Pertumbuhan yang melampaui ekonomi nasional
Industri pengolahan nonmigas adalah kegiatan manufaktur yang mengubah bahan baku menjadi barang bernilai tambah tanpa memasukkan pengolahan minyak dan gas. Pada kuartal III/2026, sektor ini tumbuh 5,88 persen secara tahunan, meningkat dari 5,58 persen pada periode yang sama tahun lalu. Angka tersebut juga lebih tinggi daripada pertumbuhan ekonomi nasional sebesar 5,47 persen. Dibandingkan kuartal II/2026, pertumbuhan industri nonmigas naik 0,56 poin persentase dari 5,32 persen. Ini bukan sekadar kabar baik bagi satu sektor: manufaktur kembali menunjukkan kapasitasnya untuk tumbuh di tengah tantangan ekonomi global. Namun, laju satu kuartal belum cukup untuk membuktikan tren yang bertahan. Nilai capaian ini akan ditentukan oleh kemampuan industri menjaga produksi dan memperluas pertumbuhan ke berbagai subsektor.
Kontribusi PDB mempertegas peran manufaktur
Kontribusi manufaktur terhadap PDB mencapai 19,22 persen pada kuartal III/2026, setara Rp1.168,99 triliun. Porsi tersebut naik dari 19,07 persen pada periode sebelumnya menurut data yang disampaikan Menteri Perindustrian Muhammad Sarmuji. Besarnya kontribusi ini menegaskan posisi industri pengolahan sebagai salah satu penopang utama ekonomi, bukan pelengkap pertumbuhan. Kinerja industri juga terlihat dari investasi: hingga kuartal III, realisasinya mencapai Rp246,9 triliun atau sekitar 46,7 persen dari total investasi nasional. Di perdagangan luar negeri, sektor ini menyumbang 82,64 persen dari ekspor nasional. Gabungan kontribusi PDB, investasi, dan ekspor memberi gambaran yang lebih utuh daripada angka pertumbuhan saja. Tetapi besarnya peran itu sekaligus membuat keberlanjutan sektor ini penting bagi kekuatan ekonomi secara keseluruhan.
Indikator aktivitas dan kepercayaan ikut menguat
Penguatan tidak hanya tampak pada angka produksi dan PDB. PMI manufaktur Indonesia tercatat 54,0 pada Oktober 2026, menandakan aktivitas berada dalam fase ekspansi. Indeks Kepercayaan Industri juga naik menjadi 53,77, sinyal bahwa keyakinan pelaku usaha terhadap kondisi dan prospek manufaktur membaik. Sarmuji menyebut PMI, Indeks Kepercayaan Industri, dan pertumbuhan industri bergerak menguat bersamaan. Perkembangan subsektor menambah alasan untuk optimistis, meski laju pertumbuhannya beragam: industri furnitur tumbuh 12,68 persen, makanan dan minuman 7,09 persen, serta kimia, farmasi, dan obat tradisional 8,10 persen. Logam dasar tumbuh 9,94 persen, lebih lambat daripada 18,62 persen pada periode sama tahun sebelumnya. Artinya, penguatan punya basis yang lebih luas, tetapi tidak semua bidang bergerak dengan kecepatan sama.
Menjaga momentum harus berarti memperbaiki fondasi
Sarmuji meminta momentum pertumbuhan dijaga agar kinerja industri tidak hanya tinggi dalam satu kuartal, tetapi berlanjut dan semakin berkualitas. Permintaan itu tepat, tetapi tidak akan terwujud lewat optimisme semata. Pemerintah perlu memastikan ketersediaan bahan baku, pasokan energi yang kompetitif, kepastian berusaha, dan dukungan bagi produktivitas. Agenda lain yang disebut mencakup investasi produktif, pendalaman struktur industri, penggunaan produk dalam negeri, serta penguatan daya saing industri kecil dan menengah beserta kemitraannya dengan industri besar. Inilah ujian setelah angka-angka kuat muncul: apakah kebijakan dapat membantu industri mempertahankan ekspansi dan memperluas nilai tambah, bukan sekadar mengulang capaian sementara. Pertumbuhan manufaktur 5,88 persen dan kontribusi PDB 19,22 persen memberi landasan yang menjanjikan, tetapi kesinambungannya bergantung pada tindak lanjut yang nyata.






