OSN Bukan Sekadar Lomba, Melainkan Peta Talenta Sains Nusantara
Olimpiade Sains Nasional 2026 adalah ajang kompetisi sains siswa yang menghimpun murid terbaik dari jenjang SD/MI dan SMP/MTs untuk beradu kemampuan di bidang Matematika, IPA, dan IPS, sekaligus menjadi peta persiapan OSN tingkat nasional yang menampilkan prestasi akademik regional dan beragam strategi sekolah dalam membina talenta sejak seleksi berjenjang hingga babak final. OSN tahun ini bukan sekadar rutinitas tahunan; ia sedang menguji sejauh mana sistem manajemen talenta di sekolah dan daerah mampu mengangkat murid biasa menjadi finalis luar biasa. Sebanyak 689 murid SD/MI dari 38 provinsi serta Sekolah Indonesia Luar Negeri bertarung pada tiga bidang utama tersebut, memperlihatkan skala kompetisi yang kian besar dan menantang. Lonjakan pendaftar hingga naik 18,98 persen setelah penerapan Permendikdasmen Nomor 25 Tahun 2025 menunjukkan bahwa ketika negara serius mengatur pembinaan talenta, sekolah di daerah merespons dengan kerja sistematis, bukan sekadar kirim peserta.
Madrasah Menonjol: MAN 2 Malang, MTsN 1 Palangka Raya, dan SD Muhammadiyah Banjarmasin
Satu pesan penting dari Olimpiade Sains Nasional 2026: madrasah dan sekolah berbasis keagamaan tidak lagi hanya dipandang kuat di pendidikan karakter, tetapi juga menjadi pusat prestasi sains. MAN 2 Kota Malang misalnya, meloloskan 13 siswa ke final OSN dan menempati urutan ketiga nasional sebagai penyumbang finalis terbanyak. Ini membantah anggapan lama bahwa kompetisi sains siswa hanya dikuasai sekolah umum di kota besar. Di jenjang SMP/MTs, tiga murid MTsN 1 Palangka Raya—Farhan Shehzad Adyatama dan Naurafania Winanti Widyakirana di bidang IPA, serta Aisyah Madina Hasan di Matematika—menapaki final nasional setelah seleksi berlapis dan pembinaan intensif di laboratorium bahasa yang menjadi ruang perjuangan mereka. Di tingkat dasar, SD Muhammadiyah 8 dan 10 Banjarmasin mengirim Luthfian Maulana (Matematika) dan Rajendra Ukail Hasyim Ahmad (IPS) sebagai wakil Kalimantan Selatan, hasil dari kompetisi berjenjang, latihan mandiri, dan dukungan keluarga serta sekolah yang disiplin. Jika madrasah dan sekolah Muhammadiyah bisa menembus puncak OSN, masalah kita bukan pada jenis lembaga pendidikan, melainkan pada keseriusan membangun budaya belajar dan pembinaan talenta.

Dari Kutacane ke Kolaka: Prestasi Akademik Regional Menggoyang Pusat
Prestasi akademik regional dalam Olimpiade Sains Nasional 2026 memberi peringatan halus kepada pusat: jangan meremehkan daerah pinggiran. SMPN 1 Kutacane di Kabupaten Aceh Tenggara mengantar dua murid ke panggung nasional, M. Iqbal Akbar di IPS dan M. Alfi Syahri di IPA, setelah melewati seleksi berjenjang hingga tingkat provinsi dan mengikuti rangkaian tes observasi, teori, tertulis, serta presentasi melalui LMS dan pengawasan daring yang ketat. Di Sulawesi Tenggara, Kabupaten Kolaka mendominasi perwakilan provinsi dengan tiga dari lima siswa yang lolos OSN SMP/Sederajat nasional berasal dari daerah tersebut. Ainiatul Husna (SMPN 4 Samaturu), Aditia Wardana (SMPN 3 Toari), dan Hafedz El Farouq (MTs Baitul Arqam) bertanding dari Command Center Dinas Pendidikan, diawasi dua kamera langsung ke server pusat, menunjukkan bahwa bahkan sekolah pelosok seperti SMPN 4 Samaturu bisa bersaing jika diberi fasilitas dan pendampingan. Ketika pelajar dari Kutacane dan Kolaka sampai ke panggung nasional, narasi "prestasi milik kota besar" pelan-pelan runtuh.

NTB Jadi Tuan Rumah, OSN Daring, dan Strategi Teknis Sekolah
Di tengah perluasan skala Olimpiade Sains Nasional 2026, kesiapan teknis sekolah menjadi penentu apakah talenta daerah bisa tampil tanpa tersandung masalah jaringan dan perangkat. SMKN 3 Mataram, yang menjadi salah satu lokasi pelaksanaan OSN tingkat nasional, menyiapkan tiga laboratorium komputer dan satu ruang pertemuan, lengkap dengan tim teknologi informasi untuk menjaga kelancaran kompetisi yang diikuti 21 finalis asal NTB dari jenjang SD/MI dan SMP/MTs di bidang Matematika, IPA, dan IPS. Di sisi lain, pelaksanaan OSN jenjang SMP/MTs nasional menggunakan LMS Moodle dan pengawasan melalui Zoom Meeting, dengan jadwal yang ketat: pembukaan dan technical meeting 26 Agustus, disusul tes observasi dan teori untuk IPA, serta tes tertulis dan presentasi untuk IPS pada 27–28 Agustus. Di MTsN 1 Palangka Raya, finalis mengikuti pembukaan dan technical meeting dengan guru pembimbing, lalu bersiap menghadapi babak final pada 27–28 Agustus. Tanpa strategi teknis yang matang—ruang, jaringan, pendampingan—semua kerja keras akademik berisiko runtuh oleh satu gangguan koneksi.

Kesimpulan: OSN Sebagai Cermin Keadilan Talenta, Bukan Sekadar Medali
Rangkaian cerita dari MAN 2 Kota Malang, MTsN 1 Palangka Raya, SMPN 1 Kutacane, sekolah-sekolah di Kolaka, hingga SD Muhammadiyah Banjarmasin memperlihatkan bahwa Olimpiade Sains Nasional 2026 telah menjadi arena di mana berbagai model pendidikan bertemu dan diuji secara setara. Data lonjakan 102.703 pendaftar—setara peningkatan 18,98 persen—setelah diberlakukannya regulasi manajemen talenta murid menunjukkan bahwa ketika aturan mendukung, daerah bergerak menyeriusi pembinaan. Tapi makna OSN tidak berhenti pada perburuan medali. Ia harus dibaca sebagai indikator apakah anak di Magelang, Kutacane, Kolaka, Mataram, Palangka Raya, atau Banjarmasin memperoleh kesempatan pengembangan talenta yang adil. Selama dukungan orang tua, guru pembina, dan infrastruktur teknis tetap timpang, prestasi akan terkonsentrasi di kantong tertentu. OSN tahun ini sudah membuktikan bahwa dengan persiapan terstruktur, sekolah di daerah mampu menembus pusat. Tantangan berikutnya adalah memastikan keberhasilan ini tidak berhenti di panggung lomba, melainkan mengubah cara kita memandang dan membina talenta sains di seluruh wilayah secara berkelanjutan.







