, diiringi sastra oral Maestro Jungga, Mama Ata Ratu, menjadikan catwalk sebagai ruang ritual, bukan sekadar hiburan.

Peggy Hartanto x Tobatenun: Tenun Batak Modern dalam ‘Sang Penari’
Jika UMARATU menguatkan akar di Sumba Timur, kolaborasi Peggy Hartanto dengan Tobatenun memperlihatkan bagaimana tenun Batak modern bisa merebut ruang mode urban. Dalam perhelatan intim Tullom di Jakarta, 9 September 2026, Peggy untuk pertama kalinya berkreasi dengan wastra, memperkenalkan koleksi Tenun Batak yang menjadi salah satu sorotan utama. Pertemuan awal di panggung Karya Kreatif Indonesia yang digagas Bank Indonesia memantik dialog kreatif yang melahirkan koleksi ‘Sang Penari’, menawarkan cara pandang baru terhadap kain tradisional Batak.
Peggy secara tegas menolak pendekatan kosmetik terhadap wastra. Tenun bukan ditempelkan sebagai aksen eksotis, tetapi diolah melalui permainan bentuk, potongan presisi, dan karakter feminin khas bahasanya sendiri. Tenun ATBM diubah menjadi busana kontemporer, sementara Tenun Batak Gedogan yang sarat sejarah mendapat interpretasi baru tanpa kehilangan identitasnya. Salah satu karya yang mencuri perhatian adalah apron vest dari Ulos Sadum, kain simbol harapan dan kebahagiaan, yang diterjemahkan ke dalam bentuk baru dengan tepian membulat, menghasilkan siluet segar dan jenaka tanpa mengorbankan makna simbolis kain itu. "Dengan lebih dari 300 perajin di berbagai wilayah Sumatera Utara, Tobatenun juga menjalankan prinsip fair trade" menjadi fondasi etis koleksi ini.

Mode Kontemporer sebagai Mesin Pemberdayaan Komunitas
Dua inisiatif ini mengirim pesan tegas: masa depan wastra tradisional Indonesia terletak pada kemampuan desainer mengintegrasikan warisan budaya ke dalam fashion kontemporer, sekaligus membuka peluang bisnis yang adil. UMARATU merancang program sandang, pangan, dan papan yang bukan hanya mengarsipkan pengetahuan, tetapi memberdayakan masyarakat sekitar sebagai subjek, bukan objek wisata budaya. Penelitian pangan lokal, pembangunan rumah bambu dengan teknologi modern, dan penguatan penenun kampung menjadi bukti bahwa pelestarian bisa berwujud mata pencaharian yang bermartabat.
Di sisi lain, Tobatenun sejak 2018 membawa misi melestarikan dan merevitalisasi kain tradisional Batak lewat pemberdayaan komunitas dan pengembangan produk untuk pasar mode kontemporer. Dengan lebih dari 300 perajin di Sumatera Utara dan prinsip fair trade sebagai standar, kolaborasi seperti ‘Sang Penari’ bukan sekadar kampanye visual, tetapi saluran nyata bagi tenun Batak modern menembus audiens global tanpa memutus keterikatan dengan kampung asal. Eksplorasi Peggy menunjukkan bagaimana wastra dapat bergerak melampaui konteks tradisional: konstruksi dan proporsi modern menghadirkan perspektif baru bagi pencinta mode, sementara akar simbolik kain tetap terjaga.

Dari Trunk Show ke Ekosistem: Menata Ulang Narasi Wastra
Pada akhirnya, baik UMARATU maupun Tullom memperlihatkan bahwa panggung mode hanya bagian kecil dari agenda yang lebih besar: merebut kembali narasi wastra dan menata ekosistem di sekelilingnya. Trunk show Oscar Lawalata Culture yang menyaripatikan dedikasi 25 tahun terhadap wastra, lengkap dengan helai tenun bercorak pakem dan alunan sastra oral, mengubah pertunjukan fesyen menjadi pengalaman spiritual yang memulihkan relasi kain–pencipta–penikmat. Sementara itu, Tullom—yang dalam bahasa Batak Toba berarti “terus”—merangkum semangat untuk terus bergerak, berkembang, dan membuka kemungkinan baru bagi Tenun Batak, melalui koleksi ulang tahun ke-8 dan berbagai kolaborasi lintas desainer.
Kita patut kritis: mode kontemporer yang memanfaatkan wastra tanpa fondasi budaya dan skema pemberdayaan hanya melanjutkan pola ekstraktif. Namun UMARATU dan Tobatenun memberi contoh bahwa desainer lokal berkelanjutan bisa merancang model lain: mengarsipkan pengetahuan, mengedukasi pekerja lokal, mengangkat bahan seperti bambu dari stigma “kandang” menjadi arsitektur rumah budaya, hingga meracik ulang pangan lokal dalam jamuan yang mengafirmasi kemakmuran tangan hijau Sumba. Lewat kolaborasi Peggy Hartanto dan Tobatenun, Tenun Batak kembali menunjukkan bahwa warisan tradisi bisa terus berkembang tanpa kehilangan akar. Masa depan wastra tradisional bukan di museum, melainkan di lemari dan di kehidupan harian—selama kain dan komunitas penciptanya tetap menjadi pusat cerita.







