Temukan minat Anda, bersama

Promo pilihan, ulasan jujur, dan cerita belanja dari mereka yang seminat dengan Anda — setiap hari di Kuybeli.

Temukan minat Anda, bersamaPromo pilihan, ulasan jujur, dan cerita belanja dari mereka yang seminat dengan Anda — setiap hari di Kuybeli.

UMARATU Foundation, Rumah Ibu Bumi bagi Penenun Perempuan

UMARATU Foundation, Rumah Ibu Bumi bagi Penenun Perempuan
Minat|Industri Fashion

UMARATU sebagai Rumah Ibu Bumi dan Tafsir Baru Tenun Sumba

UMARATU Foundation adalah rumah budaya yang dimaknai sebagai Rumah Ibu Bumi, yaitu sebuah ruang teduh yang merangkul ekosistem Tenun Sumba tradisional dengan menjadikan penenun perempuan sebagai jantung pelestarian warisan tekstil, serta mengaitkan sandang, pangan, dan papan agar kembali berakar pada tradisi leluhur dan pengetahuan lokal yang hidup di masyarakat. Di sini, tenun tidak dipandang hanya sebagai produk sandang, tetapi sebagai naskah bisu yang menyimpan ingatan kolektif. Asha Smara Darra menegaskan, “Tenun Indonesia bukan sekadar lembaran kain nan indah, melainkan naskah bisu yang menuturkan luhurnya peradaban Nusantara.” Sikap ini membuat UMARATU berposisi bukan sebagai galeri kain, melainkan rumah ide yang menempatkan identitas, kisah, dan hubungan manusia-alam sebagai inti. Pendekatan tersebut penting: tanpa kerangka nilai, pelestarian mudah jatuh menjadi sekadar estetika, terputus dari konteks sosial penenun perempuan Sumba yang menjadi napas di balik setiap helai benang.

UMARATU Foundation, Rumah Ibu Bumi bagi Penenun Perempuan

Dua Puluh Lima Tahun Dedikasi Wastra dan Lahirnya UMARATU

UMARATU Foundation lahir dari perjalanan seperempat abad Asha Smara Darra dan Oscar Lawalata Culture menyelami dunia wastra. Selama 25 tahun, Oscar konsisten membawa kain tradisional ke berbagai eksplorasi fesyen sekaligus memperkenalkan kekayaan budaya di baliknya. Momentum 25 tahun ini menjadi titik balik: bukan lagi menghadirkan koleksi busana baru, melainkan mendirikan rumah budaya di Maujawa, Sumba Timur, sebagai bentuk dedikasi menjaga warisan tradisi Sumba agar tetap relevan di tengah perubahan zaman. Nama UMARATU—gabungan dari “uma” (rumah) dan “ratu” (kekhidmatan)—menggambarkan niat menghadirkan ruang yang menginformasikan dan menghidupkan kembali tradisi, bukan sekadar memajang kain. Menurut Asha, UMARATU lahir dari kerinduan spiritual untuk memeluk ekosistem budaya secara utuh, menyediakan ruang teduh tempat sandang, pangan, dan papan kembali berakar pada tradisi leluhur. Di sinilah transisi penting terjadi: wastra tidak lagi berhenti di runway, tetapi turun ke tanah tempat tradisi itu tumbuh.

UMARATU Foundation, Rumah Ibu Bumi bagi Penenun Perempuan

Sandang: Tenun Sumba Tradisional sebagai Naskah Hidup

Pilar sandang di UMARATU Foundation menolak cara pandang sempit yang hanya menilai kain dari keindahan motif. Tenun Sumba tradisional dibaca sebagai naskah hidup: proses, teknik, material, dan cerita di balik pembuatannya menjadi satu kesatuan pengetahuan yang perlu dicatat dan dirawat. Selama 25 tahun mendalami wastra, Asha melihat perempuan penenun sebagai sosok kunci yang membuat tradisi terus bernapas. Mereka menyimpan teknik ikat, pemilihan serat, pewarnaan, sampai filosofi motif yang diwariskan turun-temurun. Fokus UMARATU terhadap penenun perempuan Sumba bukan romantisasi peran domestik, melainkan pengakuan bahwa ingatan budaya tersimpan di tangan mereka. Dengan riset dan pengembangan, pengetahuan sandang ini dikumpulkan agar bisa dipelajari generasi berikut dan tidak berhenti sebagai warisan masa lalu, melainkan menjadi referensi hidup dalam percakapan kontemporer tentang fesyen, identitas, dan kain nusantara yang berkelanjutan sebagai gagasan yang terus berkembang.

UMARATU Foundation, Rumah Ibu Bumi bagi Penenun Perempuan

Pangan dan Papan: Menambatkan Tenun pada Kehidupan Sehari-hari

Keputusan UMARATU Foundation untuk menempatkan pangan dan papan sejajar dengan sandang adalah sikap politis yang penting. Pangan mengacu pada kekayaan bahan pangan dan pengetahuan lokal yang menjadi bagian dari kehidupan masyarakat Sumba—hasil alam, cara mengolah, dan memanfaatkannya dibaca sebagai pengetahuan budaya yang tak terpisah dari praktik menenun. Papan menyentuh ranah arsitektur dan ruang tinggal: penggunaan bambu sebagai material utama bangunan UMARATU menunjukkan bagaimana bahan lokal yang dekat dengan lingkungan dapat dipakai untuk menghadirkan ruang yang punya nilai budaya sekaligus ramah ekosistem. UMARATU berlokasi di tengah lima desa di Sumba Timur, sehingga tidak terasa berdiri di luar kehidupan sehari-hari warga. Pilihan ini jelas: tenun tidak dapat bertahan jika tanah, pangan, dan rumah penenun rapuh. Pelestarian warisan tekstil harus menambatkan diri pada kenyataan sosial—pilar-pilar hidup yang memberi makan, menaungi, dan menyokong penenun perempuan Sumba.

UMARATU Foundation, Rumah Ibu Bumi bagi Penenun Perempuan

Dari Pelestarian ke Pengembangan: Masa Depan Tenun Sumba

UMARATU Foundation menolak anggapan bahwa pelestarian budaya berarti membekukan tradisi. Melalui riset dan pengembangan, warisan tradisi tidak hanya dijaga, tetapi dipelajari supaya terus hidup dan relevan dengan perkembangan zaman. Kehadiran UMARATU di Maujawa diharapkan menjadi ruang pertemuan masyarakat, budaya, pengetahuan lokal, dan siapa pun yang ingin belajar lebih jauh tentang Sumba. Bagi orang luar, mengenal kain tidak cukup berhenti pada motif atau menjadikannya statement fesyen; ada sejarah, keterampilan, dan pengetahuan masyarakat yang melekat di dalamnya. Setelah 25 tahun dedikasi untuk kain, langkah memasuki ranah riset, edukasi, dan pelestarian langsung di lingkungan asal tradisi adalah sinyal bahwa tenun dan budaya Sumba dipandang sebagai sesuatu yang masih bisa terus berkembang. Masa depan Tenun Sumba tradisional bertumpu pada sejauh mana dunia bersedia mengakui penenun perempuan sebagai penjaga ingatan bangsa dan memberi mereka ruang, bukan sekadar panggung sesaat.

UMARATU Foundation, Rumah Ibu Bumi bagi Penenun Perempuan

Kuybeli memperoleh komisi saat Anda berbelanja melalui tautan kami, tanpa biaya tambahan untuk Anda.

You May Also Like

Comments
Tulis sesuatu...
Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berbagi pendapat!