Temukan minat Anda, bersama

Promo pilihan, ulasan jujur, dan cerita belanja dari mereka yang seminat dengan Anda — setiap hari di Kuybeli.

Temukan minat Anda, bersamaPromo pilihan, ulasan jujur, dan cerita belanja dari mereka yang seminat dengan Anda — setiap hari di Kuybeli.

Agar Siswa Tak Lemas dan Mengantuk, Gizi Perlu Diajarkan Sejak Sekolah

Agar Siswa Tak Lemas dan Mengantuk, Gizi Perlu Diajarkan Sejak Sekolah
Minat|Pengetahuan Parenting

Gizi adalah bekal untuk belajar

Edukasi gizi siswa adalah pembelajaran praktis tentang memilih dan menyusun makanan agar kebutuhan tubuh terpenuhi serta anak dapat menjalani kegiatan belajar dengan lebih siap. Karena lemas dan mengantuk bisa mengganggu konsentrasi di kelas, pengetahuan tentang makanan sehat semestinya menjadi bagian dari kebiasaan sekolah, bukan hanya urusan di meja makan.

Pada Rabu (28/10), SPPG Sumenep Dasuk Dasuk Laok menggelar sosialisasi gizi di SDN Nyapar 1, Dasuk. Puluhan siswa kelas lima dan enam menyimak materi yang dibawakan ahli gizi Atika Fatmatisari dengan bahasa sederhana dan interaktif. Kegiatan ini mencerminkan gerakan sadar gizi sejak dini di Sumenep, sekaligus mengangkat persoalan yang dekat dengan keseharian siswa: bagaimana makanan memengaruhi energi dan fokus mereka.

Kepala SPPG Dasuk Laok, Ach. Dharul Qudni Firdaus, menyebut sosialisasi tersebut sebagai investasi kesehatan jangka panjang. Penekanan itu tepat: nasihat tentang makan akan lebih berguna bila anak memahami hubungannya dengan kondisi tubuh dan kesiapan belajar, bukan sekadar menerima larangan atau daftar makanan.

Agar Siswa Tak Lemas dan Mengantuk, Gizi Perlu Diajarkan Sejak Sekolah

Isi Piringku dan pilihan jajan

Materi sosialisasi memperkenalkan Isi Piringku sebagai panduan menyusun makanan seimbang: setengah piring berisi sayur dan buah, seperempat karbohidrat, dan seperempat protein. Panduan seperti ini memberi anak gambaran yang mudah diterapkan saat makan, dibandingkan pesan umum untuk sekadar memilih makanan sehat. Inilah sisi penting sosialisasi gizi sekolah: pengetahuan dibuat konkret agar siswa bisa mengenali pilihan yang lebih baik.

Siswa juga diajak membedakan jajanan sehat dari makanan tinggi gula, garam, dan penyedap yang dapat membuat mereka mengantuk di kelas. Dampak pada fokus belajar menjadi alasan yang dekat dengan pengalaman anak, sehingga edukasi tidak berhenti pada urusan kenyang. Namun, pemahaman saja belum otomatis mengubah kebiasaan; anak perlu mendapat dukungan dari lingkungan rumah dan sekolah agar pilihan sehat lebih mudah dilakukan.

Bagi gizi anak sekolah, pesan utamanya bukan menganggap satu jenis jajanan sebagai penyebab tunggal rasa lemas atau kantuk. Yang lebih berguna adalah membangun kebiasaan memilih makanan dengan komposisi seimbang dan mengamati bagaimana tubuh meresponsnya.

Pendidikan perlu berjalan bersama porsi yang tepat

Sosialisasi di Dasuk Laok berfokus pada pemahaman siswa, sedangkan SPPG Sumenep Lenteng Jambu menunjukkan sisi lain: menerapkan takaran makanan yang disesuaikan dengan kebutuhan penerima. Kepala SPPG Jambu Anwar Efendi menjelaskan bahwa pihaknya mengikuti standar Badan Gizi Nasional dan membedakan empat kategori porsi karena kebutuhan tiap kelompok usia tidak sama. Dua pendekatan ini saling melengkapi: siswa belajar memilih dan memahami makanan, sementara penyedia makanan berupaya memastikan porsinya sesuai.

Dalam menu yang dilaporkan, Porsi Kecil untuk anak SD kelas kecil mengandung 571 kkal energi dan 15 gram protein. Porsi Besar untuk SMP-SMA mengandung 582 kkal dan 16 gram protein; porsi balita 409 kkal dan 14 gram protein; sedangkan porsi ibu hamil atau menyusui 662 kkal dan 20 gram protein. Angka tersebut memperlihatkan bahwa porsi makan bergizi bukan sekadar menu yang sama untuk semua, melainkan takaran yang mempertimbangkan kelompok penerima.

Pada menu Jambu, nasi disajikan bersama tempe, sayuran, telur, dan apel; porsi ibu hamil atau menyusui mendapat tambahan telur rebus. Contoh ini menegaskan bahwa edukasi dan penyediaan makanan perlu berjalan beriringan. Anak yang memahami gizi akan lebih siap membuat pilihan, sementara standar porsi membantu memastikan makanan yang tersedia sesuai kebutuhan.

Dari sosialisasi menjadi kebiasaan

Sosialisasi di SDN Nyapar 1 layak dipandang sebagai awal pembentukan kebiasaan, bukan hasil akhir. Mengajari siswa menyusun Isi Piringku dan mengenali jajanan yang kurang sehat memberi mereka bekal mengambil keputusan sehari-hari. Pada saat yang sama, contoh SPPG Jambu menunjukkan bahwa tanggung jawab pemenuhan gizi juga berada pada penyelenggara makanan, yang perlu menyesuaikan takaran dengan kebutuhan penerima.

Keduanya menyasar bagian berbeda dari masalah yang sama. Edukasi membangun pemahaman dan pilihan, sedangkan pengaturan porsi menerjemahkan kecukupan gizi ke dalam sajian. Jika hanya ada penyuluhan tanpa pilihan makanan yang memadai, pengetahuan sulit dipraktikkan; jika hanya ada makanan bergizi tanpa pemahaman, siswa kehilangan kesempatan membangun kebiasaan untuk jangka panjang.

Kesimpulannya, upaya mencegah siswa merasa lemas dan mengantuk perlu menggabungkan edukasi yang mudah dipahami dengan makanan berimbang dan porsi sesuai kebutuhan. Sosialisasi gizi dapat membantu anak mengaitkan apa yang mereka makan dengan kesiapan belajar—dan menjadikan kesehatan bagian dari rutinitas, bukan sekadar materi satu hari.

Kuybeli memperoleh komisi saat Anda berbelanja melalui tautan kami, tanpa biaya tambahan untuk Anda.

You May Also Like

Comments
Tulis sesuatu...
Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berbagi pendapat!