Woman Support Woman: Dari Bantuan Sesaat ke Kemandirian Ekonomi
Program Woman Support Woman adalah inisiatif program pemberdayaan perempuan yang menyasar perempuan kepala keluarga dengan menggabungkan bantuan alat berbasis listrik dan edukasi ekonomi perempuan, agar mereka tidak hanya menerima bantuan sesaat tetapi membangun kemandirian ekonomi yang berkelanjutan di tingkat keluarga dan komunitas lokal. Pendekatan ini patut dibaca sebagai perubahan penting: dari pola bantuan karitatif menuju investasi pengetahuan dan sarana produksi. Ketika perempuan kepala keluarga diberi akses teknologi sederhana yang relevan dengan usaha rumahan, disertai pemahaman UMKM dan keselamatan ketenagalistrikan, mereka ditempatkan bukan sebagai penerima belas kasihan, melainkan pelaku ekonomi yang diakui. Di sinilah program PLN melalui Srikandi Movement menjadi menarik: korporasi tidak berhenti di citra, tetapi berusaha menautkan listrik dengan daya hidup perempuan yang menanggung beban ekonomi keluarga.
Fokus Kubu Raya: Alat Listrik, Edukasi, dan Perempuan Kepala Keluarga
Di Kabupaten Kubu Raya, Srikandi PLN Unit Induk Pembangunan Kalimantan Bagian Barat (UIP KLB) memusatkan program Woman Support Woman pada komunitas Perempuan Kepala Keluarga (PEKKA). Kegiatan yang digelar di kantor PEKKA pada 29 September tersebut diwujudkan melalui penyerahan 30 alat berbasis listrik untuk menunjang aktivitas produktif anggota komunitas. Pernyataan Ketua PEKKA, Sufatma, menegaskan dampaknya: bantuan peralatan dinilai sangat bermanfaat untuk usaha, sementara edukasi membuat anggota "tidak hanya menerima bantuan, tetapi memperoleh bekal untuk terus berkembang dan semakin mandiri". Di sini, kemandirian ekonomi perempuan dibangun lewat kombinasi sarana dan pengetahuan. Edukasi UMKM dari dinas terkait dan edukasi bahaya serta keselamatan ketenagalistrikan bukan pelengkap acara, tetapi fondasi agar pemanfaatan listrik dalam usaha bisa produktif, aman, dan berkelanjutan.
Strategi Korporat: Ruang Cerita, Energi Positif, dan Ekonomi Perempuan
Program pemberdayaan perempuan yang dijalankan PLN tidak berdiri sendiri di Kubu Raya. Di Bangka Belitung, Srikandi PLN Unit Induk Wilayah menghadirkan Ruang Cerita Ibu sebagai ruang berbagi, menguatkan, dan memberdayakan perempuan penggerak ekonomi lokal. Di forum ini, perempuan yang mengembangkan usaha dan memegang peran penting di keluarga mendapat dukungan berupa alat usaha bagi pengrajin daun nipah dan perlengkapan operasional serta keselamatan berkendara bagi komunitas Ojek Muslimah (O.MAH). Direktur Distribusi PLN menekankan bahwa ibu-ibu memiliki peran luar biasa dalam membentuk generasi dan masa depan bangsa, sehingga ruang berbagi energi positif menjadi penting. Praktiknya, ruang cerita berfungsi sebagai kanal pengalaman dan pengetahuan yang memperkuat jaringan sesama perempuan pengusaha kecil. Ketika korporasi menyediakan ruang ini, PLN membangun strategi yang tidak semata fisik (alat), tetapi juga sosial: narasi, dukungan emosional, dan contoh nyata perempuan sebagai penggerak ekonomi.
Mengapa Kombinasi Alat dan Edukasi Menjadi Kunci Kemandirian
Kekuatan program Woman Support Woman terletak pada kesadaran bahwa alat tanpa edukasi akan cepat usang, sementara edukasi tanpa sarana mudah mandek di teori. Penyerahan 30 alat berbasis listrik kepada anggota PEKKA dirancang agar langsung menambah kapasitas produksi di usaha rumah tangga. Di saat yang sama, rangkaian kegiatan secara eksplisit dibuat untuk membekali perempuan kepala keluarga dengan pengetahuan pengembangan usaha, serta pemahaman keselamatan ketenagalistrikan. General Manager UIP KLB menekankan harapan agar program tidak berhenti di bantuan, melainkan menjadi "pengungkit produktivitas" melalui sarana dan pengetahuan yang diberikan. Jika konsekuen, pendekatan ini dapat mengubah citra perempuan dari objek bantuan menjadi subjek ekonomi yang punya daya tawar. Dengan kombinasi alat dan edukasi ekonomi perempuan yang relevan, PLN menempatkan listrik sebagai modal produktif, bukan sekadar layanan utilitas.
Integrasi Internal PLN dan Tantangan Keberlanjutan
Keterlibatan UIP KLB dalam Srikandi Movement menunjukkan bahwa program pemberdayaan perempuan bukan inisiatif sporadis individu, melainkan bagian dari gerak organisasi di beberapa unit. Di Bangka Belitung, kehadiran Direktur Distribusi dan General Manager unit wilayah dalam Ruang Cerita Ibu menandai dukungan manajerial atas ruang cerita dan bantuan alat usaha. Di Kubu Raya, General Manager UIP KLB berbicara langsung tentang peran perempuan kepala keluarga sebagai penggerak ekonomi dari lingkup terkecil. Integrasi dari tingkat pusat hingga unit induk ini penting untuk konsistensi program pemberdayaan perempuan. Namun, tantangannya jelas: apakah dukungan alat listrik dan edukasi akan berulang dan terukur dampaknya, atau berhenti sebagai kegiatan seremonial? Kemandirian ekonomi perempuan membutuhkan kesinambungan pelatihan, pembaruan alat, dan jejaring pasar. Artinya, PLN perlu menjaga semangat woman support woman melampaui satu rangkaian kegiatan.






