Diversifikasi yang harus menghasilkan manfaat luas
Diversifikasi investasi Maluku Utara adalah upaya memperluas kegiatan ekonomi ke sektor selain pertambangan agar sumber pertumbuhan dan manfaatnya tidak hanya bertumpu pada industri nikel. Pemerintah provinsi mulai mendorong hilirisasi kelapa, industri perikanan, dan komoditas pangan sebagai peluang baru. Langkah ini tepat, tetapi keberhasilannya tidak cukup diukur dari nilai investasi: pekerjaan, usaha lokal, dan keterlibatan masyarakat juga harus tumbuh. Wakil Gubernur Sarbin Sehe menyampaikan arah tersebut dalam North Maluku’s Investment Business Forum 2026 di Hotel Bela Ternate pada 29 Oktober 2026. Ia berharap dalam tiga sampai empat tahun, ekonomi daerah tidak lagi bergantung pada hilirisasi tambang, melainkan mulai bergeser ke hilirisasi kelapa serta mempercepat sektor perikanan dan pangan. Sasaran ini memberi tenggat yang jelas, namun menuntut kesiapan pasokan, pengolahan, dan akses pasar—bukan sekadar daftar peluang di forum.
Angka investasi besar, konsentrasi tetap jadi risiko
Dorongan diversifikasi muncul di tengah capaian investasi yang tinggi, tetapi komposisinya masih timpang. Hingga September 2026, realisasi investasi Maluku Utara mencapai Rp96 triliun, melampaui total sepanjang 2025 sebesar Rp90,7 triliun. Pada Januari–September 2026, provinsi ini berada di peringkat kelima nasional untuk realisasi investasi, ketiga untuk penanaman modal asing, dan kedua untuk investasi hilirisasi. Namun, sekitar 87 persen investasi terkonsentrasi pada industri logam dasar dan lebih dari 95 persen berasal dari modal asing. Capaian tersebut menunjukkan daya tarik daerah, bukan jaminan bahwa pertumbuhan sudah inklusif. Sarbin mengakui manfaat pertumbuhan belum dirasakan merata. Karena itu, target kebijakan seharusnya bukan mengganti satu sektor dominan dengan sektor dominan lain, melainkan membangun beberapa rantai usaha yang memberi ruang bagi pekerja, pemasok, koperasi, UMKM, dan pelaku lokal.
Gerbang Investasi perlu membuka jalan ke proyek nyata
Peluncuran Gerbang Investasi oleh Sarbin dalam rangkaian forum yang sama merupakan langkah praktis: platform ini diharapkan memudahkan calon investor mengakses informasi potensi dan peluang di Maluku Utara. Promosi yang mudah diakses dapat mempertemukan investor dengan peluang di perkebunan, pengolahan kelapa, perikanan, dan penguatan pangan. Pemerintah daerah juga membuka kerja sama untuk pengembangan perkebunan dan sektor pangan di Halmahera Tengah, dengan sekitar 80 hektare lahan disiapkan. Namun, platform informasi hanya berguna jika peluangnya jelas dan dapat ditindaklanjuti. Investor perlu memahami kesiapan lahan, pasokan bahan baku, infrastruktur, perizinan, dan calon mitra lokal. Pemerintah provinsi sendiri menekankan perlunya pelayanan perizinan yang lebih baik, birokrasi sederhana, dan informasi terbuka. Tanpa itu, promosi berisiko berhenti sebagai etalase, bukan pintu masuk bagi usaha baru.
Ukuran keberhasilan ada pada keterlibatan warga
Hilirisasi kelapa dan industri perikanan dapat memperluas kesempatan usaha hanya jika masyarakat sekitar masuk ke dalam rantai nilai. Itu berarti membangun hubungan yang nyata antara investor besar dengan koperasi, UMKM, nelayan, petani, dan pengolah lokal—disertai pelatihan, pendampingan, serta akses usaha yang lebih terbuka. Sarbin mendorong langkah-langkah tersebut agar pelaku usaha daerah memiliki kesempatan berkembang. Pemerintah provinsi juga berharap kolaborasi dengan pemerintah kabupaten dan kota serta investor mengubah potensi menjadi kegiatan usaha yang memperluas pertumbuhan dan manfaat bagi masyarakat. Tuntutan ini patut menjadi tolok ukur utama: berapa banyak pemasok lokal terlibat, apakah keterampilan pekerja meningkat, dan apakah usaha kecil memperoleh akses pasar. Tanpa ukuran semacam itu, diversifikasi bisa menaikkan angka investasi tanpa mengubah pengalaman ekonomi warga.
Kesimpulannya, kelapa, perikanan, dan komoditas pangan menawarkan arah yang lebih beragam bagi ekonomi Maluku Utara, sementara Gerbang Investasi dapat membantu mempertemukan peluang dengan modal. Namun, promosi bukan hasil akhir. Keberhasilan baru terlihat ketika proyek berjalan, rantai pengolahan terbentuk, dan masyarakat setempat mendapat bagian yang adil dari pertumbuhan.






