Temukan minat Anda, bersama

Promo pilihan, ulasan jujur, dan cerita belanja dari mereka yang seminat dengan Anda — setiap hari di Kuybeli.

Temukan minat Anda, bersamaPromo pilihan, ulasan jujur, dan cerita belanja dari mereka yang seminat dengan Anda — setiap hari di Kuybeli.

Ji Chang-wook dan Filosofi Akting di The Scandal

Ji Chang-wook dan Filosofi Akting di The Scandal
Minat|Drama Korea

The Scandal: Tekanan Klasik yang Diubah Jadi Peluang

Ji Chang-wook The Scandal adalah kombinasi antara filosofi akting aktor Korea yang matang, karakter Jo Won yang kompleks, dan keberanian menghadapi adaptasi drama klasik yang penuh tekanan, ketika seorang aktor memilih menjadikan rasa tertekan dan risiko perbandingan sebagai ruang belajar dan kesempatan berkembang dalam kariernya sebagai seniman layar.

Inti dari perjalanan Ji di The Scandal adalah sikapnya terhadap tekanan. Serial ini bukan sekadar proyek baru di Netflix, melainkan mata rantai panjang adaptasi klasik Dangerous Liaisons yang sudah populer dan punya versi Korea Untold Scandal. Menyentuh warisan seperti itu berarti masuk ke wilayah yang rentan kritik dan perbandingan; namun Ji menilai tantangan ini layak diambil dan menjadikannya kesempatan membentuk ulang dirinya sebagai aktor, bukan sekadar menambah daftar filmografi.

Dalam wawancara di sebuah kafe di Seoul, ia mengakui tidak bisa menghindari rasa tertekan saat menggarap karya dengan original yang terkenal. Tetapi di titik inilah sikapnya menarik: alih-alih mundur, ia justru tertarik karena status klasik tersebut. Bagi Ji, ketika sebuah cerita telah hidup lama di banyak medium, tugas aktor bukan menirukan, melainkan menambahkan lapisan baru yang relevan dengan penonton masa kini.

Ji Chang-wook dan Filosofi Akting di The Scandal

Filosofi Akting: Fokus pada Interpretasi Pribadi

Cara Ji memandang peran Jo Won memperlihatkan filosofi akting yang jarang eksplisit diucapkan, tetapi terasa jelas dalam pilihannya. Ia tertarik pada sisi psikologis karakter yang kompleks, bukan pada glamor reputasi "penggoda terbesar di Joseon" saja. Di tengah sejarah panjang adaptasi dan bayang-bayang aktor senior seperti Bae Yong-joon, Ji memilih fokus pada interpretasinya sendiri, bukan terseret logika kompetisi.

Menurut wawancara bersama sebuah media di Samcheong-dong pada 22 September, Ji menonton The Scandal dan menganggap Jo Won sebagai salah satu peran yang ia ingin coba, meski sadar karya ini sudah diadaptasi ke berbagai versi sehingga memunculkan kekhawatiran. Sikap ini menggambarkan prinsip penting: kegelisahan kreatif bukan sesuatu yang dihilangkan, melainkan dipakai sebagai bahan bacaan emosional terhadap tokoh yang ia mainkan.

Awalnya ia mengira Jo Won hanyalah pria yang jatuh cinta pada dua perempuan, tetapi proses pendalaman naskah mengungkapkan bahwa karakter tersebut jauh lebih kompleks, dengan hubungan di sekelilingnya yang menarik. Di sinilah filosofi aktingnya tampak: Ji tidak berhenti pada label karakter, ia menelusuri kontradiksi batin, motivasi tersembunyi, dan dinamika kekuasaan yang membuat Jo Won relevan bagi penonton hari ini. Bagi Ji, akting berarti mengurai lapisan psikologis sampai tokoh terasa hidup, bukan sekadar mengulangi interpretasi yang sudah populer.

Membongkar Kompleksitas Jo Won dalam Adaptasi Drama Klasik

Memerankan karakter Jo Won di era Joseon menempatkan Ji di pusat intrik moral, kekuasaan, dan hasrat. The Scandal mengangkat latar Dinasti Joseon dengan norma ketat, di mana Jo Won adalah bangsawan penuh teka-teki yang mengejar penaklukan romantis penuh perhitungan dan menjadi pusat narasi. Adaptasi drama klasik dari Les Liaisons dangereuses ke konteks lokal ini menuntut ketepatan rasa: Ji harus mempertahankan kedalaman psikologis asli sekaligus mengalihkan sensibilitas Eropa abad ke-18 ke dunia sosial Joseon.

Konflik utama dimulai ketika Lady Cho menantang Jo Won menggoda perempuan saleh yang terikat ekspektasi sosial. Taruhan ini menggeser tokoh dari penggoda kalkulatif menjadi pria yang perlahan kabur batas antara permainan, kekuasaan, dan kasih sayang tulus. Ji menolak melihat Jo Won sebagai stereotip antagonis; ia mengasahnya sebagai manusia yang sadar permainan tetapi terseret perasaan, sehingga penonton tidak hanya membenci, melainkan memahami dan mungkin bersimpati.

Ketika karya klasik sudah memiliki film Korea tahun 2003 beserta figur kuat seperti Bae Yong-joon, tekanan perbandingan tidak terelakkan. Namun pilihan Ji untuk tetap memerankan Jo Won menunjukkan keberanian artistik: ia ingin mengajukan versi baru tokoh yang sama, dengan nuansa yang berbeda. Di sini, adaptasi bukan sekadar memindah cerita, tetapi negosiasi antara tradisi dan visi pribadi, di mana aktor menjadi salah satu penulis makna melalui tubuh dan ekspresinya.

Kolaborasi dengan Son Ye-jin dan Nana: Dimensi Baru dalam Akting

Salah satu alasan The Scandal terasa berlapis adalah dinamika antarpemeran. Di pusat intrik, Lady Cho yang diperankan Son Ye-jin digambarkan sebagai perempuan terlalu luar biasa untuk dikurung di ruang domestik dan menjadi arsitek taruhan cinta berbahaya. Berhadapan dengan sosok sekuat itu menuntut Ji mengubah energi aktingnya: Jo Won tidak sekadar memimpin cerita, ia harus saling mengimbangi kekuatan Lady Cho dan karakter lain, termasuk tokoh yang dijalankan Nana, sehingga hubungan antarfigur terasa meyakinkan.

Dalam wawancara, Ji berbagi pengalaman bekerja bersama Son Ye-jin dan Nana sebagai bagian dari proses kreatif. Kolaborasi ini bukan latar belakang manis, melainkan faktor yang mengubah cara ia membaca Jo Won. Ketika lawan main menghadirkan kedalaman masing-masing, aktor dipaksa merespons secara organik, memperhalus timing, gerak tubuh, dan nada dialog. Di sinilah filosofi akting kolektif terbentuk: karakter yang kompleks lahir dari pertukaran emosi di lokasi, bukan dari satu kepala saja.

Kehadiran Son Ye-jin sebagai pengendali intrik dan Nana sebagai bagian dari jaringan hubungan membuat Jo Won berdiri di tengah medan sosial yang padat, bukan ruang kosong. Pilihan Ji berfokus pada interpretasi sendiri, sambil membuka diri terhadap energi lawan main, menunjukkan bahwa akting yang baik adalah seni mendengarkan sama besarnya dengan seni mengekspresikan. The Scandal dengan demikian menjadi laboratorium kolaborasi, di mana setiap aktor menegosiasikan batas karakter masing-masing untuk menciptakan kimia yang terasa berbahaya sekaligus manusiawi.

Tekanan Produksi vs Kepuasan Artistik: Mengapa Tantangan Ini Layak Diambil

Ji tidak menutup mata terhadap sisi gelap proyek ini: tekanan produksi, beban nama besar, dan kekhawatiran pribadi terhadap karya yang sudah berkali-kali diadaptasi. Namun ia menyimpulkan bahwa semua itu layak diambil karena sifat klasiknya membuat tantangan terasa bernilai. Pernyataan bahwa ia "tidak bisa menahan rasa tertekan" tetapi tetap memutuskan mencobakan diri pada Jo Won, menunjukkan standar profesional yang menomorsatukan pertumbuhan artistik di atas kenyamanan.

Di balik tekanan terdapat kepuasan menghadapi peran menantang secara artistik: karakter dengan sisi psikologis rumit, latar moral ketat Joseon, dan jaringan hubungan yang saling bertarung. Di sini, Ji mengingatkan bahwa karier akting yang matang tidak dibangun dari peran aman, melainkan dari risiko yang membuka ruang redefinisi diri. Adaptasi drama klasik seperti The Scandal menuntut disiplin riset, keberanian menanggung kritik, dan kepekaan menyeimbangkan penghormatan pada sumber dengan kebutuhan penonton masa kini.

Kesimpulan yang terasa dari cara Ji bercerita adalah: seorang aktor harus rela tidak nyaman. Dengan menjadikan The Scandal sebagai eksperimen besar atas filosofi aktingnya, Ji tidak hanya menghidupkan Jo Won, tetapi juga menguji batas dirinya sebagai seniman. Untuk penonton yang tertarik memahami proses di balik layar, perjalanan ini menunjukkan bahwa tekanan produksi dapat diimbangi oleh kepuasan kreatif – selama aktor berani memeluk kompleksitas dan menjadikannya bagian dari pertumbuhan, bukan ancaman.

Kuybeli memperoleh komisi saat Anda berbelanja melalui tautan kami, tanpa biaya tambahan untuk Anda.

You May Also Like

Comments
Tulis sesuatu...
Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berbagi pendapat!