Down Syndrome Bukan Penyakit, Namun Sering Dijadikan Target Perundungan
Perundungan anak berkebutuhan khusus adalah bentuk kekerasan peer anak yang menyasar anak dengan disabilitas atau perbedaan perkembangan, termasuk Down syndrome, melalui tindakan verbal, fisik, sosial, dan psikologis yang berulang dan menimbulkan luka emosional maupun fisik. Down syndrome sendiri bukan penyakit, melainkan kondisi genetik ketika bayi lahir dengan salinan tambahan kromosom 21 yang mengubah cara otak dan tubuh berkembang. Fakta ini penting ditegaskan karena banyak orang dewasa dan anak sebaya masih memandang Down syndrome sebagai “cacat” yang boleh dijadikan bahan ejekan. Sikap keliru inilah yang membuka pintu bagi perundungan anak berkebutuhan khusus di rumah, sekolah, dan lingkungan. Jika kita tetap membiarkan mitos bahwa mereka “selalu sakit” atau “tidak bisa apa-apa”, maka kita ikut menyuburkan budaya kekerasan peer anak yang berbahaya dan mematikan.

Kasus Z di Surabaya: Alarm Keras tentang Rentannya Anak Disabilitas
Kematian Z, anak 10 tahun penyandang Down syndrome di Kecamatan Rungkut, Surabaya, adalah contoh tragis bagaimana kekerasan peer anak bisa berujung hilangnya nyawa. Ia ditemukan tak sadarkan diri di teras rumah sekitar pukul 09.00, dengan tali sepatu terlilit di leher dan bekas sabun colek di mulut; hasil autopsi menunjukkan cairan sabun colek di lambungnya. Rekaman CCTV memperlihatkan dua anak tetangga memasuki rumah Z sekitar pukul 08.15–08.32, dan keluarga melaporkan kasus ini ke kepolisian dengan nomor LP/B/1843/IX/2026/SPKT/Polrestabes Surabaya/Polda Jawa Timur. Sebelumnya, Z sudah mengalami perundungan: tali tambang pernah dililitkan di lehernya, dan tubuhnya pernah penuh pasir. Kasus ini bukan “kenakalan anak kecil”, melainkan kegagalan kolektif orang tua, sekolah, dan warga untuk melindungi anak disabilitas dari kekerasan yang berulang.

Mengapa Anak dengan Down Syndrome Lebih Rentan terhadap Kekerasan Peer
Anak dengan Down syndrome membawa kombinasi kerentanan fisik dan psikologis yang membuat mereka lebih mudah menjadi sasaran kekerasan peer anak. Banyak di antara mereka memiliki gangguan kognitif ringan hingga sedang, kesulitan mengingat, belajar hal baru, fokus, dan mengambil keputusan sehari-hari. Ketika menjadi korban bullying, dampak psikososialnya signifikan: kepercayaan diri turun, kecemasan meningkat, dan mereka cenderung menarik diri dari lingkungan sosial. Sebuah asesmen psikososial terhadap korban bullying dengan Down syndrome menunjukkan bahwa perundungan tidak hanya menyakitkan sesaat, tetapi dapat menghambat perkembangan sosial anak dalam jangka panjang. Ironisnya, sebagian besar anak dengan Down syndrome sebenarnya bisa menjalani kehidupan aktif dan bahagia bila mendapatkan terapi dan dukungan yang memadai. Jadi, yang merusak hidup mereka bukan Down syndrome itu sendiri, melainkan cara lingkungan memperlakukan mereka.

Mengenali Tanda Bullying pada Anak: Jangan Abaikan Sinyal Kecil
Orang tua dan sekolah sering baru bereaksi ketika tragedi sudah terjadi, padahal tanda bullying pada anak biasanya muncul jauh sebelumnya. Dalam kasus Z, ibunya melihat tali tampar sepanjang satu meter di pundak anaknya seminggu sebelum kejadian, dan sebulan sebelumnya wajah serta tubuh Z penuh pasir. Keluarga juga menyebut Z sempat dirundung dengan tali tambang yang dililitkan di lehernya. Perubahan fisik seperti memar, luka tak jelas, pakaian kotor atau rusak, serta benda asing yang mengikat tubuh anak harus langsung memicu alarm. Secara emosional, anak bisa tampak lebih cemas, enggan keluar rumah atau ke sekolah, mudah menangis, atau tampak “tumpul” secara emosi. Untuk anak dengan Down syndrome, tanda-tanda ini bisa lebih samar karena keterbatasan komunikasi, sehingga pengawasan orang tua dan guru harus lebih intensif dan peka. Menganggapnya sebagai “main-main” adalah bentuk pembiaran terhadap kekerasan.
Langkah Perlindungan: Membangun Lingkungan Aman dan Dukungan Psikososial
Perlindungan anak dengan Down syndrome tidak bisa diserahkan pada satu pihak saja; orang tua, sekolah, dan warga harus bertindak bersama. Di rumah, orang tua perlu mengawasi interaksi anak, mengajarkan batas tubuh, dan rutin menanyakan apa yang terjadi ketika bermain dengan teman sebaya. Di sekolah dan lingkungan, edukasi empati kepada anak-anak lain wajib dilakukan, agar mereka memahami bahwa Down syndrome adalah kondisi genetik, bukan penyakit, dan bukan alasan untuk mengejek. Lingkungan aman berarti ada aturan jelas anti perundungan, mekanisme pelaporan, dan respon cepat ketika muncul tanda kekerasan peer anak. Warga yang melihat indikasi kekerasan terhadap anak dapat melapor ke kepolisian, dinas perlindungan anak setempat, atau layanan pengaduan resmi. Dukungan psikososial—melalui konseling, terapi, dan kelompok dukungan—membantu mencegah trauma jangka panjang dan memungkinkan anak berkembang dengan baik meski pernah menjadi korban.







