Potensi Magelang perlu ditopang dari kandang hingga pasar
Sentra susu Magelang adalah rencana pengembangan peternakan sapi perah di Kabupaten Magelang untuk memperkuat produksi susu dan mendukung swasembada susu nasional. Gagasan ini menjanjikan, tetapi keberhasilannya tidak akan ditentukan oleh potensi wilayah saja: layanan kesehatan, kapasitas peternak, dan jalur pemasaran harus tumbuh seiring.
Pada Jumat, 30 Oktober 2026, Wakil Gubernur Jawa Tengah Taj Yasin Maimoen mendampingi kunjungan kerja Wakil Menteri Pertanian Muhammad Saleh Mustafa ke Sentra Sapi Perah Desa Sumberejo, Kecamatan Ngablak. Pemerintah provinsi menyatakan siap mendukung pengembangan Magelang sebagai sentra baru, sementara Kementerian Pertanian berencana mengusulkan daerah ini sebagai proyek percontohan persusuan. Langkah itu masuk akal: Jawa Tengah sudah memiliki pijakan produksi, tetapi memperluasnya memerlukan lebih dari penetapan kawasan.
Pada 2025, Jawa Tengah memiliki 77.566 sapi perah dan menghasilkan sekitar 75.366 ton susu, setara 9,66 persen produksi nasional serta menempatkannya di urutan ketiga. Namun, angka provinsi tidak otomatis menggambarkan kesiapan Magelang. Rencana baru patut dinilai dari kemampuan menambah produksi sekaligus memastikan manfaatnya sampai kepada peternak.

Kesehatan sapi perah adalah fondasi produktivitas
Penambahan populasi sapi tanpa pencegahan penyakit berisiko memperbesar masalah, bukan memperkuat pasokan susu. Karena itu, layanan kesehatan sapi perah bukan pelengkap program; layanan tersebut menjadi syarat agar ternak tetap produktif dan peternak dapat bertindak cepat ketika ada gejala penyakit.
Pemprov Jawa Tengah menyiapkan pelayanan kesehatan hewan dan telah menjalankan program Healing (Kesehatan Hewan Keliling), yang mendekatkan layanan kepada peternak serta menjangkau 13 kabupaten dan kota. Taj Yasin mengatakan peternak dapat berkoordinasi dengan pemerintah provinsi untuk pengobatan maupun pencegahan. Jangkauan itu memberi dasar yang berguna, tetapi manfaatnya bergantung pada konsistensi kunjungan, respons yang cepat, dan akses yang benar-benar mudah bagi peternak di kawasan pengembangan.
Pemerintah perlu memastikan layanan tidak berhenti pada penanganan kasus setelah ternak sakit. Pendampingan kesehatan berkala, pemantauan risiko, dan edukasi praktik pemeliharaan akan lebih membantu menjaga produktivitas dalam jangka panjang. Tanpa dukungan semacam itu, penambahan sapi perah Magelang dapat tertahan oleh gangguan kesehatan yang memengaruhi hasil susu dan keberlanjutan usaha.

Delapan kecamatan membuka peluang, koperasi masih menjadi titik lemah
Bupati Magelang Grengseng Pamuji menyebut sedikitnya delapan kecamatan memiliki kondisi agroklimat yang sesuai untuk peternakan sapi perah. Ngablak menjadi salah satu kawasan dengan aktivitas peternakan yang telah berkembang. Potensi ini layak ditindaklanjuti, tetapi pemilihan lokasi harus tetap memperhitungkan ketersediaan air dan pakan, kesesuaian lahan, serta akses ke pasar.
Hambatannya nyata: populasi ternak masih terbatas dan kapasitas koperasi belum cukup untuk memasok industri pengolahan susu secara langsung. Dua koperasi peternak, Sapto Argo dan Amarto, masing-masing menghasilkan kurang dari 2.000 liter susu per hari. Akibatnya, peternak masih mengandalkan perantara untuk menjual hasil produksi, sehingga posisi tawar dan harga jual yang mereka terima ikut terpengaruh.
Artinya, menambah jumlah ternak saja tidak cukup. Koperasi perlu mampu mengumpulkan, menjaga mutu, dan menyalurkan susu dalam volume yang dibutuhkan pembeli. Penguatan kelembagaan, infrastruktur, dan keterampilan sumber daya manusia harus berjalan bersama agar peluang sentra baru berubah menjadi pasar yang lebih pasti bagi peternak.
Swasembada susu harus terasa sampai ke peternak
Swasembada susu adalah sasaran yang berat, sebagaimana diakui Wakil Menteri Pertanian Muhammad Saleh Mustafa. Karena itu, proyek percontohan di Magelang sebaiknya dinilai bukan hanya dari jumlah ternak atau volume produksi, tetapi juga dari keterhubungan layanan kesehatan, kemampuan koperasi, dan kepastian penyerapan susu.
Pemerintah perlu menyelaraskan dukungan kesehatan hewan dengan pengembangan populasi, akses pakan dan air, kesiapan infrastruktur, serta kemitraan koperasi dengan industri pengolahan. Jika satu mata rantai tertinggal, produksi tambahan berisiko tidak memberi peternak akses pasar yang lebih baik. Sebaliknya, bila layanan dan kelembagaan dibangun sejak awal, perluasan produksi punya peluang lebih besar untuk bertahan.
Magelang memiliki dasar agroklimat dan kawasan yang potensial, tetapi belum otomatis siap menjadi sentra susu yang kuat. Kesimpulannya, layanan kesehatan ternak adalah kunci penting, bukan satu-satunya jawaban. Keberhasilan rencana ini bergantung pada kemampuan pemerintah dan koperasi mengubah potensi daerah menjadi produktivitas yang sehat serta pemasaran yang lebih menguntungkan peternak.






