Verdik 6 Bulan: Masih Layak, Tapi Tidak Untuk Semua Orang
Redmi Note 15 Pro 5G adalah ponsel kelas menengah dengan layar AMOLED besar, speaker stereo, kamera utama 200MP, dan baterai yang dirancang untuk menunjang aktivitas harian, namun pembaruan ke HyperOS 3 memunculkan masalah serius pada perekaman video 4K yang mengubah pengalaman pemakaian jangka panjangnya. Setelah enam bulan pemakaian, kesan saya cenderung campur aduk. Dari sisi foto dan konsumsi konten, ini masih paket menarik di kisaran harga yang kini disebut naik dari sekitar Rp3,7 juta saat pre-order ke kisaran Rp5 juta. Tapi bila Anda sering mengandalkan video 4K untuk kerja atau konten serius, regresi performa setelah update membuat ponsel ini sulit direkomendasikan tanpa catatan tebal. Di titik harga sekarang, pesaing lain mulai terasa lebih aman dari sisi kestabilan software.
Kelebihan
- Layar AMOLED berukuran besar nyaman untuk konten dan game.
- Speaker stereo bertenaga, audio terasa lebih penuh saat menonton atau bermain.
- Kamera utama 200MP mampu menghasilkan foto detail yang menarik dalam banyak kondisi.
- Baterai cukup menunjang aktivitas harian tanpa harus sering isi daya.
Kekurangan
- Video 4K 30fps menjadi patah-patah setelah pembaruan HyperOS 3 dan belum pulih berbulan-bulan.
- Animasi membuka aplikasi kamera lambat, sekitar dua detik untuk siap memotret.
- Sebagian fitur lock screen seperti efek kedalaman tidak berjalan sesuai pratinjau.
- Harga naik ke kisaran Rp5 jutaan, nilai terasa menurun dibanding saat pre-order Rp3,7 jutaan.
Kamera 200MP: Bukan Gimmick, Tapi Juga Bukan Keajaiban
Dari sudut pandang foto, Redmi Note 15 Pro 5G review ini masih bisa berdiri dengan kepala tegak berkat kamera 200MP performa yang solid. Sensor utama 200MP dipadukan dengan kamera ultrawide 8MP, dan resolusi tinggi di sini bukan sekadar angka marketing. Mode standar memotret di 12,5MP dengan pembesaran digital sampai 4x; hasil zoom ini cukup membantu menangkap detail, meski jejak pemrosesan masih tampak dan kualitasnya jelas belum selevel lensa telefoto khusus. Mode Pro memberi ruang kreatif: Anda bisa mengatur parameter manual dan mengunduh preset dari komunitas pengguna untuk gaya foto berbeda. Untuk malam hari, mode malam otomatis menjaga nuansa gelap tetap hadir berkat bukaan F1.7 dan OIS di kamera utama, sementara ultrawide dan selfie cenderung lebih gelap dan kadang butuh bantuan LED flash. Singkatnya, kamera utama menyenangkan, namun modul lain terasa biasa saja.
HyperOS 3: Fitur Baru Datang, Masalah Video Ikut Muncul
Peralihan dari Android 15 dengan HyperOS 2 ke Android 16 dengan HyperOS 3 membawa kombinasi upgrade dan masalah. Secara fungsi, pembaruan ini cukup menarik: animasi Google Maps bisa tampil di Hyper Island, sistem mampu menyimpan tiga aplikasi sekaligus di latar belakang, efek animasi sidik jari layar bertambah, dan tampilan kalender serta ikon aplikasi berubah lebih segar. Iklan di sistem disebut lebih jarang muncul, meski sesekali tetap terlihat di aplikasi tema. Namun di balik itu, ada beberapa batu sandungan yang merusak rasa percaya terhadap kestabilan sistem operasi. Efek kedalaman lock screen tidak bekerja meski tampak di pratinjau, animasi membuka aplikasi kamera terasa lambat hingga sekitar dua detik, dan yang terparah: HyperOS 3 masalah video 4K membuat rekaman 4K 30fps terlihat patah-patah, baik siang maupun malam. Dugaan utama mengarah ke optimasi software, tapi sampai sekarang belum jelas kapan akan diperbaiki.
Harga Naik, Nilai Turun: Masih Masuk Akal?
Ketika pertama kali dibeli melalui sistem pre-order, varian 8GB RAM dan 256GB penyimpanan berada di sekitar Rp3,7 jutaan. Kini, harga yang disebut oleh reviewer berada di kisaran Rp5 juta, berdasarkan pengamatan pribadinya, bukan verifikasi menyeluruh pasar. Kenaikan ini berarti Anda membayar lebih mahal untuk paket yang, setelah update HyperOS 3, justru kehilangan satu poin penting: rekam video 4K yang mulus. Di harga lama, kompromi terasa wajar karena layar AMOLED besar, speaker stereo, kamera utama 200MP, dan baterai yang mampu menunjang aktivitas sehari-hari memberi nilai kuat. Di harga baru, setiap kelemahan software terasa lebih mengganggu. Apalagi reviewer sudah berkali-kali melaporkan masalah video pada 14, 20, dan 27 Juli dan belum merasakan perbaikan berarti. "Video 4K 30fps terlihat patah-patah dan masalah itu masih terjadi setelah beberapa bulan menggunakan HyperOS 3" adalah kalimat yang seharusnya tidak muncul lagi di ponsel kelas ini.
Buy if / Skip if
- Buy the Redmi Note 15 Pro 5G if Anda lebih sering memotret foto dan jarang merekam video 4K, sehingga kamera utama 200MP menjadi nilai utama bagi Anda.
- Skip the Redmi Note 15 Pro 5G if Anda membutuhkan rekaman video 4K 30fps yang halus untuk pekerjaan, karena masalah patah-patah pasca HyperOS 3 belum terselesaikan setelah berbulan-bulan.
- Buy the Redmi Note 15 Pro 5G if Anda mengutamakan layar AMOLED besar, speaker stereo bertenaga, dan baterai yang cukup untuk aktivitas harian dibanding kestabilan fitur video.
- Skip the Redmi Note 15 Pro 5G if Anda sensitif terhadap bug software dan ingin sistem operasi yang stabil tanpa efek lock screen bermasalah atau animasi kamera lambat.
- Skip the Redmi Note 15 Pro 5G if Anda merasa kenaikan harga ke kisaran Rp5 juta membuat kompromi pada sisi video dan software tidak bisa ditoleransi.

![Xiaomi Redmi Note 15 Pro 5G (8/256GB) (12/512GB) [Xiaomi Official Store]](https://img2.kuybeli.com/product/2026/09/24/07064026-86ec-44dd-a991-860caf8a67c8.jpg)





