Tenun Tradisional Modern: Runway Sebagai Ruang Negosiasi Budaya
Tenun tradisional modern adalah pendekatan desain yang menggabungkan kain wastra berpakem adat dengan siluet kontemporer, sehingga tercipta koleksi yang tetap menghormati filosofi dan teknik pengrajin sekaligus relevan dengan tren global, menjadikan runway sebagai ruang dialog antara fashion heritage dan estetika avant-garde yang progresif. Di peragaan Lungsara, dua desainer lokal menunjukkan bahwa tenun bukan sekadar ornamen eksotis, melainkan medium gagasan tentang identitas dan cara hidup. Lungsara sendiri adalah presentasi yang mempertemukan tiga jenama muda dengan kain tenun dari berbagai daerah, dari Baduy hingga Wajo. Fakta bahwa 12 karya KMK didominasi tenun Baduy dan Jepara, sementara 12 busana pria OTHMAN memakai tenun Sobi Wajo, menandakan keseriusan untuk mengangkat wastra ke pusat narasi, bukan pinggiran dekoratif.
KMK: Menjaga Pikukuh Baduy di Tengah Koleksi Avant-Garde
Yang paling menarik dari langkah KMK BY Karel Karuniawan adalah keberanian membawa dominasi tenun suku Baduy dan tenun Jepara dalam 12 karya di runway Lungsara tanpa mengkhianati pikukuh Baduy, prinsip hidup yang menolak intervensi berlebihan pada kain. Alih-alih mengubah karakter tenun, Karel memilih benturkan secara produktif estetika avant-garde—potongan berukuran ekstra, tekstur eksperimental, proporsi tak konvensional layaknya kepompong—dengan kesederhanaan geometris dan keterikatan adat pada alam. Kutub berlawanan ini tidak diselesaikan dengan kompromi dangkal, tetapi dengan menemukan “titik tengah” di mana DNA brand yang tegas dan besar bersanding dengan wastra yang sakral tanpa saling meniadakan. Di sini, kain tradisional tidak diperlakukan sebagai bahan yang boleh dimanipulasi sesuka hati, melainkan diposisikan dominan secara visual sehingga proses panjang pengrajin dihormati sebagai pusat koleksi, bukan latar belakang dekoratif.
OTHMAN: Menswear Oversize yang Setia pada Palet Tenun Sobi
Sementara KMK bermain di wilayah avant-garde, OTHMAN memilih jalur menswear kontemporer dengan siluet bersih dan karakter classy vintage yang menjadi identitas brand. Tantangannya, tenun Sobi dari Wajo hadir sebagai kain manual berukuran kecil, jauh dari kain pabrik lebar 140 cm yang biasa dipakai untuk jaket dan outerwear oversize OTHMAN. Dimas Muhammad Rusydi menanggapi ini bukan dengan menyederhanakan desain, tetapi mengolah keterbatasan menjadi detail pola potong yang lebih teliti. Keputusan paling signifikan adalah menjaga fashion heritage melalui palet warna: warna tenun Sobi dijadikan acuan, lalu diseimbangkan dengan material lain tanpa membuat palet terpisah. Dengan potongan besar khas OTHMAN tetap dipertahankan, koleksi ini mengubah tenun Sobi menjadi busana pria modern berpotongan oversize yang maskulin, sanggar, tetapi masih understated—sebuah pernyataan bahwa kain tradisional bisa memimpin, bukan sekadar mengikuti estetika menswear saat ini.
Menyeimbangkan Bahan Tradisional dan Material Kontemporer, Bukan Karakter Tekstil
Benang merah antara KMK dan OTHMAN adalah sikap mereka terhadap tenun tradisional modern: karakter tekstil tidak diubah, yang diubah adalah konteks dan pasangan materialnya. Karel eksplisit menyebut menemukan titik tengah agar tidak mengorbankan satu sisi antara tradisionalnya tenun Baduy dan DNA jenama. Dimas pun menggarisbawahi kolaborasi pada level siluet, bahan, dan konsep, di mana cutting modern dan relevan hadir berdampingan dengan tenun Sobi yang sarat kearifan lokal dan nilai filosofis. Bahkan untuk urusan warna, OTHMAN mengakui palet tenun sebagai referensi utama dan hanya menyeimbangkannya dengan material lain. Pola pikir ini menyalahi tren global yang sering mengubah motif atau memodifikasi tekstur demi efisiensi produksi. Di sini, desainer lokal runway memilih pekerjaan yang lebih rumit: menyesuaikan desain dengan lebar kain kecil, menangani bahan one-on-one dengan sangat hati-hati, dan meramu kombinasi tekstur berbeda sistem produksi sebagai bentuk inovasi gaya segar.
Fashion Contemporary sebagai Apresiasi Kerajinan Tangan dan Identitas
Lungsara menunjukkan bahwa tren tenun tradisional modern bukan nostalgia romantik, melainkan sikap politik budaya: menjadikan pengrajin dan identitas lokal sebagai subjek, bukan objek dekoratif. Ketika tenun Baduy dihadirkan dengan menjaga kesucian kain lewat penempatan dominan dan tenun Sobi Wajo diperlakukan sebagai bahan one-on-one yang membutuhkan kehati-hatian produksi, apresiasi terhadap kerajinan tangan diterjemahkan menjadi standar kerja yang lebih bertanggung jawab. Pada saat bersamaan, fashion heritage hadir jelas dalam filosofi kehidupan suku Baduy yang berbanding terbalik dengan identitas jenama KMK, serta kultur Makassar yang dibawa OTHMAN sehingga menswear terasa lebih “laki banget” tanpa kehilangan nuansa berkelas. Peragaan dengan ragam pendekatan terhadap kain tradisional ini menunjukkan fashion contemporary yang tidak takut berbeda dari arus utama: memelihara kompleksitas nilai dan cerita dalam setiap helai, sekaligus menjadikannya relevan di runway global yang haus citra segar.






