iPhone Fold Memicu Era Baru Ponsel Lipat Mahal
Smartphone lipat harga premium adalah perangkat yang menggabungkan layar fleksibel dengan mekanisme lipatan, diposisikan sebagai produk kelas atas dengan fitur produktivitas, layar besar, dan desain kompleks, sehingga average selling price-nya cenderung jauh di atas ponsel standar dan kini didorong naik oleh masuknya iPhone Fold ke segmen foldable global. Masuknya Apple ke pasar ponsel lipat lewat perangkat yang santer disebut iPhone Fold atau iPhone Ultra bukan sekadar peluncuran produk baru, melainkan pengeras suara tren harga. Perangkat ini diproyeksikan menjadi iPhone termahal sepanjang masa dengan estimasi harga USD 2.300–USD 2.500 (sekitar Rp37 juta–Rp40 jutaan). Dengan banderol setinggi ini, sinyalnya jelas: Apple ingin menegaskan bahwa segmen foldable adalah ranah super-premium, bukan lagi eksperimen teknologi. Keputusan tersebut berpotensi mengunci persepsi pasar bahwa ponsel lipat mahal adalah norma, bukan pengecualian. Akibatnya, ruang untuk foldable terjangkau di kelas atas bisa makin sempit dan konsumen dipaksa menerima standar harga baru.
Kenaikan 18 Persen: Tren Harga Foldable yang Mengkhawatirkan
Laporan riset menunjukkan average selling price (ASP) smartphone lipat diperkirakan menyentuh sekitar Rp24,06 juta per unit, naik 18 persen dibanding tahun sebelumnya dan melonjak 29 persen dibanding rata-rata harga perangkat foldable pada 2024. Kenaikan dua digit ini bukan sekadar siklus biasa, melainkan indikasi bahwa tren harga foldable bergerak semakin agresif ke arah premium. Menurut laporan tersebut, salah satu pendorong utama adalah semakin dominannya perangkat lipat model book-type, termasuk iPhone Fold yang diperkirakan menjadi produk foldable pertama Apple. Book-type dikonstruksi sebagai kelas atas: layar lebih besar, engsel lebih baik, baterai berkapasitas besar, kamera ditingkatkan, plus fitur produktivitas yang lebih lengkap. Dengan Apple menempatkan iPhone Fold di titik harga ekstrem, produsen lain akan terdorong memposisikan model book-type mereka sedikit di bawah, tetapi tetap tinggi. Hasilnya, konsumen yang mengincar form factor layar lipat ala tablet harus siap membayar jauh lebih mahal dibanding beberapa tahun lalu.

Strategi Apple: Premiumisasi yang Menggeser Kompetitor
Apple dikabarkan mempercepat persiapan peluncuran ponsel lipat pertamanya yang sementara dijuluki iPhone Ultra, dengan mitra manufaktur Foxconn membuka perekrutan besar-besaran di pabrik Longhua untuk mendukung produksi massal. Langkah agresif ini menunjukkan bahwa Apple tidak berminat menjadi pemain kecil di pasar foldable; mereka ingin mengatur ritme segmen premium sejak awal. Riset memprediksi bahwa pangsa pengiriman perangkat lipat dengan harga Rp25,92 juta–Rp32,4 juta akan meningkat dari 30 persen menjadi 58 persen. Artinya, kelas menengah di dunia foldable bergeser ke atas, bukan ke bawah. Kehadiran iPhone Fold sebagai flagship lipat memaksa kompetitor merancang ulang positioning: model book-type lain dipatok di kisaran menengah-atas agar tetap terlihat "lebih terjangkau" daripada iPhone, sementara clamshell dibiarkan menjadi pintu masuk lebih murah. Namun kompromi harga itu datang dengan konsekuensi fitur dan durabilitas yang berbeda, sehingga konsumen perlu lebih cermat membaca perbedaan nilai di setiap segmen.
Book-Type vs Clamshell: Dua Jalur, Dua Realitas Harga
Riset menjelaskan bahwa perangkat lipat model clamshell cenderung makin terjangkau seiring semakin banyak produsen yang masuk, serta kapasitas produksi yang meningkat. Namun sisi lain dari kabar baik ini adalah fakta bahwa book-type—kategori yang akan dimasuki iPhone Fold—tetap diposisikan sebagai perangkat kelas atas dengan spesifikasi yang ditarik sejauh mungkin dari ponsel biasa. Kondisi ini memecah pasar foldable menjadi dua realitas harga: clamshell sebagai kompromi estetika dan portabilitas, book-type sebagai simbol produktivitas dan status. Counterpoint memperkirakan perangkat lipat dengan harga di atas Rp32,4 juta memang turun tipis dari 3 persen menjadi 2 persen, tetapi itu tidak mengubah gambaran besar bahwa dominasi ada di kelas Rp25,92 juta–Rp32,4 juta. Dengan iPhone Fold memproyeksikan banderol lebih tinggi lagi, ponsel lipat mahal berpotensi menjadi tolok ukur aspirasi, bukan kebutuhan, dan konsumen harus sadar bahwa lonjakan harga ini tercipta lewat desain positioning sengaja, bukan sekadar biaya produksi.
Waktu Peluncuran, UTG, dan Pertanyaan Nilai bagi Konsumen
Meski sempat diperkirakan diperkenalkan bersama lini iPhone 18 Pro pada September, analis Ming-Chi Kuo menilai penjualan resmi iPhone Ultra baru akan dimulai pada 2027, sehingga perangkat ini tidak tersedia pada musim belanja akhir tahun. Artinya, industri memiliki jeda beberapa musim untuk menyiapkan respon, dan konsumen punya waktu mengamati apakah tren harga foldable akan stabil atau semakin naik. Di sisi teknis, iPhone Ultra disebut mengandalkan Ultra Thin Glass (UTG) untuk melindungi layar OLED lipat, dirancang cukup kuat menahan ratusan ribu kali proses buka-tutup tanpa menurunkan kualitas tampilan maupun daya tahan perangkat. Namun ketahanan ini tetap dibalut harga yang ekstrem. Pada titik inilah pertanyaan nilai menjadi penting: apakah layar besar, engsel kompleks, dan bahan kaca ultra tipis pantas dibayar di kisaran puluhan juta rupiah ketika opsi non-lipat menawarkan kestabilan harga dan ekosistem fitur yang semakin matang?


