Investasi Mengalir ke Kota Dagang Pesisir
Investasi Makassar adalah arus penanaman modal yang memanfaatkan posisi strategis kota dagang pesisir ini sebagai pusat konektivitas dan perdagangan, sekaligus dijahit dengan kebijakan ekonomi pesisir yang bertujuan mengangkat kesejahteraan nelayan lewat tata kelola dari hulu ke hilir yang lebih adil dan modern. Nilai investasi Makassar yang menembus Rp5,29 triliun pada 2025, naik dari Rp3,82 triliun pada 2024, bukan sekadar deret angka di laporan resmi. Lonjakan sekitar 38,48 persen itu adalah bentuk kepercayaan investor terhadap kemampuan kota mengubah konektivitas menjadi peluang bisnis yang nyata. Di sisi lain, Wali Kota Munafri Arifuddin mengingatkan bahwa pertumbuhan modal tidak boleh meninggalkan nelayan Makassar yang menjadi penggerak ekonomi pesisir sehari-hari. Pertanyaan kuncinya: apakah arus investasi sanggup bertransformasi menjadi kesejahteraan di kampung-kampung pesisir, bukan hanya menambah cerah langit gedung perkantoran di pusat kota?
Makassar sebagai Jantung Perdagangan: Kekuatan Konektivitas
Munafri Arifuddin dengan lugas menyebut Makassar sebagai “jantung perdagangan” kawasan timur yang sejak berabad-abad lalu menjadi titik temu transaksi keuangan dan arus barang. Pernyataan ini bukan romantisme sejarah; ia mencerminkan strategi pengembangan kota pesisir yang bertumpu pada konektivitas, bukan pada kekayaan tambang atau perkebunan. Infrastruktur pelabuhan dengan konektivitas internasional dan Bandara Sultan Hasanuddin yang melayani penerbangan luar negeri menjadi tulang punggung ekonomi kota dagang ini. Kegiatan Business Connection Indonesia-China 2026 yang ia buka digunakan sebagai panggung untuk menunjukkan bahwa investasi Makassar layak tumbuh lebih besar karena posisi geografis kota yang menghubungkan wilayah timur dan barat hingga ke pasar dunia. Namun, Munafri juga mengingatkan bahwa pertemuan bisnis tidak boleh berakhir sebagai seremoni; ia menuntut tindak lanjut berupa kerja sama dan transaksi konkret yang mengalir ke pelaku usaha lokal.
Ekonomi Pesisir: Dari Hulu ke Hilir, Nelayan Harus Naik Kelas
Di tengah cerita sukses investasi Makassar, wali kota mengajukan kritik tajam terhadap nasib nelayan Makassar: masyarakat menikmati gizi dari laut, tetapi para penyedia gizi itu tidak ikut naik kelas seiring waktu. Komitmen pemerintah kota untuk membenahi struktur ekonomi nelayan dari hulu ke hilir adalah tanda bahwa ekonomi pesisir diposisikan sebagai pilar diversifikasi ekonomi berbasis sumber daya maritim. Munafri menolak model bantuan seremonial semata seperti kapal atau alat tangkap; ia menginginkan pendampingan menyeluruh pada rantai tata kelola agar alur pasar lebih adil dan harga jual tidak menekan nelayan. Di Muscab VI HNSI Makassar, ia meminta organisasi nelayan menjadi mitra strategis yang menjembatani aspirasi masyarakat pesisir dan membuka potensi ekonomi kawasan pesisir yang selama ini tertinggal. Jika komitmen ini konsisten, ekonomi pesisir tidak lagi menjadi halaman belakang kota, melainkan salah satu mesin utama pengembangan kota pesisir.
Investasi yang Inklusif: Nelayan, UMKM, dan Tenaga Kerja
Pertumbuhan ekonomi Makassar yang mencapai 6,61 persen dan investasi Rp5,29 triliun tidak akan berarti bila manfaatnya mengendap di kantong segelintir orang. Munafri menegaskan bahwa investasi Makassar harus menjadi mesin penyerapan tenaga kerja dan pendorong UMKM naik kelas. Di sini letak tantangan: menghubungkan modal besar dengan usaha kecil di pantai dan kampung kota, termasuk pelaku ekonomi pesisir yang selama ini bergantung pada tengkulak dan pasar yang tidak adil. Komitmen pemerintah kota bersama DPRD untuk meningkatkan alokasi anggaran pendampingan nelayan menunjukkan upaya menjahit arus modal dengan keberpihakan pada kelompok yang rentan di pesisir. Jika dirancang dengan serius, skema investasi bisa diarahkan ke rantai nilai perikanan, pengolahan hasil laut, serta logistik pesisir sehingga nelayan tidak hanya menjual ikan mentah, tetapi juga ikut menikmati nilai tambah di sepanjang rantai produksi.
Menjaga Arah: Kota Pesisir yang Pro-Modal dan Pro-Nelayan
Makassar sedang berada di persimpangan menarik: di satu sisi, kota dagang pesisir ini menjadi magnet investasi regional; di sisi lain, ia menyimpan beban historis ketimpangan bagi nelayan dan masyarakat pesisir. Dengan menegaskan diri sebagai kota dagang yang kekuatannya ada pada konektivitas, bukan pada sumber daya alam ekstraktif, Munafri mengarahkan pengembangan kota pesisir ke model ekonomi yang lebih berkelanjutan. Namun, keberlanjutan yang dimaksud tidak cukup diukur dari besarnya nilai investasi Makassar, melainkan dari seberapa jauh ekonomi pesisir ikut ditarik dalam orbit pertumbuhan. Peningkatan anggaran pendampingan nelayan, transformasi cara penjaringan ikan ke arah yang lebih modern, dan pembentukan alur pasar yang adil adalah batu uji komitmen itu. Kesimpulannya, Makassar hanya bisa disebut berhasil bila pelabuhan sibuk dan kampung nelayan ikut makmur: kota pro-modal, tetapi tetap pro-nelayan.






