Edukasi gizi bukan pelengkap, tetapi fondasi cegah stunting
Edukasi pangan B2SA dan gerakan ABCDE stunting adalah dua pendekatan program stunting daerah yang menempatkan keluarga dan komunitas sebagai pusat perubahan perilaku makan untuk mencegah stunting melalui peningkatan kesadaran gizi anak sejak dini. Pendekatan ini menegaskan bahwa perang melawan stunting tidak cukup dengan intervensi medis; pola konsumsi sehari-hari di dapur keluarga jauh lebih menentukan. Kalimantan Timur dan Banyumas memberi pesan tegas: tanpa perubahan cara kita memandang dan mengelola pangan, target penurunan stunting akan terus tersendat. Di titik inilah peran edukasi menjadi arena utama, bukan hanya pelengkap laporan program. Pertanyaannya, seberapa berani daerah lain menempatkan keluarga sebagai aktor utama, bukan sekadar penerima bantuan?
Kaltim dan B2SA: membangun budaya makan dari dapur keluarga
Pemerintah Provinsi Kalimantan Timur memilih jalur edukasi pangan B2SA—Beragam, Bergizi, Seimbang, dan Aman—sebagai strategi kunci untuk mencegah dan mempercepat penurunan stunting di wilayahnya. Ini bukan jargon teknis; ini upaya mengubah isi piring keluarga. Edukasi pangan sehat diarahkan untuk memperkuat pemahaman gizi sejak usia dini, terutama di kalangan keluarga dan generasi muda. Program ini diwujudkan melalui Sosialisasi Rumah Pangan B2SA dan Edukasi Konsumsi Pangan B2SA Goes to School (BGTS) di SMPN 10 Balikpapan, tanda bahwa sekolah dijadikan pintu masuk utama. Kaltim secara eksplisit menyasar keluarga dan pelajar agar memahami pemenuhan nutrisi seimbang dengan memanfaatkan sumber pangan lokal di sekeliling mereka.
Yang menarik, pendekatan ini tidak bergerak sendirian. Pelaksanaan program dilakukan melalui kolaborasi lintas lembaga: DPTPH Kaltim, dinas ketahanan pangan kota, dan tim penggerak PKK hingga tingkat kota. Fahmi Himawan menegaskan bahwa kolaborasi aktif dengan kader PKK dan kelompok masyarakat sipil menjadi kunci membangun budaya konsumsi pangan sehat langsung dari dapur keluarga. Di lapangan, Kelompok Wanita Tani ikut memperkuat pengembangan Rumah Pangan B2SA sebagai pusat edukasi dan produksi pangan bergizi. Secara praktis, ini berarti cegah stunting keluarga tidak lagi berhenti pada poster posyandu; ia hidup dalam kebun pekarangan, menu harian, dan obrolan antaranggota komunitas. Kaltim, lewat B2SA, sedang menunjukkan bahwa kesadaran gizi anak harus tumbuh dari ekosistem lokal, bukan resep seragam dari atas.
Banyumas dan gerakan ABCDE: mengunci rantai stunting sejak remaja
Sementara itu, Banyumas memilih jalur yang lebih eksplisit: gerakan ABCDE stunting. Pemerintah kabupaten ini menggencarkan percepatan penurunan angka stunting dengan pendekatan masif dan melibatkan peran aktif masyarakat. Wakil bupati menegaskan bahwa pencegahan gagal tumbuh tidak boleh dimulai setelah kelahiran, tetapi jauh sebelumnya, bahkan sejak masa remaja. Pernyataan ini bukan retorika; ia disampaikan di hadapan 134 peserta dalam kegiatan Gerakan Cegah Stunting di Pendopo Si Panji. ABCDE dirancang sebagai lima tindakan konkret: remaja putri aktif mengonsumsi tablet tambah darah; ibu hamil beratur memeriksakan kehamilan minimal enam kali; keluarga mencukupi konsumsi protein hewani; rutin datang ke posyandu; dan pemberian ASI eksklusif enam bulan pertama.
Disusun dalam bentuk akronim sederhana, gerakan ABCDE mempermudah masyarakat mengingat langkah kecil yang berdampak besar. Kepala Dinas Kesehatan menegaskan bahwa kegiatan ini bukan seremoni, tetapi penguatan komitmen lintas sektor, dari pemerintah, tenaga kesehatan, pendidikan, organisasi masyarakat, hingga sektor usaha dan media. Ia juga menempatkan keluarga sebagai garda terdepan, karena orang tua yang paling tahu kondisi dan tumbuh kembang anak setiap hari. Dengan kampanye ini, Pemkab Banyumas menargetkan bukan hanya peningkatan kesadaran, tetapi aksi nyata yang berkelanjutan menuju generasi bebas stunting. Di sini terlihat jelas: kesadaran gizi anak tidak dipisah dari siklus hidup remaja, calon ibu, hingga bayi. Banyumas sedang menutup celah stunting satu per satu melalui langkah yang bisa dilakukan di rumah dan posyandu.
Keluarga dan komunitas sebagai jantung program stunting daerah
Jika Kaltim bermain di ranah edukasi pangan B2SA dan Banyumas dengan gerakan ABCDE, keduanya sepakat pada satu hal: keluarga dan komunitas adalah jantung program stunting daerah. Di Kaltim, kolaborasi lintas lembaga yang menggandeng PKK dan kelompok masyarakat sipil disebut sebagai kunci membangun budaya konsumsi pangan sehat di akar rumput. Di Banyumas, keluarga disebut sebagai garda terdepan pencegahan stunting karena paling memahami kondisi anak. Pola ini menegaskan bahwa kebijakan tanpa perubahan perilaku rumah tangga akan berhenti sebagai dokumen. Pendekatan komunitas memungkinkan pesan gizi menyatu dengan kehidupan sehari-hari: dari kebun KWT, dapur ibu rumah tangga, hingga kelas remaja di sekolah.
Namun, keduanya juga memberi peringatan tersirat: edukasi saja tidak cukup bila tidak diiringi konsistensi dan dukungan struktural. Kaltim menempatkan sekolah sebagai ruang strategis untuk menanamkan B2SA sejak dini, sementara Banyumas menyiapkan rangkaian intervensi yang menjangkau remaja, ibu hamil, hingga bayi melalui ABCDE. Keduanya menunjukkan komitmen masif bahwa cegah stunting keluarga bukan proyek jangka pendek, melainkan investasi generasi. Tantangannya kini berpindah ke daerah lain: apakah mereka mau mengadopsi logika serupa—menguatkan edukasi gizi berbasis keluarga dan komunitas—atau terus bergantung pada intervensi sporadis yang mudah pudar begitu kegiatan selesai?






