Verdict: Lipat Paling Tipis, Tapi Bukan Untuk Semua Orang
Galaxy Z Fold 8 adalah ponsel lipat flagship yang menggabungkan desain foldable tipis, bobot ringan sekitar 201 gram, layar lipat tahan lama, serta performa flagship Android untuk multitasking dan hiburan, namun di sisi lain mengorbankan fitur S Pen, Flex Mode, dan lensa telephoto sehingga lebih cocok bagi pengguna yang memprioritaskan portabilitas dan kenyamanan harian dibanding produktivitas tingkat lanjut.
Dilihat dari kacamata review ponsel lipat Samsung, ini adalah upgrade yang berani tapi kontroversial. Kelebihan Galaxy Z Fold 8 paling jelas ada di rasa pakai: lebih tipis, lebih ringan, lebih nyaman dibawa ke mana-mana dibanding generasi sebelumnya. Namun, hilangnya dukungan S Pen dan Flex Mode membuatnya kurang menarik bagi power user yang terbiasa memakai Fold sebagai pengganti tablet produktivitas. Dengan harga premium mulai dari Rp28,5 juta hingga Rp32,5 juta, keputusan membeli perangkat ini bukan soal mampu atau tidak, tetapi apakah kompromi fitur sepadan dengan investasi jangka panjang yang Anda keluarkan.
Kelebihan
- Desain lebih tipis dan bobot hanya 201 gram, sangat nyaman dibawa.
- Durabilitas tinggi dengan Titanium Flex, Gorilla Glass Ceramic 3, dan Armor Aluminum.
- Performa flagship Android dengan chipset Snapdragon 8 Elite Gen 5 dan baterai 4.800 mAh.
- Layar dalam nyaman untuk membaca dan menonton berkat rasio 4:3 dan visual anti-reflektif.
Kekurangan
- Tidak mendukung S Pen, mengurangi daya tarik bagi pengguna produktif.
- Flex Mode dihilangkan karena desain engsel baru, membatasi posisi penggunaan layar.
- Konfigurasi kamera tanpa lensa telephoto murni, kalah fleksibel dari kompetitor premium.
- Qi2 hanya "Ready" dan butuh casing magnetik agar pengisian nirkabel optimal.

Desain: Foldable Tipis, Ringan, dan Lebih Tahan Banting
Fokus utama Galaxy Z Fold 8 adalah desain foldable tipis dan ringan. Dengan bobot hanya 201 gram, perangkat ini menjadi salah satu ponsel lipat paling ringan di kelas flagship, sekaligus terasa jauh lebih enteng dibanding seri S Ultra maupun flagship lain yang berada di kisaran 219–232 gram. Selain itu, ketebalan yang dipangkas membuatnya lebih nyaman diselipkan di kantong celana atau tas kecil tanpa terasa seperti membawa brick digital. Di sisi portabilitas, ini adalah lompatan nyata dan menjadi salah satu Galaxy Z Fold 8 kelebihan paling penting.
Samsung juga tidak sekadar menipiskan bodi, tetapi memperkuatnya. Struktur bawah panel layar diperkuat Titanium Flex dengan lapisan ganda titanium untuk meredam benturan dan mengurangi bekas lipatan yang sebelumnya mengganggu pada generasi awal. Bagian luar mengandalkan Corning Gorilla Glass Ceramic 3 pada cover screen dan bodi belakang, sementara frame memakai Armor Aluminum generasi terbaru plus sertifikasi IP48 untuk perlindungan dari cipratan air dan debu mikro di area engsel. Menurut Ilham Indrawan, kini membuka dan menutup Fold terasa lebih nyaman namun tetap firm saat digunakan. Dari sisi desain dan durability, Samsung berhasil menjawab kritik generasi awal, meski ada konsekuensi fitur yang dikorbankan.

Layar, Performa, dan Kamera: Flagship Android Dengan Satu Lubang Besar
Layar Galaxy Z Fold 8 dirancang untuk menjadi teman baca, kerja, dan hiburan. Saat dibuka penuh, rasio 4:3 membuat pengalaman menonton film, bermain game FPS, hingga membaca komik dan e-book terasa seperti memegang buku fisik, lengkap dengan kemampuan menampilkan dua halaman sekaligus atau satu halaman besar. Layar depan berasio 16:10 lebih natural untuk chat, browsing, dan penggunaan satu tangan. Klaim Samsung, peningkatan kecerahan dan lapisan anti-reflektif membantu kenyamanan visual, terutama di luar ruangan.
Di sisi performa flagship Android, Fold 8 mengusung chipset Snapdragon 8 Elite Gen 5 4G yang setara dengan dapur pacu pada seri S Ultra dan Z Fold 8 Ultra, dipadukan baterai silikon 4.800 mAh, naik dari 4.400 mAh di Z Fold 7. Artinya, multitasking berat—dua hingga tiga aplikasi sekaligus—dan gaming kelas AAA akan tertangani dengan baik, tanpa harus kompromi pada ketebalan bodi. Kamera menjadi area yang sedikit tanggung: dua kamera belakang 50 MP untuk lensa utama dan ultrawide menghadirkan kualitas gambar tinggi, tetapi ketiadaan lensa telephoto murni membuat kemampuan zoom optik kalah dibanding kompetitor premium. Jika Anda sering memotret subjek jauh (konser, olahraga), ini adalah lubang besar yang harus diterima.
| Aspek | Kelebihan | Kompromi |
|---|---|---|
| Layar lipat | Rasio 4:3 ideal untuk baca & nonton, crease berkurang dengan Titanium Flex. | Tetap ada garis lipatan tipis bagi mata yang sensitif. |
| Performa | Chipset Snapdragon 8 Elite Gen 5 dan baterai 4.800 mAh menunjang multitasking. | Tanpa opsi hemat fitur untuk pengguna kasual, bisa terasa berlebihan. |
| Kamera | Dua sensor 50 MP dengan kualitas flagship dan dukungan Galaxy AI. | Tidak ada telephoto; zoom optik terbatas dan kalah dari ponsel kamera khusus. |

Fitur yang Hilang: S Pen, Flex Mode, dan Qi2 Setengah Hati
Keputusan paling kontroversial di Galaxy Z Fold 8 adalah hilangnya dukungan S Pen. Samsung secara sadar menghapus kompatibilitas stylus ini demi mempertahankan bodi yang sangat tipis, dengan dalih data menunjukkan penggunaan S Pen yang minim. Namun bagi pengguna lama Fold yang memakai stylus untuk mencatat, menggambar, atau mengedit dokumen, ini adalah kemunduran. Engsel baru Armor FlexHinge berbasis sistem pegas memang membuat bodi lebih ramping, tetapi konsekuensinya Flex Mode juga lenyap. Tanpa Flex Mode, Anda tidak bisa lagi “menyandarkan” ponsel di sudut tertentu untuk nonton, video call, atau memotret hands-free—padahal inilah karakter unik seri Fold.
Cerita lain datang dari sisi pengisian daya nirkabel Qi2. Fold 8 digadang sebagai "Qi2 Ready", artinya di dalam bodi tidak ada cincin magnet bawaan yang melingkari kumparan pengisian. Untuk mendapatkan daya rekat magnet yang kuat dan penyelarasan optimal, pengguna wajib memakai casing pelindung dengan cincin magnet terintegrasi. Ini bertentangan dengan upaya menipiskan perangkat: begitu memakai casing magnetik, ketebalan dan bobot kembali naik. Bahkan, ketebalan bodi 4,1 mm saat dibuka memaksa kumparan pengisian wireless bawaan dihilangkan, sehingga pengisian tanpa kabel hanya mungkin dengan bantuan aksesori casing tambahan. Untuk ponsel semahal ini, pengisian nirkabel yang terasa "setengah hati" adalah kompromi yang sulit dimaafkan.

Harga, Nilai Jangka Panjang, dan Siapa yang Cocok
Galaxy Z Fold 8 jelas bukan ponsel untuk semua orang. Di pasar premium, Samsung membanderol perangkat ini mulai dari Rp28,5 juta untuk konfigurasi 12/256 GB dan Rp32,5 juta untuk 12/512 GB, dengan masa pemesanan 22 Juli hingga 13 Agustus. Dengan angka sebesar itu, pembeli wajar menuntut paket lengkap: desain, performa, kamera, produktivitas, hingga fitur masa depan seperti Qi2. Nyatanya, Fold 8 cenderung memanjakan aspek portabilitas dan kenyamanan harian, sambil memotong beberapa fitur yang sebelumnya menjadi pembeda seri Fold.
Dari sudut pandang nilai jangka panjang, Fold 8 paling cocok untuk pengguna yang ingin merasakan evolusi ponsel lipat paling praktis: layar besar seperti tablet, tapi bobotnya mendekati ponsel biasa. Ini ponsel yang menyatu dengan kehidupan sehari-hari—chat, baca, nonton, meeting—tanpa membuat kantong penuh atau tangan pegal. Namun jika Anda kreator konten yang butuh S Pen, pekerja profesional yang mengandalkan Flex Mode untuk presentasi dan video call, atau penggemar fotografi jarak jauh, Anda akan merasa seperti kehilangan separuh alasan memilih Fold. Pertanyaannya bukan lagi “seberapa canggih Galaxy Z Fold 8





