Tulisan sebagai ruang merawat ingatan
Cerita daerah Jambi adalah kisah, bahasa, pengalaman, dan kearifan masyarakat setempat yang membentuk identitas bersama dan dapat diwariskan melalui tulisan. Karena itu, ajakan PLN UID S2JB kepada generasi muda untuk menulis bukan sekadar kegiatan literasi; ini cara agar ingatan lokal tidak berhenti pada tradisi lisan atau kenangan pribadi.
Inisiatif tersebut dihadirkan melalui Rumah BUMN Jambi, binaan PT PLN (Persero) Unit Induk Distribusi Sumatera Selatan, Jambi, dan Bengkulu, dalam kegiatan “Negeri Pusako, Kata-kata Batuah: Menulis dari Tanah Sendiri”. Kegiatan yang berlangsung bertepatan dengan momentum Hari Sumpah Pemuda itu mengajak peserta menggali cerita, bahasa, pengalaman, dan kearifan lokal sebagai bahan tulisan. Pengaitan dengan Sumpah Pemuda memberi pesan yang tepat: keberagaman daerah bukan penghalang persatuan, melainkan bagian dari identitas yang perlu dikenali dan diceritakan.

Dari lingkungan dekat, lahir cerita yang bernilai
Menulis cerita lokal tidak mensyaratkan kisah besar atau pengalaman luar biasa. Kegiatan ini mendorong peserta melihat lingkungan sekitar sebagai sumber inspirasi—mulai dari bahasa dan kebiasaan, hingga bahan lokal dan proses pembuatan produk. Pilihan ini penting: ketika masyarakat merasa kisahnya layak dicatat, pelestarian budaya daerah menjadi praktik sehari-hari, bukan urusan yang hanya dibebankan kepada lembaga kebudayaan.
General Manager PLN UID S2JB Diksi Erfani Umar menilai generasi muda dapat menjaga identitas bangsa dengan mengenali dan memperkenalkan kekayaan daerah melalui karya tulis. Ia juga menegaskan bahwa menulis bisa merekam pengalaman dan menjaga ingatan tentang suatu daerah, sementara cerita sederhana hari ini dapat menjadi catatan berharga bagi generasi berikutnya. Gagasan itu layak diteruskan: cerita lokal akan lebih mudah dikenal jika dituturkan dengan bahasa yang dekat dengan pembaca masa kini.
Cerita lokal juga menguatkan usaha warga
Manfaat menulis tidak berhenti pada dokumentasi budaya. Peserta Alvin Alvian mengatakan kegiatan itu mengubah cara pandangnya tentang cerita di balik produk UMKM. Asal-usul, bahan, budaya, dan proses pembuatan dapat memberi inspirasi untuk nama produk, kemasan, serta cara memperkenalkannya kepada konsumen. Dengan kata lain, pelaku usaha tidak hanya menawarkan barang, tetapi juga membawa cerita dari Jambi.
Sudut pandang ini membuat literasi terasa praktis bagi masyarakat: kemampuan bercerita membantu usaha menyampaikan ciri khasnya, sementara dokumentasi menjaga pengetahuan dan pengalaman agar tidak mudah hilang. Rumah BUMN Jambi pun diposisikan bukan hanya sebagai tempat peningkatan kapasitas usaha, melainkan ruang untuk belajar, bertukar gagasan, membangun jejaring, dan mengembangkan kreativitas. Pemberdayaan yang baik memang perlu mencakup kepercayaan diri dan keberanian warga mengembangkan potensi yang sudah mereka miliki.
Ajakan perlu berlanjut menjadi kebiasaan
Satu kegiatan dapat membuka pintu, tetapi pelestarian memerlukan kesinambungan. PLN UID S2JB menyatakan akan terus mendorong melalui pembinaan Rumah BUMN Jambi ruang-ruang pengembangan kapasitas masyarakat yang sesuai dengan kebutuhan dan potensi lokal. Agar ajakan ini berdampak panjang, anak muda perlu mendapat ruang untuk terus menulis, berbagi, dan menyimpan kisah yang mereka temukan di sekitar.
Kesimpulannya, merawat cerita daerah Jambi lewat tulisan adalah langkah sederhana dengan arti yang luas: menjaga identitas, meneruskan ingatan, sekaligus membantu potensi lokal berbicara kepada khalayak yang lebih besar. Dorongan PLN melalui Rumah BUMN Jambi patut dinilai bukan hanya dari terselenggaranya kegiatan, tetapi dari tumbuhnya kebiasaan masyarakat untuk mencatat kisahnya sendiri. Budaya akan tetap dikenal ketika ada generasi yang bersedia menuliskannya dan mewariskannya.






