Temukan minat Anda, bersama

Promo pilihan, ulasan jujur, dan cerita belanja dari mereka yang seminat dengan Anda — setiap hari di Kuybeli.

Temukan minat Anda, bersamaPromo pilihan, ulasan jujur, dan cerita belanja dari mereka yang seminat dengan Anda — setiap hari di Kuybeli.

Mengapa Kita Ngidam Makanan Manis Saat Stres dan Cara Mengendalikan Emotional Eating

Mengapa Kita Ngidam Makanan Manis Saat Stres dan Cara Mengendalikan Emotional Eating
Minat|Kesehatan Mental

Emotional eating saat stres: apa yang sebenarnya terjadi?

Emotional eating saat stres adalah kebiasaan makan sebagai respons terhadap tekanan emosi, bukan karena lapar fisik, yang ditandai dengan ngidam makanan manis atau tinggi kalori, muncul cepat ketika mood turun, terasa mendesak, dan sering berakhir dengan rasa bersalah, serta jika berulang dapat mengganggu pola makan dan kesehatan jangka panjang.

Kita perlu jujur: ngidam makanan manis ketika kepala penuh masalah sering terasa seperti solusi instan. Cokelat, es krim, atau minuman manis seolah menawarkan pelarian singkat dari emosi yang mengganggu. Keinginan ini bukan sekadar kurang bisa menahan diri; stres memengaruhi hormon, sistem penghargaan otak, tidur, dan kebiasaan makan sehingga makanan manis terasa jauh lebih menarik. Dari perspektif psikologi makanan, makan dapat memengaruhi respons stres, persepsi terhadap rasa sakit, suasana hati, rasa aman, dan kemampuan tubuh untuk kembali ke kondisi yang lebih tenang. Masalahnya, ketika pola ini menjadi cara utama menghadapi emosi, emotional eating berisiko berubah dari penghiburan sementara menjadi jebakan jangka panjang.

Kortisol, energi cepat, dan sistem penghargaan otak

Saat stres, tubuh masuk mode waspada: detak jantung naik, pikiran terasa penuh, dan kebutuhan energi meningkat. Tubuh pun mencari sumber energi cepat, dan gula sederhana dari makanan manis dapat meningkatkan kadar glukosa darah dengan cepat sehingga otak menganggapnya sebagai pilihan praktis. Di saat yang sama, stres berkaitan dengan peningkatan hormon kortisol. Pada sebagian orang, kondisi ini meningkatkan nafsu makan dan membuat makanan tinggi gula atau lemak terasa lebih menggoda. Tidak mengherankan jika kita cenderung memilih kue atau cokelat, bukan salad, saat pikiran penat.

Di balik ngidam makanan manis, ada sistem penghargaan otak yang bekerja. Makanan manis dapat mengaktifkan sistem tersebut dan memberikan sensasi menyenangkan sehingga seseorang menghubungkan cokelat, es krim, kue, atau minuman manis dengan rasa tenang dan nyaman. Ketika menghadapi tekanan, otak seperti mencari hadiah instan; makanan manis mudah memenuhi peran itu. Ditambah lagi, kurang tidur akibat stres dapat mengganggu hormon lapar dan kenyang, sehingga dorongan makan manis makin kuat. Jika dibiarkan, kombinasi kortisol tinggi dan sistem penghargaan yang terlatih membuat emotional eating stres terasa seperti refleks otomatis, bukan pilihan sadar.

Mengapa Kita Ngidam Makanan Manis Saat Stres dan Cara Mengendalikan Emotional Eating

Ketika coping mechanism berubah jadi pola tidak sehat

Menggunakan makanan sebagai penenang sesekali tidak langsung menjadikan seseorang “bermasalah”. Sesekali menikmati makanan manis bukan masalah. Namun emotional eating menjadi coping mechanism yang tidak sehat ketika setiap rasa sedih, marah, cemas, atau bosan selalu direspons dengan membuka kemasan camilan. Jika hampir setiap kali stres seseorang mengonsumsi gula dalam jumlah besar, kebiasaan tersebut dapat membuat asupan kalori berlebihan dan menyulitkan pengaturan pola makan. Alih-alih membantu, pola ini justru menambah beban: berat badan naik, tubuh terasa tidak nyaman, lalu muncul rasa malu dan bersalah yang memicu stres baru.

Psikologi makanan menunjukkan bahwa otak tidak memproses rasa sakit atau stres secara terpisah dari kondisi tubuh lain seperti lapar, lelah, dan nyeri. Ketika seseorang terbiasa makan makanan manis setiap kali menghadapi masalah, otak perlahan membentuk pola: stres = makan manis. Akibatnya, keinginan makan manis muncul otomatis meskipun sebenarnya tidak lapar. Ini menjadikan emotional eating mirip kebiasaan refleks, serupa menggigit kuku saat cemas. Kita tidak bisa mengubah pola yang sudah mengakar dengan mengandalkan “niat kuat” saja; perlu membangun cara coping baru yang lebih sehat agar otak punya jalur alternatif selain gula.

Mindful eating dan mengenali pemicu stres

Langkah pertama mengatasi stress eating adalah berhenti menyalahkan diri, lalu mulai mengamati pola dengan jujur. Catat kapan ngidam makanan manis muncul: apakah saat pekerjaan menumpuk, setelah konflik dengan pasangan, ketika lelah tapi tetap memaksa produktif, atau ketika merasa kesepian. Ingat, keinginan makan manis saat stres bukan sekadar soal kurang bisa menahan diri, melainkan efek stres terhadap hormon, sistem penghargaan otak, tidur, dan kebiasaan makan. Di sinilah mindful eating penting: latihan menyadari apa yang dirasakan tubuh dan emosi sebelum, saat, dan setelah makan, sehingga kita bisa membedakan lapar fisik dari lapar emosi.

Mindful eating bukan teknik rumit. Cobalah memberi jeda beberapa menit sebelum makan untuk bertanya: “Aku lapar atau sedang butuh pengalihan?” Untuk mengatasinya, coba jeda beberapa menit sebelum makan, minum air putih, tidur cukup, melakukan aktivitas fisik ringan, atau memilih camilan yang lebih mengenyangkan. Fokuskan perhatian pada rasa makanan, tekstur, dan sinyal kenyang dari tubuh, bukan pada pikiran yang berlari ke mana-mana. Dengan latihan berkala, otak belajar bahwa respons terhadap stres tidak selalu harus makan. Kita mulai punya ruang untuk memilih: ingin mengobati lapar fisik, atau merawat emosi dengan cara lain.

Mengganti gula dengan aktivitas pengganti yang lebih sehat

Untuk benar-benar mengendalikan emotional eating stres, kita perlu menawarkan “hadiah” baru kepada otak selain gula. Jika selama ini cokelat atau kue menjadi simbol nyaman, tugas kita adalah menciptakan simbol baru yang lebih sehat. Memberikan jeda sebelum makan, menjaga kualitas tidur, melakukan aktivitas fisik, dan memilih camilan yang lebih mengenyangkan dapat membantu mengendalikan keinginan tersebut. Misalnya, ganti kebiasaan scrolling sambil ngemil dengan jalan kaki singkat, mandi air hangat, journaling, atau berbicara dengan teman tepercaya. Aktivitas ini mungkin tidak seinstan sensasi manis, tetapi lebih menenangkan dalam jangka panjang.

Strategi praktis penting: pilih camilan dengan protein dan serat seperti buah, yogurt tanpa banyak gula, atau kacang-kacangan agar lebih mengenyangkan. Tubuh tetap mendapat energi, tetapi tidak terjebak lonjakan gula darah berulang. Dari sisi psikologi makanan, kita sedang mengajari otak bahwa rasa aman dan tenang bisa datang dari kombinasi istirahat cukup, gerak teratur, dan makanan lebih seimbang, bukan hanya dari gula tinggi. Emotional eating mungkin tidak lenyap dalam semalam, tetapi setiap kali kita memilih respons yang sedikit lebih sehat, kita sedang menggeser pola coping dari reaktif menjadi lebih sadar. Pada akhirnya, tujuan kita bukan melarang makanan manis, melainkan memastikan gula tidak lagi memegang kendali atas cara kita menghadapi stres.

Kuybeli memperoleh komisi saat Anda berbelanja melalui tautan kami, tanpa biaya tambahan untuk Anda.

You May Also Like

Comments
Tulis sesuatu...
Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berbagi pendapat!