Batik di Pancake: Ketika Warisan Budaya Pindah ke Meja Makan
Batik di pancake adalah aktivitas kreatif anak yang menggabungkan pola dan filosofi batik dengan pancake sebagai kanvas pancake, sehingga seni tradisional dapat dikenalkan melalui pengalaman kuliner yang hangat, inklusif, dan mudah diakses oleh keluarga lintas usia dan kemampuan. Di Mercure Surabaya Grand Mirama, gagasan ini diwujudkan dalam peringatan Hari Batik Nasional 2026 yang sengaja dibuat “berbeda” dari seremoni formal yang biasa kita lihat. Alih-alih kain mori, adonan dan lembaran pancake dijadikan media bereksperimen dengan motif dan warna batik.
Hotel ini mengundang siswa SMALB Karya Mulia untuk menghias pancake dengan motif terinspirasi batik, memindahkan seni yang sering terasa “jauh” menjadi sesuatu yang bisa dipegang, dihias, lalu dinikmati bersama. Menurut saya, keputusan menjadikan batik hadir di meja makan adalah pernyataan berani: batik bukan hanya milik peragaan busana atau upacara, tetapi bagian hidup sehari-hari yang boleh dimainkan, dieksplorasi, dan dicicipi.
Ruang Kreatif Inklusif di Coffee Café Central
Jumat, 2 Oktober 2026, Coffee Café Central berubah menjadi studio seni dadakan yang harum aroma adonan dan sirup pancake. Di sana, siswa SMALB Karya Mulia duduk berdampingan dengan para Heartists, sebutan untuk staf hotel, yang ikut mendampingi, mengobrol, dan berkreasi bersama. Di balik meja-meja penuh topping dan bahan dekorasi, yang terasa bukan suasana lomba, melainkan bengkel seni komunal yang ramah anak.
Setiap peserta bebas menentukan pola, bentuk, dan komposisi warna di atas pancake, menghasilkan karya kuliner dengan karakter masing-masing. Tiga karya terbaik memang dipilih sebagai bentuk apresiasi, tetapi panitia menegaskan bahwa fokusnya adalah kebersamaan dan kepercayaan diri, bukan persaingan tajam. Di sinilah saya melihat nilai penting acara ini: inklusi bukan sekadar undangan hadir, tetapi pengalaman kreatif yang dirancang setara sejak awal.
Menghidupkan Hari Batik Nasional Lewat Aktivitas Kreatif Anak
Peringatan Hari Batik Nasional 2026 di hotel ini tidak memilih jalur aman berupa workshop membatik di kain, melainkan menggeser fokus ke aktivitas kreatif anak yang dekat dengan dunia mereka: makanan. Dengan berbagai bahan dan elemen dekorasi, anak-anak diajak menggambar pola batik di atas pancake, bereksperimen dengan titik, garis, dan warna tanpa takut salah.
Cluster General Manager Sugito Adhi menyebut, mereka ingin merayakan batik dengan cara sederhana tetapi bermakna, menjadikan pancake sebagai kanvas untuk berkreasi sekaligus ruang ekspresi yang inklusif bagi setiap anak. Kutipan ini penting, karena menegaskan bahwa pelestarian budaya tidak harus kaku. Selama ada ruang untuk bertanya, tertawa, dan bereksperimen, batik akan terus menemukan cara baru untuk hidup di generasi berikutnya.
Dari Kanvas Pancake ke Masa Depan Batik
Dengan menjadikan pancake sebagai kanvas batik, Mercure Surabaya Grand Mirama menunjukkan satu hal: warisan budaya akan bertahan jika didekatkan ke pengalaman sehari-hari dan dibuka untuk semua orang, termasuk siswa berkebutuhan khusus. Ketika anak-anak bebas mencipta motif di atas makanan yang mereka sukai, batik berhenti menjadi konsep abstrak dan berubah menjadi pengalaman personal.
Melalui interaksi hangat antara siswa dan para Heartists, acara ini menegaskan komitmen hotel untuk melestarikan budaya lokal dengan cara yang segar, relevan, dan edukatif. Menurut saya, inilah arah perayaan Hari Batik yang layak ditiru: tidak berhenti pada seragam batik di satu hari tertentu, tetapi menghadirkan seni tradisional sebagai bagian alami dari momen-momen kecil yang membahagiakan di meja makan, kelas, dan ruang publik kita.






