Temukan minat Anda, bersama

Promo pilihan, ulasan jujur, dan cerita belanja dari mereka yang seminat dengan Anda — setiap hari di Kuybeli.

Temukan minat Anda, bersamaPromo pilihan, ulasan jujur, dan cerita belanja dari mereka yang seminat dengan Anda — setiap hari di Kuybeli.

Dari Video Viral ke Etika Panggung: Alarm bagi Keselamatan Penyanyi

Dari Video Viral ke Etika Panggung: Alarm bagi Keselamatan Penyanyi
Minat|Menyanyi

Kasus EL: Ketika Panggung Dangdut Berubah Menjadi Ruang Kekerasan

Kasus pelecehan penyanyi dangdut EL di atas panggung Desa Karamat, Majalengka, adalah insiden kekerasan di panggung musik yang terekam video, lalu viral dan memicu sorotan publik luas, menunjukkan betapa rapuhnya keselamatan artis konser ketika etika industri musik diabaikan dan batas profesional antara sesama seniman dilanggar secara terang-terangan. Insiden ini bukan sekadar “ulah oknum”, melainkan cermin budaya panggung yang selama ini menormalisasi kontak fisik berlebihan atas nama hiburan. Terduga pelaku, Kosdari (K), melakukan aksi yang kemudian diartikan publik sebagai pelecehan penyanyi dangdut EL saat mereka sama-sama tampil di Palasah pada 14 September. Bahwa peristiwa tersebut terjadi di lingkungan sesama seniman menambah ironi: panggung yang seharusnya menjadi ruang kerja aman berubah menjadi lokasi kekerasan seksual yang disaksikan penonton dan direkam kamera.

Tekanan Publik dan Permintaan Maaf: Penyesalan atau Sekadar Meredam Badai?

Video tindakan K terhadap EL di atas panggung Desa Karamat menyebar cepat di media sosial dan menimbulkan keresahan serta berbagai persepsi di masyarakat. Dalam suasana tekanan publik itu, K muncul didampingi perwakilan komunitas seniman lokal dan menyampaikan permohonan maaf terbuka kepada EL, keluarganya, rekan seniman, dan pihak yang merasa dirugikan. Ia mengakui bahwa "kelakuan saya di atas panggung seperti video viral tersebut telah menimbulkan keresahan, ketidaknyamanan dan berujung muncul berbagai persepsi masyarakat". Sikap menyesal dan janji menjaga profesionalitas patut diapresiasi, tetapi tidak boleh menutup diskusi tentang akuntabilitas yang lebih serius. Permintaan maaf yang lahir setelah video menjadi viral sering kali tampak lebih sebagai upaya memadamkan kemarahan publik ketimbang pengakuan jujur bahwa panggung bukan ruang bebas dari tanggung jawab. Pertanyaannya: tanpa sorotan warganet, apakah penyesalan ini tetap akan disuarakan sekeras sekarang?

Sorotan DPRD dan Sesama Musisi: Etika Industri Musik Mulai Diukur Serius

Respon lembaga politik dan komunitas seni menunjukkan bahwa kasus ini bukan lagi dianggap insiden sepele. Anggota DPRD Majalengka, Abdul Toyib, menyatakan keprihatinan atas dugaan kekerasan seksual terhadap EL dan menegaskan tidak boleh ada toleransi terhadap tindakan yang merendahkan atau melecehkan penyanyi, apalagi di lingkungan profesi yang sama. Ia mengingatkan musisi untuk menjaga sikap saat manggung, termasuk menjauhi konsumsi alkohol agar perilaku di atas panggung tetap terkendali. Di sisi lain, musisi Dimaz Candra menekankan bahwa seniman seharusnya saling melindungi karena di panggung mereka sedang bekerja mencari nafkah, bukan mencari sensasi dengan tindakan tidak pantas. Pernyataan Dimaz bahwa tugas seniman adalah menghibur sekaligus menjaga nama baik grup, brand, dan dirinya sendiri menjadi garis tegas bahwa etika industri musik bukan ornamen, melainkan kompetensi kerja yang wajib dipenuhi.

Netizen, Victim Blaming, dan Tanda Bangkitnya Kesadaran Kolektif

Media sosial berperan ganda: mengangkat kasus ke permukaan, sekaligus membuka luka lama budaya menyalahkan korban. Dimaz Candra merasa miris karena sebagian netizen hanya melihat potongan video lalu mengomentari dengan nada menyudutkan EL sebagai korban. Di satu sisi, respons publik yang keras terhadap pelaku menunjukkan kesadaran meningkat bahwa pelecehan penyanyi dangdut di panggung bukan lagi hal yang bisa ditertawakan atau dimaklumi sebagai bagian dari hiburan. Di sisi lain, masih kuatnya komentar yang mempertanyakan sikap korban memperlihatkan pekerjaan rumah besar dalam pendidikan etika penonton. Ketika kekerasan di panggung musik terjadi di depan mata, reaksi warganet menjadi barometer moral masyarakat: apakah mereka berdiri di sisi korban atau ikut melanggengkan kekerasan lewat candaan dan pembenaran. Viral tidak boleh berhenti pada tontonan; ia harus berlanjut menjadi dorongan perubahan perilaku penonton.

Dari Kasus EL ke Standar Keamanan: Saatnya Panggung Mengutamakan Keselamatan Artis

Kasus EL menegaskan bahwa keselamatan artis konser bukan perkara teknis tata suara dan panggung, melainkan soal budaya dan aturan yang menempatkan seniman sebagai pekerja yang berhak atas perlindungan. Ketika sesama seniman dapat melakukan kekerasan seksual di atas panggung, berarti etika industri musik belum diterjemahkan menjadi standar perilaku yang mengikat. Komitmen K untuk "lebih berhati-hati dalam bersikap dan menjaga profesionalitas sebagai seorang seniman" hanya akan bermakna jika diikuti aturan komunitas dan penyelenggara yang jelas tentang batas interaksi fisik, sanksi bagi pelaku, serta mekanisme dukungan bagi korban. Panggung adalah ruang kerja, bukan ruang bebas menyentuh tubuh orang lain tanpa persetujuan. Dari viral hingga permintaan maaf, pelajaran terpenting kasus ini jelas: tanpa keamanan dan perlindungan yang nyata, setiap artis yang naik panggung membawa risiko yang tidak seharusnya mereka tanggung sendiri.

Kuybeli memperoleh komisi saat Anda berbelanja melalui tautan kami, tanpa biaya tambahan untuk Anda. Artikel ini dibuat dengan AI dari sumber yang dipublikasikan dan data produk.

You May Also Like

Comments
Tulis sesuatu...
Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berbagi pendapat!