Temukan minat Anda, bersama

Promo pilihan, ulasan jujur, dan cerita belanja dari mereka yang seminat dengan Anda — setiap hari di Kuybeli.

Temukan minat Anda, bersamaPromo pilihan, ulasan jujur, dan cerita belanja dari mereka yang seminat dengan Anda — setiap hari di Kuybeli.

Bandara Husein Sastranegara Buka Lagi Pintu Internasional

Bandara Husein Sastranegara Buka Lagi Pintu Internasional
Minat|Destinasi Luar Negeri

Bandara Husein Jadi Gerbang Internasional Lagi

Bandara Husein Sastranegara internasional adalah penghubung udara utama dari pusat Kota Bandung yang sedang dipersiapkan kembali sebagai pintu penerbangan internasional, dengan rute langsung ke sejumlah kota di Asia Tenggara untuk memperkuat mobilitas bisnis, wisata, dan konektivitas regional antara Jawa Barat dan negara tetangga mulai penerbangan internasional Oktober 2026. Rencana menghidupkan lagi rute luar negeri ini bukan sekadar langkah teknis, melainkan pernyataan politik kota: Bandung menolak menjadi penonton dalam arus pariwisata dan perdagangan regional. Bandara yang sempat kehilangan status internasionalnya kini diposisikan sebagai katalis kebangkitan ekonomi, karena wisata Bandung akses mudah adalah kunci agar hotel, restoran, dan pelaku kreatif kembali menikmati arus wisatawan yang stabil. Tanpa konektivitas udara yang praktis, semua kampanye destinasi hanya berakhir di brosur.

Tiga Rute Perdana dan Janji Ekspansi ke Thailand

Kekuatan utama kebangkitan Bandara Husein Sastranegara internasional ada pada rute perdananya: Bandung–Kuala Lumpur, Bandung–Singapura, dan Bandung–Johor Bahru. Inilah koridor udara yang selama ini diburu warga Bandung, tapi harus diakses lewat bandara kota lain. Maskapai SCOOT dan Trans Nusa disiapkan mengoperasikan rute penerbangan Singapura Bandung serta rute ke Kuala Lumpur dan Johor Bahru. Di atas kertas, ini sudah cukup menghubungkan pusat bisnis dan hub wisata Asia Tenggara. Namun ambisi kota tidak berhenti di sana. Pemerintah daerah menargetkan ekspansi ke Thailand, dengan penyiapan rute langsung menuju negara tersebut sebagai bagian daftar rute favorit yang akan dibuka. Kombinasi Malaysia, Singapura, dan Thailand akan mengubah Bandung dari kota tujuan domestik menjadi titik berangkat wisata regional.

Siap 99,85 Persen: Infrastruktur Bukan Lagi Alasan

Sering kali alasan klasik menghambat penerbangan internasional adalah keterbatasan fasilitas. Kali ini, argumen itu runtuh. General Manager Granito W. Hindrawan menegaskan kesiapan fasilitas dan operasional bandara telah mencapai 99,85 persen. Terminal luar negeri dipoles habis: area check-in, boarding lounge, dan kedatangan dibenahi, dengan 16 konter check-in domestik dan 10 konter internasional yang dilengkapi self check-in dan conveyor belt bagasi. Proses pembaruan status sebagai bandara internasional dan finalisasi fisik terminal keberangkatan dan kedatangan ditargetkan selesai akhir September, persis sebelum penerbangan internasional Oktober 2026 dimulai. Kutipan kunci yang layak dicatat: “Kesiapan tentunya sudah kami lakukan, mencakup fasilitas pelayanan penumpang dan operasional penerbangan, serta didukung dengan koordinasi bersama para pemangku kepentingan terkait.” Artinya, jika masih ada hambatan, sumbernya bukan lagi infrastruktur, melainkan keberanian regulasi dan konsistensi pengelolaan.

Dampak Nyata: Wisata, Bisnis, dan Kantong Warga

Bagi warga, dampak utama bukan sekadar papan nama “internasional” di terminal, melainkan perubahan pola perjalanan. Kehadiran akses langsung ke luar negeri mempermudah mobilitas warga lokal yang ingin berlibur atau berbisnis tanpa perlu menguras waktu ke bandara di luar kota. Tiga rute tadi memberikan alternatif penerbangan langsung ke Kuala Lumpur, Singapura, dan Johor Bahru, membuka peluang wisata Bandung akses mudah bagi wisatawan dari tiga wilayah itu. Proyeksi penumpang internasional bahkan ditargetkan mencapai 51.618 orang di tahun awal, melompat menjadi 413.571 penumpang pada 2027. Ini bukan angka kecil; jika diarahkan baik, dapat mengisi kamar hotel, menggerakkan transportasi kota, dan menambah pelanggan usaha kuliner serta kreatif. Pembukaan konektivitas ini jelas diharapkan mendukung mobilitas masyarakat sekaligus mendorong aktivitas pariwisata dan perekonomian Jawa Barat.

Tantangan Lanjut: Integrasi Transportasi dan Konsistensi Kebijakan

Kebijakan udara hanya akan efektif jika disambut kebijakan darat yang cerdas. Pemerintah kota sudah mulai mengurus parkir, taksi meter, taksi online, angkutan pengumpan, hingga integrasi dengan BRT Bandung Raya sebagai feeder bandara. Ini langkah yang patut diapresiasi, sebab tanpa akses dari dan ke bandara, rute penerbangan Singapura Bandung dan lainnya hanya menguntungkan segelintir pengguna mobil pribadi. Namun pekerjaan rumah tetap besar: memastikan jadwal angkutan publik selaras dengan jadwal pesawat, menjaga tarif tetap masuk akal, dan yang paling penting, mempertahankan frekuensi penerbangan domestik yang ditargetkan naik dari 1.000–1.200 penumpang per hari menjadi 3.000 penumpang per hari pada akhir Oktober. Kesimpulannya, Bandara Husein Sastranegara sudah mengambil langkah berani. Agar tidak mengulang sejarah penurunan status, kota harus mengawal kebijakan ini dengan data, evaluasi rutin, dan keberpihakan pada pengguna, bukan semata pada angka penerbangan.

Kuybeli memperoleh komisi saat Anda berbelanja melalui tautan kami, tanpa biaya tambahan untuk Anda.

You May Also Like

Comments
Tulis sesuatu...
Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berbagi pendapat!