BIFF sebagai ekosistem bisnis, bukan sekadar peragaan busana
Borneo International Fashion Festival adalah sebuah festival fashion di Samarinda yang dirancang sebagai ekosistem bisnis dan kreatif, yang mempertemukan desainer lokal, artisan, serta UMKM fashion Borneo dengan kreator dan komunitas dari berbagai daerah hingga Melbourne dalam ruang yang sama untuk bertukar ide, menjalin kolaborasi, dan membuka akses pasar lintas regional. BIFF digelar di Gedung Odah Etam, Kantor Gubernur Kalimantan Timur, Samarinda, pada 1–4 Oktober 2026, mengusung tema tegas: “From Borneo, For the World”. Pesan itu sederhana tapi ambisius: dunia perlu melihat apa yang dimiliki Borneo, dan pelaku fashion di Borneo berhak hadir dalam percakapan regional, bukan lagi sekadar penonton.
Founder sekaligus Chairwoman BIFF, Yulia Hadi, merangkum spirit festival ini dengan kalimat yang layak dikutip: “What we have in Borneo deserves to be seen by the world.” Ia berangkat dari pengalaman mengembangkan usaha wastra Kalimantan dan bertemu desainer, artisan, pelaku UMKM, serta talenta muda yang punya karya dan cerita, tetapi minim akses terhadap pasar lebih luas. Di titik inilah BIFF mengambil posisi politik yang jelas dalam lanskap kreatif: festival menjadi alat untuk merebut akses, menggeser pusat perhatian dari kota besar ke Samarinda, dan menunjukkan bahwa desainer lokal Samarinda serta UMKM fashion Borneo siap bermain di level regional.
Jaringan lintas kota hingga Australia: potensi kolaborasi desainer regional
Yang membuat BIFF penting bukan hanya catwalk, melainkan jaringan yang tercipta di belakang panggung. Karya yang ditampilkan datang dari Samarinda, Balikpapan, Kutai Kartanegara, Kutai Timur, Bontang, dan berbagai wilayah lain di Kalimantan Timur. Peserta juga berasal dari Bali, Jakarta, hingga Melbourne, Australia. Dengan komposisi seperti ini, frasa “kolaborasi desainer regional” berhenti menjadi jargon dan berubah menjadi praktik nyata: artisan dipertemukan dengan desainer, UMKM dengan buyer, pelaku ekonomi kreatif daerah dengan peluang pasar internasional.
Festival ini eksplisit menggelar Business Matching dengan pelaku UMKM di Penajam dan Samarinda sebagai ruang pertemuan untuk membahas pengembangan produk lokal serta peluang kerja sama dengan buyer dan mitra potensial. Dalam konteks Borneo fashion festival, agenda semacam ini jauh lebih strategis dibanding peragaan busana glamor tanpa tindak lanjut. Di sini, gaun dan wastra bukan hanya objek estetika, tetapi kartu nama yang membuka percakapan lintas kota dan lintas negeri. Pernyataan Yulia, “Going global doesn't mean leaving our identity behind. Our identity is our strength,” bukan slogan pemasaran; ini adalah panduan kerja bagi desainer lokal Samarinda yang ingin merambah pasar regional tanpa kehilangan akar.
Dari wastra ke agenda bisnis: menguatkan UMKM fashion Borneo
BIFF menegaskan bahwa UMKM fashion Borneo tidak lagi berdiri di pinggir panggung industri kreatif. Festival ini terang-terangan menyebut dirinya sebagai ruang untuk mempertemukan perancang busana, artisan, pelaku UMKM, komunitas, dan kreator dari sejumlah daerah. Kehadiran UMKM dalam Business Matching di Penajam dan Samarinda menunjukkan pergeseran fokus: dari sekadar ikut bazar menuju percakapan konkret soal pengembangan produk, standar kualitas, dan kerja sama dengan buyer. Di titik ini, BIFF berfungsi sebagai “inkubator sementara” yang menghubungkan pengetahuan kreatif dengan logika pasar.
Yang menarik, festival ini berlangsung bertepatan dengan momentum Hari Batik Nasional dan turut menampilkan batik serta wastra Nusantara. Ini bukan kebetulan kosmetik; kehadiran batik dan wastra di tengah percakapan bisnis menegaskan bahwa identitas lokal bisa menjadi nilai tambah ekonomi, bukan beban tradisi. Jika dibaca dari sudut pandang UMKM, BIFF menawarkan kesempatan untuk menguji apakah desain, cerita, dan teknik produksi mereka cukup kuat untuk mengikat minat buyer regional. Di sini, pertemuan komunitas, pengrajin lokal, dan pelaku usaha dalam satu ruangan menjadi langkah awal ekosistem yang lebih matang.
Samarinda sebagai simpul festival: resonansi dengan gerakan akar rumput
BIFF yang dipusatkan di Samarinda tidak berdiri sendiri. Kota ini mulai terbiasa menjadi tuan rumah festival yang menggabungkan isu sosial, budaya, dan ekonomi kreatif. Di Kampung Muang, hanya selisih hari dari gelaran BIFF, Komunitas Akar Kuning mengadakan Festival Muara Benanga pada 3–4 Oktober 2026. Festival Muara Benanga digelar sebagai ruang untuk merawat pengetahuan ekologis perempuan dan melestarikan tradisi masyarakat adat Dayak Benuaq, terbuka untuk masyarakat umum tanpa pungutan biaya.
Ketua Program Festival Muara Benanga, Nella Putri Giriani, menegaskan bahwa kegiatan tersebut berangkat dari keresahan terhadap isu ekofeminisme, karena kerusakan lingkungan berdampak besar pada kehidupan perempuan dan keluarga. Jika BIFF berbicara tentang wastra, identitas, dan pasar, Muara Benanga berbicara tentang alam, pengetahuan adat, dan tubuh perempuan. Keduanya bersama-sama menunjukkan arah baru bagi Samarinda: kota festival yang tidak hanya menjual tontonan, tetapi mengikat jejaring kreator, komunitas, dan masyarakat adat dalam perbincangan yang saling menyilangkan, dari kain hingga sungai.
Menuju ekosistem kreatif Borneo yang berkelanjutan
Pada akhirnya, BIFF memposisikan Borneo bukan sebagai latar eksotis, melainkan sebagai pusat dialog kreatif dan bisnis. Dengan mempertemukan desainer lokal Samarinda, artisan, UMKM fashion Borneo, komunitas, dan kreator lintas kota serta lintas negeri, festival ini membangun ekosistem yang memungkinkan kolaborasi desainer regional tumbuh dari pertemuan yang konkret. Namun ekosistem tidak cukup jika hanya hidup empat hari dalam setahun. Tantangannya: bagaimana jaringan yang tercipta di BIFF diterjemahkan menjadi kerja kolaboratif jangka panjang, dari produksi hingga distribusi.
Keberadaan festival lain seperti Muara Benanga, yang berharap dapat dilaksanakan rutin untuk memperkuat pelestarian budaya dan lingkungan, menunjukkan bahwa Borneo memiliki energi komunitas yang siap mendukung gerak industri kreatif. Jika BIFF terus mengikat diri pada identitas lokal sambil membuka akses pasar, dan jika gerakan akar rumput terus menjaga pengetahuan adat serta lingkungan, maka Borneo fashion festival bukan hanya agenda tahunan, melainkan pilar bagi ekonomi kreatif yang berakar kuat di tanahnya sendiri. Di sini, “From Borneo, For the World” menjadi janji sekaligus komitmen: dunia melihat Borneo, dan Borneo tidak kehilangan dirinya saat dilihat.






