Temukan minat Anda, bersama

Promo pilihan, ulasan jujur, dan cerita belanja dari mereka yang seminat dengan Anda — setiap hari di Kuybeli.

Temukan minat Anda, bersamaPromo pilihan, ulasan jujur, dan cerita belanja dari mereka yang seminat dengan Anda — setiap hari di Kuybeli.

Mengapa Ibu Hamil Tiba-tiba Jijik pada Hewan Peliharaan?

Mengapa Ibu Hamil Tiba-tiba Jijik pada Hewan Peliharaan?
Minat|Perawatan Hewan Peliharaan

Fenomena Ibu Hamil Mendadak Jijik pada Hewan Peliharaan

Fenomena ibu hamil jijik hewan adalah kondisi ketika perempuan yang sedang hamil tiba-tiba merasa mual, tidak nyaman, atau enggan mendekati hewan peliharaan yang sebelumnya sangat ia sayangi, dan perubahan ini sering kali muncul mendadak sehingga menimbulkan rasa bersalah, bingung, sekaligus cemas terhadap masa depan hubungan dengan hewan tersebut.

Banyak calon ibu kaget ketika anjing atau kucing yang dulu jadi “anak pertama” mendadak terasa kotor, berbau, bahkan memicu mual. Tak sedikit ibu hamil yang tiba-tiba merasa jijik, tidak nyaman, atau enggan mendekati hewan peliharaan kesayangannya. Ini bukan sekadar manja atau alasan untuk melepas tanggung jawab; ada proses biologis dan psikologis yang bekerja di balik perubahan ini. Mengabaikan fenomena ini dengan komentar seperti “ah, lebay” hanya membuat ibu merasa makin terpojok. Kita perlu mengakuinya sebagai pengalaman nyata, bukan kelemahan karakter.

Perubahan Hormon, Indra Penciuman, dan Aversion pada Anjing

Kunci memahami aversion kehamilan anjing dan hewan lain ada pada perubahan hormon kehamilan. Melansir sebuah laporan, ibu hamil merasa jijik dengan peliharaan kesayangan dapat disebabkan oleh perubahan hormon, mirip dengan morning sickness. Pada sekitar 1 hingga 3 persen ibu hamil, perubahan ini memicu mual ekstrem dan sensitivitas terhadap rasa jijik yang dapat dipicu oleh berbagai hal, termasuk bau hewan peliharaan.

Survei ManyPets terhadap 1.077 perempuan yang pernah hamil dalam tiga tahun terakhir menemukan bahwa 15 persen responden pemilik hewan peliharaan mengalami rasa jijik terhadap anjing mereka selama kehamilan. Ini angka yang terlalu besar untuk dianggap “kebetulan”. Indra penciuman yang lebih tajam membuat aroma bulu basah, kotoran, atau bahkan makanan hewan terasa berlipat-lipat intensitasnya. Wajar bila otak ibu hamil menafsirkan sinyal itu sebagai ancaman dan memunculkan rasa jijik sebagai mekanisme perlindungan. Masalahnya, mekanisme ini sering berbenturan dengan ikatan emosional yang sudah terbangun lama dengan hewan peliharaan.

Risiko Infeksi: Antara Kewaspadaan dan Ketakutan Berlebihan

Selain faktor hormon dan emosi, kebersihan hewan peliharaan hamil tidak boleh diremehkan. Ibu hamil perlu memperhatikan risiko infeksi tertentu yang dapat ditularkan oleh hewan peliharaan. Langkah yang lebih tepat adalah memahami jenis infeksi yang berisiko dan menerapkan kebersihan secara baik, bukan panik lalu menyingkirkan semua hewan dari rumah.

Pada anjing, salah satu yang perlu diwaspadai adalah bakteri Brucella canis (B. canis) yang dapat menimbulkan gejala mirip flu dan berpotensi mengganggu kehamilan. Infeksi B. canis pada ibu hamil bahkan dikaitkan dengan keguguran spontan, persalinan prematur, korioamnionitis, hingga kematian janin. Kucing pun bisa membawa parasit Toxoplasma gondii yang berisiko menyebabkan cacat lahir, keguguran, atau kematian pada orang dengan sistem imun lemah. Namun, risiko toksoplasmosis jauh lebih rendah pada kucing rumahan yang hanya makan makanan kucing dan tidak berburu hewan luar. Artinya, fokus seharusnya pada higienitas dan pencegahan infeksi, bukan pada menghapus hewan dari hidup ibu hamil.

Mengelola Rasa Jijik tanpa Mengorbankan Ikatan dengan Hewan

Rasa jijik yang muncul saat hamil sering membuat ibu merasa bersalah, seolah ia mengkhianati hewan peliharaan. Padahal, perasaan ini bisa dikelola. Untuk sebagian perempuan, depresi perinatal, kecemasan, dan OCD dapat memperkuat rasa jijik dan marah sehingga hewan peliharaan menjadi sasaran emosi. Di titik ini, masalahnya bukan lagi sekadar bau atau bulu, tetapi kondisi mental yang butuh perhatian serius.

Seorang pakar merekomendasikan agar siapa pun yang perasaannya terhadap hewan peliharaan menjadi menyusahkan atau di luar kendali, berbicara dengan terapis untuk mengatasi rasa jijik dan marah. Menariknya, pengalaman seorang pelatih anjing menunjukkan bahwa perasaan negatif ini dapat mereda dalam beberapa bulan seiring waktu. Strategi adaptasi bisa berupa: meminta pasangan atau keluarga mengambil alih tugas membersihkan kotoran, membatasi kontak saat mual sedang parah, dan menjaga jarak fisik tanpa memutus interaksi sepenuhnya. Intinya, ibu berhak melindungi dirinya dan janin, namun hewan peliharaan juga layak dipertahankan sebagai bagian keluarga, selama kebersihan dan kesehatan dijaga.

Menemukan Keseimbangan: Ibu, Janin, dan Hewan Peliharaan

Pada akhirnya, fenomena ibu hamil jijik hewan bukan tanda bahwa cinta pada hewan menghilang, melainkan sinyal tubuh dan pikiran yang sedang bekerja keras melindungi kehamilan. Aversion kehamilan anjing atau kucing adalah kombinasi perubahan hormon kehamilan, sensitivitas indera, emosi yang naik turun, dan kekhawatiran terhadap infeksi. Mengabaikannya sama kelirunya dengan menanggapinya dengan panik berlebihan.

Kebersihan dan pencegahan infeksi tetap menjadi prioritas penting selama kehamilan dengan hewan di rumah. Namun, dengan informasi yang tepat, dukungan emosional, dan strategi adaptasi yang realistis, ibu hamil tidak harus memilih antara kesehatan janin dan keberadaan hewan peliharaan. Rasa jijik boleh datang dan pergi, tetapi keputusan yang diambil sebaiknya lahir dari pengetahuan dan empati—baik pada diri sendiri, bayi dalam kandungan, maupun hewan yang sudah lama menjadi bagian keluarga.

Kuybeli memperoleh komisi saat Anda berbelanja melalui tautan kami, tanpa biaya tambahan untuk Anda. Artikel ini dibuat dengan AI dari sumber yang dipublikasikan dan data produk.

You May Also Like

Comments
Tulis sesuatu...
Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berbagi pendapat!