Temukan minat Anda, bersama

Promo pilihan, ulasan jujur, dan cerita belanja dari mereka yang seminat dengan Anda — setiap hari di Kuybeli.

Temukan minat Anda, bersamaPromo pilihan, ulasan jujur, dan cerita belanja dari mereka yang seminat dengan Anda — setiap hari di Kuybeli.

Dayung Dicoret, Peluang Medali Emas Menyusut

Dayung Dicoret, Peluang Medali Emas Menyusut
Minat|Asia Tenggara

Hilangnya cabang andalan

Dayung adalah cabang olahraga yang mempertandingkan disiplin seperti rowing, canoeing, dan traditional boat race, serta selama ini menjadi salah satu sumber medali bagi kontingen Indonesia di SEA Games. Keputusan tidak memasukkannya ke SEA Games 2027 karena itu bukan perubahan kecil: Indonesia kehilangan kesempatan nyata untuk menambah medali emas Indonesia dari cabang yang punya rekam jejak kuat.

Dalam sidang di Bangkok pada 30 Oktober 2026, South East Asian Games Federation (SEAGF) mengesahkan program SEA Games 2027 di Malaysia dengan 43 cabang olahraga dan 473 nomor pertandingan. Dayung tak masuk, begitu pula beberapa cabang lain. Tiga disiplin dayung yang dicoret adalah rowing, canoeing, dan traditional boat race.

Angka-angka terdahulu menjelaskan mengapa keputusan ini terasa mahal bagi peluang prestasi, meski bukan soal uang. Pada 2015, tim dayung meraih 13 emas, tiga perak, dan tiga perunggu; di edisi 2025, raihannya sembilan emas, sembilan perak, dan tujuh perunggu. Kehilangan satu cabang unggulan berarti target kontingen harus disusun ulang, bukan sekadar mengisi jadwal kosong.

Bukan hanya soal hitungan medali

Dampak pencoretan dayung SEA Games melampaui tabel perolehan medali. SEA Games menjadi arena regional untuk menguji kemampuan atlet dan menjaga ritme kompetisi. Tanpa pertandingan pada 2027, atlet kehilangan salah satu panggung penting untuk mengukur hasil latihan melawan pesaing Asia Tenggara.

PB PODSI menyampaikan keprihatinan karena keputusan tersebut berpotensi mengganggu motivasi atlet, kesinambungan program latihan, dan regenerasi. Persiapan pelatnas disebut telah berjalan sejak 2025, dengan rangkaian sasaran yang mencakup SEA Games, Asian Games, hingga Olimpiade. Jika agenda utama tiba-tiba hilang, pembinaan perlu segera disesuaikan agar waktu dan kerja atlet tidak kehilangan arah.

Risiko ini patut ditanggapi serius karena rowing dan canoeing juga merupakan disiplin Olimpiade. Menjaga kontinuitas kompetisi bukan jaminan prestasi, tetapi tanpa kalender tanding yang memadai, atlet lebih sulit mempertahankan ketajaman. Penyesuaian agenda karenanya harus melindungi kebutuhan atlet, bukan hanya merapikan jadwal organisasi.

Diplomasi perlu bergerak cepat

Keberatan PB PODSI perlu diterjemahkan menjadi diplomasi resmi, bukan berhenti sebagai pernyataan keprihatinan. Organisasi itu meminta Kementerian Pemuda dan Olahraga (Kemenpora) dan Komite Olimpiade Indonesia (KOI) menyampaikan keberatan kepada SEAGF serta Olympic Council of Malaysia agar keputusan dapat ditinjau kembali.

Langkah tersebut masuk akal karena program pertandingan telah disahkan, sehingga ruang untuk perubahan mungkin terbatas. Namun, jika Indonesia menilai pencoretan ini merugikan pembinaan dan kompetisi yang seimbang, keberatan harus disampaikan dengan alasan yang jelas dan melalui jalur kelembagaan. Diplomasi tidak menjamin dayung kembali dipertandingkan, tetapi diam akan menutup peluang peninjauan lebih awal.

Pada saat bersamaan, persiapan tidak boleh menunggu hasil lobi. PB PODSI, Kemenpora, dan KOI perlu memastikan atlet tetap mendapat sasaran kompetisi yang bermutu. Kejuaraan internasional dan agenda kualifikasi Olimpiade Los Angeles 2028 dapat menjadi bagian dari rencana alternatif. Tujuannya bukan menggantikan nilai SEA Games, melainkan menjaga kesiapan dan motivasi atlet.

Peluang yang layak diperjuangkan

Pencoretan dayung membuat kontingen kehilangan jalur medali yang terbukti produktif dan menimbulkan tantangan nyata bagi pembinaan. Karena itu, respons terbaik menggabungkan dua hal: diplomasi terarah untuk mendorong peninjauan ulang dan rencana kompetisi yang menjaga perkembangan atlet jika keputusan tetap berlaku.

Dayung telah berulang kali membantu Indonesia mengumpulkan medali, tetapi prestasi masa lalu tidak otomatis menjamin cabang ini kembali ke daftar pertandingan. Yang bisa dilakukan sekarang ialah memperjuangkan ruang tanding secara resmi sambil memastikan atlet tidak menjadi pihak yang menanggung ketidakpastian kebijakan.

Kesimpulannya, keputusan SEAGF patut ditinjau karena dampaknya menyentuh peluang medali sekaligus kesinambungan pembinaan. Kemenpora dan KOI perlu bergerak bersama PB PODSI dengan diplomasi yang tegas, sementara program alternatif disiapkan tanpa jeda. Indonesia tak boleh menganggap hilangnya dayung sebagai kehilangan yang tak bisa ditanggapi.

Kuybeli memperoleh komisi saat Anda berbelanja melalui tautan kami, tanpa biaya tambahan untuk Anda.

You May Also Like

Comments
Tulis sesuatu...
Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berbagi pendapat!