Temukan minat Anda, bersama

Promo pilihan, ulasan jujur, dan cerita belanja dari mereka yang seminat dengan Anda — setiap hari di Kuybeli.

Temukan minat Anda, bersamaPromo pilihan, ulasan jujur, dan cerita belanja dari mereka yang seminat dengan Anda — setiap hari di Kuybeli.

Perilaku Pick Me Berlebihan dan Dampaknya pada Kesehatan Mental

Perilaku Pick Me Berlebihan dan Dampaknya pada Kesehatan Mental
Minat|Kesehatan Mental

Apa Itu Perilaku Pick Me dan Mengapa Berbahaya?

Perilaku pick me adalah pola sikap ketika seseorang berusaha menonjolkan dirinya dengan membandingkan atau bahkan merendahkan orang lain demi memperoleh perhatian, pengakuan, dan rasa dianggap unggul oleh lingkungan sekitarnya, sehingga nilai diri bergantung pada seberapa sering ia dipuji dan dipilih oleh orang lain.

Dalam perspektif psikologi, istilah ini menggambarkan usaha mencari perhatian dan pengakuan dengan cara membuat diri tampak lebih baik dibanding orang lain. Di permukaan, perilaku pick me terlihat seperti kepercayaan diri, padahal sering berangkat dari rasa tidak aman yang besar. Keinginan mendapatkan pujian itu wajar, tetapi ketika seseorang merasa harus selalu tampak paling unggul agar dianggap bernilai, di situlah masalah dimulai. Alih-alih memperkuat diri, pola ini membuat seseorang semakin menggantungkan harga dirinya pada penilaian orang lain, dan pada akhirnya dapat mengganggu kondisi psikologis dan kesehatan mental.

Lingkaran Setan Validasi Diri Berlebihan dan Insecuritas

Di balik perilaku pick me, sering kali ada kebutuhan terhadap validasi yang terlalu besar. Seseorang membangun citra diri secara berlebihan demi mendapatkan pengakuan, karena di dalam dirinya ada keyakinan bahwa ia baru layak dicintai kalau terlihat lebih baik, lebih unggul, atau lebih berbeda dari orang lain. Upaya mendapatkan validasi ini kemudian diulang terus-menerus, menjelma menjadi validasi diri berlebihan yang menguras energi emosional.

Paradoksnya, semakin keras seseorang mengejar pengakuan, semakin ia bergantung pada penilaian lingkungan. Ketika pujian atau pengakuan yang diharapkan tidak diperoleh, rasa percaya diri bukan naik, tetapi justru kembali menurun, bahkan semakin kuat rasa tidak percaya diri yang muncul. Itu sebabnya perilaku pick me berlebihan cenderung meningkatkan insecuritas, bukan menyembuhkannya. Seseorang bisa semakin merasa tidak memiliki value dan berisiko mengalami gangguan kesehatan mental.

Akar Masalah: Rasa Tidak Cukup dan Lingkungan yang Menghakimi

Psikolog menegaskan bahwa rasa insecure atau kurangnya kepercayaan diri adalah salah satu pemicu utama munculnya perilaku pick me. Ketika seseorang sejak awal tidak yakin pada nilai dirinya, ia akan mencari "kuitansi" dari luar untuk membuktikan bahwa dirinya layak. Salah satu cara yang kerap dipakai adalah berusaha menunjukkan bahwa dirinya lebih unggul dibandingkan orang lain.

Lingkungan sosial yang gemar membandingkan, mudah menghakimi, atau hanya memberi apresiasi ketika seseorang berprestasi, ikut menyuburkan pola ini. Dalam situasi seperti itu, wajar jika orang tumbuh dengan perasaan tidak pernah cukup. Akibatnya, self-worth menjadi rapuh dan mudah goyah. Pelan-pelan, batasan diri sehat ikut terkikis: sulit berkata tidak, sulit jujur tentang kebutuhan diri, dan yang penting hanya satu—tetap disukai. Pada titik ini, perilaku pick me bukan lagi soal mencari perhatian, tetapi tentang bertahan dengan cara yang menyakiti diri sendiri.

Ketika Harga Diri Bergantung pada Siapa yang Memilih Kita

Perilaku pick me yang terus dibiarkan akan merusak kesehatan mental kepercayaan diri dalam jangka panjang. Seseorang belajar menilai diri hanya dari komentar, pujian, dan posisi sosial yang ia dapatkan. Semakin sering ia memaksa diri tampil paling unggul, semakin ia menjauh dari dirinya sendiri. Ia tidak lagi bertanya "Apa yang aku butuhkan?", melainkan "Apa yang membuat orang lain menyukainya?".

Dampaknya, sense of self-worth menurun drastis. Orang yang terjebak pola ini bisa semakin merasa tidak memiliki nilai dan insecure, hingga berisiko mengalami gangguan kesehatan mental. Hubungan dengan orang lain pun menjadi tidak sehat: penuh persaingan halus, kecenderungan menjatuhkan orang lain demi terlihat lebih baik, dan sulit membangun keintiman yang jujur. Selama standar kebahagiaan diukur dari seberapa sering kita "dipilih", harga diri akan terus berada di tangan orang lain.

Membangun Batasan Diri Sehat: Mulai dari Berhenti Mengorbankan Diri

Keluar dari pola pick me berlebihan menuntut kejujuran pada diri sendiri. Langkah pertama adalah mengakui bahwa kebutuhan akan validasi sudah melewati batas sehat: bahwa kita sering menyesuaikan sikap, pendapat, bahkan nilai hidup hanya demi diterima. Dari sana, penting untuk pelan-pelan memulihkan rasa cukup di dalam diri, bukan di luar. Itu berarti berlatih menilai diri berdasarkan usaha, nilai, dan keberanian kita, bukan sekadar tepuk tangan orang lain.

Menguatkan batasan diri sehat dimulai dari berani tidak selalu tampil unggul, tidak ikut membandingkan diri, dan berhenti merendahkan orang lain untuk merasa lebih baik. Menerima bahwa pujian menyenangkan tapi bukan sumber utama harga diri adalah kunci. Ketika kita belajar menghargai diri tanpa perlu menonjol dengan cara yang menyakiti orang lain, kepercayaan diri tumbuh lebih tenang, dan kesehatan mental punya ruang untuk pulih.

Kuybeli memperoleh komisi saat Anda berbelanja melalui tautan kami, tanpa biaya tambahan untuk Anda. Artikel ini dibuat dengan AI dari sumber yang dipublikasikan dan data produk.

You May Also Like

Comments
Tulis sesuatu...
Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berbagi pendapat!