Agentic Technology Partnership: Jalan Cepat Menuju 5G AI-Native Telco
Agentic Technology Partnership adalah kolaborasi Indosat dan Huawei yang menggabungkan jaringan 5G, kecerdasan buatan, dan jaringan cerdas untuk membentuk 5G AI-Native Telco dengan layanan komunikasi, panggilan, dan cloud yang didorong agen AI otonom dan berbasis intensi demi pengalaman digital yang lebih cerdas bagi pengguna sehari-hari.Indosat Ooredoo Hutchison dan Huawei meresmikan Agentic Technology Partnership untuk memperkuat kapabilitas Connected Intelligence dengan mengintegrasikan jaringan 5G Indosat, teknologi AI, serta jaringan cerdas milik Huawei. Langkah ini bukan sekadar upgrade fitur, tetapi pilihan strategis: menjadikan jaringan otonom AI sebagai tulang punggung layanan digital masa depan dan mempertegas ambisi Indosat menjadi AI-Native Telco.
Kunci utamanya adalah pendekatan berbasis intensi: sistem membaca niat dan konteks pengguna, bukan hanya perintah teknis, sehingga layanan terasa lebih personal dan responsif bagi masyarakat. Dengan basis pengguna mendekati 100 juta, target Indosat adalah membawa sedikitnya 10 juta pelanggan ke produk AI barunya di tahun pertama. Kalimat ini penting: jika adopsi gagal, teknologi secanggih apa pun akan tampak seperti eksperimen mahal. Karena itu, kemitraan Agentic ini layak dibaca sebagai taruhan besar: Indosat dan Huawei mempertaruhkan ulang definisi operator seluler menjadi perusahaan teknologi dengan AI di tengah.

New Calling AI dan Idol Calling: Menelepon Jadi Layanan Digital Interaktif
New Calling AI dari kemitraan Indosat–Huawei mengubah panggilan suara dari sekadar suara dua arah menjadi layanan digital interaktif yang memakai AI untuk meredam bising, menerjemahkan bahasa secara instan, menambah visual, dan menghadirkan avatar digital selebritas sebagai bagian dari pengalaman komunikasi pengguna sehari-hari.Salah satu solusi utama yang diperkenalkan adalah AI New Calling, yang menanam kemampuan AI langsung ke layanan panggilan suara. Layanan ini membawa peredam kebisingan dua arah berbasis AI agar suara lawan bicara tetap jernih meski kedua pihak berada di lingkungan bising.
New Calling AI juga menawarkan terjemahan real-time, dalam bentuk suara maupun teks, selama percakapan berlangsung. Artinya, hambatan bahasa bisa dikurangi tanpa aplikasi tambahan—pilihan desain yang jelas berorientasi ke kenyamanan pengguna harian. Di atas itu, New Calling menambahkan lapisan visual: panggilan suara visual interaktif untuk memesan hotel atau restoran, serta fitur IDOLCALL yang menghadirkan avatar digital selebritas di layar ponsel pengguna selama panggilan. Di sini terlihat ambisi Indosat: panggilan bukan lagi produk lama yang dipertahankan, tetapi kanvas baru untuk layanan berbasis AI. Bila berhasil, New Calling AI berpotensi menghidupkan kembali relevansi layanan voice di era pesan instan.
Cloud Pintar Indosat: Dari Penyimpanan Awan ke Asisten Dokumen dan Foto
Cloud pintar Indosat melalui layanan Intelligent and Intent-Driven Cloud Drive dirancang bukan sekadar sebagai penyimpanan awan, tetapi sebagai sistem yang memahami niat pengguna untuk mengatur, menganalisis, dan menyempurnakan dokumen, media, serta foto menggunakan kecerdasan buatan yang terhubung erat dengan jaringan 5G dan kapabilitas Agentic AI.Solusi kedua yang diperkenalkan Indosat dan Huawei adalah Intelligent and Intent-Driven Cloud Drive, layanan untuk menyimpan, mengakses, mengatur, dan membagikan konten digital seperti foto, video, dan dokumen. Di sinilah konsep cloud pintar Indosat diuji: bukan hanya kapasitas, melainkan kecerdasan layanan.
Cloud ini menawarkan analisis dokumen otomatis, transkripsi teks hasil rapat, serta ringkasan cerdas. Bagi pengguna, ini berarti pekerjaan administratif berulang bisa dialihkan ke AI tanpa memindahkan data ke aplikasi lain. Di sisi visual, cloud drive menyediakan peningkatan kualitas foto berbasis AI, termasuk beautification otomatis, restorasi foto lama, dan upgrade resolusi ke definisi tinggi. Pendekatan berbasis intensi membuat cloud ini terasa seperti asisten pribadi yang memahami konteks, bukan laci digital statis. Bila diadopsi luas, cloud pintar Indosat berpotensi mengunci pengguna lebih dalam ke ekosistem operator—strategi yang selama ini lebih identik dengan perusahaan perangkat dan aplikasi, bukan operator jaringan.

Jaringan Otonom AI: Dari Level 3 ke Target Level 4
Jaringan otonom AI yang dikembangkan Indosat bersama Huawei adalah evolusi operasi jaringan dari monitoring manual menjadi sistem berbasis agen AI yang mampu menganalisis, memutuskan, dan mengeksekusi tindakan secara mandiri, dengan target akhir Level 4 di mana ekosistem jaringan dioptimalkan hampir tanpa campur tangan manusia untuk kestabilan dan pengalaman pelanggan yang lebih baik.Indosat dan Huawei memperkuat kerja sama untuk mengembangkan jaringan otonom berbasis AI sebagai bagian transformasi menuju perusahaan telekomunikasi berbasis AI. Perjalanan ini dimulai dua tahun lalu melalui Digital Intelligent Operation Center yang memantau jaringan secara real time.
Kini, Indosat telah mencapai Level 3 dalam skala kematangan jaringan otonom, dengan operasi jaringan mulai dibantu agen AI. Data awal cukup meyakinkan: jam kerja jaringan yang hilang turun 56%, keluhan pelanggan B2C turun 50%, dan B2B berkurang 32% dalam dua tahun penerapan. Target berikutnya adalah Level 4, ketika agen AI dapat mengelola sekaligus mengoptimalkan ekosistem dan jaringan secara lebih otonom. Transformasi ini tidak opsional: meluasnya 5G, IoT, dan lingkungan multi-cloud membuat skala dan kompleksitas jaringan meningkat tajam. Operator yang tetap mengandalkan operasi manual akan kalah cepat merespons gangguan dan kebutuhan pelanggan.
Menuju AI-Native Telco: Peluang Besar, Ekspektasi Lebih Besar
Transformasi Indosat menuju AI-Native Telco, didukung 5G dan Agentic RAN, adalah strategi untuk menjadikan jaringan dan layanan berbasis AI sebagai standar, bukan fitur tambahan, dengan fokus pada pengalaman pengguna yang stabil, personal, dan mudah diakses di aktivitas digital sehari-hari.Langkah penguatan 5G dan Agentic RAN menegaskan posisi Indosat menuju AI-Native Telco. Filosofinya jelas: keberhasilan AI diukur dari luasnya adopsi, bukan kerumitan teknologinya. Dengan target 10% dari hampir 100 juta pelanggan memanfaatkan produk AI di tahun pertama, ambisi ini agresif namun konsisten dengan narasi “customer love” yang menempatkan kebutuhan pelanggan sebagai titik awal inovasi.
Dari sisi pengguna, manfaatnya konkret: komunikasi lebih jernih dan lintas bahasa, pengelolaan dokumen dan media digital lebih otomatis, serta jaringan lebih stabil dan responsif. Dari sisi operator, jaringan otonom AI Level 4 menjadi fondasi untuk mengurangi downtime dan meningkatkan kualitas layanan secara berkelanjutan. Namun ekspektasi juga naik: begitu pelanggan terbiasa dengan New Calling AI dan cloud pintar, setiap gangguan kecil akan terasa sebagai kemunduran. Pada akhirnya, Agentic Technology Partnership hanya akan dinilai berhasil jika AI Indosat bukan sekadar fitur baru, tetapi menjadi cara baru pelanggan berkomunikasi, bekerja, dan menyimpan jejak digital mereka.





