Aroepala: Barometer Keseriusan Proyek Infrastruktur Jalan Jelang Hujan
Jalan Aroepala Makassar adalah salah satu proyek infrastruktur jalan utama dalam pembangunan Sulawesi Selatan yang saat ini dipacu penyelesaiannya, dengan fokus pada drainase jalan raya dan progres konstruksi jalan agar tetap aman dan fungsional ketika musim hujan tiba. Di titik ini, pesan utamanya jelas: jika pemerintah gagal menyelesaikan pekerjaan kunci sebelum curah hujan meningkat, warga yang setiap hari melintasi koridor Makassar–Gowa akan menanggung risiko banjir, kemacetan, dan kerusakan jalan berulang. Pemprov terlihat memahami taruhannya, sehingga Aroepala dijadikan etalase percepatan. Pendekatan yang menempatkan drainase sebagai prasyarat pengaspalan patut diapresiasi, namun publik berhak mengawasi apakah ambisi 43–45 persen progres benar-benar bermakna bagi keselamatan dan kenyamanan pengguna jalan, bukan hanya angka di laporan mingguan.

Progres 43–45 Persen: Angka yang Harus Diartikan dari Sudut Pandang Warga
Pemerintah provinsi menyebut progres konstruksi Jalan Aroepala Makassar sudah berada di kisaran 43–45 persen. Dari total penanganan 1,8 kilometer, sekitar 1,8 kilometer badan jalan telah dirampungkan dengan konstruksi beton setebal 40 sentimeter, sementara 800 meter lainnya masih berkutat pada penyelesaian saluran. Secara teknis, angka ini tampak menggembirakan. Namun, bagi pengguna jalan, yang lebih penting adalah: seberapa lancar akses dan seberapa kecil risiko tergenang saat hujan. Lapisan aspal pertama di segmen 800 meter dipasang untuk menjaga lalu lintas tetap berjalan selama konstruksi. Itu pilihan realistis, tetapi konsekuensinya adalah periode gangguan yang lebih panjang. Di sisi lain, enam paket preservasi jalan yang sebagian masih di bawah target menunjukkan bahwa tekanan musim hujan belum sepenuhnya diimbangi dengan manajemen proyek yang merata.
| Paket Preservasi | Rencana Progres (%) | Realisasi (%) |
|---|---|---|
| Paket 1 | 41,16 | 40,55 |
| Paket 2 | 34,736 | 28,722 |
| Paket 3 | 28,639 | 34,691 |
| Paket 4 | 18,83 | 15,13 |
| Paket 5 | 26,081 | 26,236 |
| Paket 6 | 3,83 | 6,12 |
Drainase Jalan Raya: Tonggak Kritis Sebelum Aspal Lapis Kedua
Keputusan menjadikan drainase jalan raya sebagai pekerjaan yang dikebut adalah langkah paling masuk akal dalam konteks ancaman hujan yang akan memengaruhi pengerjaan fisik. Pada segmen I sepanjang 800 meter, perencanaannya memang dua lapis aspal: lapis pertama untuk menjaga arus lalu lintas, dan lapis kedua baru dikerjakan setelah seluruh saluran rampung. Ini bukan sekadar urutan kerja, melainkan strategi mengurangi risiko kerusakan dini. Seperti disampaikan Muhammad Rosyadi, “Insya Allah, setelah pekerjaan drainase di ruas Aroepala selesai, akan dilanjutkan dengan lapis kedua beserta pengerjaan marka jalan.” Artinya, kualitas akhir sangat bergantung pada ketepatan dan kerapian saluran. Jika drainase diabaikan atau terburu-buru, dua lapis aspal pun tidak akan tahan lama, dan proyek infrastruktur jalan ini hanya akan mengulang pola tambal sulam yang sudah lama dikeluhkan warga.
Musim Hujan sebagai Deadline Politik dan Teknis Pembangunan Sulawesi Selatan
Percepatan banyak ruas, termasuk BTP–Moncongloe dan paket preservasi lainnya, jelas dipicu kalender musim hujan. Penguasa daerah memahami bahwa genangan dan lubang jalan akan segera berubah menjadi isu politik. Ruas BTP–Moncongloe, misalnya, ditargetkan selesai tahun ini karena menjadi akses vital masyarakat dan menggunakan konstruksi beton 40 sentimeter dengan drainase yang mulai masuk tahap pengecoran dalam satu hingga dua pekan. Di atas kertas, pembangunan Sulawesi Selatan tampak agresif: ada rencana pembenahan 1.200–1.300 kilometer, mulai dari rigid pavement hingga rehabilitasi. Namun, keberhasilan tidak diukur dari panjang daftar proyek, melainkan dari apakah warga merasakan peningkatan kenyamanan dan keamanan di jalan. Musim hujan, dalam konteks ini, menjadi ujian apakah percepatan yang diklaim benar-benar melindungi pengguna jalan dari banjir dan kerusakan.
Aroepala sebagai Model: Dari Koridor Betonan ke Penataan Kawasan
Penanganan Jalan Aroepala sepanjang 1,8 kilometer dibagi dua segmen: 800 meter aspal dua lapis dan 1 kilometer beton, ditentukan lewat kajian teknis dan karakteristik lokasi. Koridor ini jelas lebih dari sekadar badan jalan; ia menjadi contoh bagaimana progres konstruksi jalan bisa diintegrasikan dengan penataan kawasan. Setelah beton memenuhi umur dan ruas dibuka kembali untuk kendaraan, pekerjaan berlanjut ke median, pedestrian, trotoar, dan saluran drainase dengan U-Ditch pracetak. Penanganan ini merupakan bagian dari paket multi-year dengan nilai sekitar Rp487 miliar, yang mencakup 13 ruas di beberapa daerah. Jika Aroepala berhasil diwujudkan sebagai koridor tertata, aman, dan nyaman, ia layak dijadikan standar minimal. Bila tidak, angka persentase dan nilai proyek hanya akan terasa seperti klaim tanpa makna bagi pengendara yang setiap hari menghindari lubang dan genangan.






