Temukan minat Anda, bersama

Promo pilihan, ulasan jujur, dan cerita belanja dari mereka yang seminat dengan Anda — setiap hari di Kuybeli.

Temukan minat Anda, bersamaPromo pilihan, ulasan jujur, dan cerita belanja dari mereka yang seminat dengan Anda — setiap hari di Kuybeli.

Kisah M Bagus Khoirunnas dan Risiko Fotojurnalisme Bencana

Kisah M Bagus Khoirunnas dan Risiko Fotojurnalisme Bencana
Minat|Gaya Fotografi

Hilangnya Seorang Pewarta Foto dan Makna di Balik Keberanian

Fotojurnalisme bencana adalah praktik kerja jurnalis foto yang mendekati lokasi bencana alam untuk merekam dampaknya bagi publik, di mana setiap pengambilan gambar mengandung perpaduan antara dedikasi, tanggung jawab profesional, dan risiko nyata terhadap keselamatan diri. Di balik foto erupsi gunung, banjir, atau gempa, ada tubuh manusia yang berdiri paling dekat dengan bahaya demi menghadirkan bukti visual yang jujur kepada masyarakat. Profesi ini menuntut keputusan sulit: kapan harus mendekat demi informasi, dan kapan menahan diri demi hidup yang masih perlu pulang ke keluarga. Hilangnya M Bagus Khoirunnas menegaskan betapa garis tipis antara keberanian dan kebodohan sering kali baru terlihat ketika segalanya sudah terlambat.

Pada Senin, 7 September 2026, lima jurnalis foto dilaporkan hilang kontak di Perairan Selat Sunda, Kabupaten Pandeglang, saat meliput aktivitas erupsi Gunung Anak Krakatau menggunakan sebuah speedboat\. Rombongan itu berjumlah delapan orang: lima jurnalis dan tiga kru kapal—nakhoda, seorang ABK, dan seorang pemandu—yang berangkat dari Dermaga Pagedongan, Carita, untuk mendokumentasikan erupsi Krakatau yang tengah meningkat\. Di tengah rombongan itulah nama M Bagus Khoirunnas muncul sebagai sosok pewarta foto yang kini dijadikan contoh tragis tentang betapa tipisnya batas antara tugas dan musibah. Tim SAR gabungan sampai hari ini masih menyisir perairan sekitar Gunung Anak Krakatau dan pulau-pulau kecil di sekitarnya untuk mencari mereka\.

Kisah M Bagus Khoirunnas dan Risiko Fotojurnalisme Bencana

Jejak Kerja Bagus: Dari Anak Wartawan hingga Pewarta Foto Berprestasi

Sebelum namanya menjadi berita sebagai jurnalis foto hilang, Bagus adalah contoh klasik anak pekerja media yang tumbuh bersama cerita di lapangan. Ayahnya, Mansyur, menyebut Bagus mulai bekerja sebagai jurnalis foto di biro Banten sejak 2018 dan dikenal sebagai pekerja keras yang selalu turun ke lapangan dalam kondisi apa pun demi mendapatkan foto yang bisa tayang\. Sistem kerja yang membuat pewarta foto dibayar ketika fotonya diterbitkan menjadikan Bagus terbiasa hidup dari momentum, dari ketepatan melihat dan kecepatan mengirim. Dorongan ekonomi itu—keluarga yang tak berada, keinginan membahagiakan orang tua—bukan sekadar latar belakang, melainkan bahan bakar yang menggerakkan dirinya mendekat ke Anak Krakatau.

Karier Bagus tidak berhenti pada rutinitas tugas harian. Ia menorehkan prestasi dengan menjadi salah satu pemenang Anugerah Pewarta Foto Indonesia kategori General News pada 2025 melalui foto esai “Pesta Demokrasi dengan Balutan Tradisi Badui”\. Dari profesi ini, ia membangun rumah sendiri dan menikah dengan Desi pada Oktober 2025\. Rekan sesama pewarta foto, Dziki Oktomauliyadi, menggambarkan rekam jejak Bagus sebagai “sangat luar biasa” dan menyebut perkenalan serta pertemuan terakhir mereka sebagai momen indah yang sulit dilupakan\. Di sini terlihat ironi: profesi yang memberinya rumah dan penghargaan, adalah profesi yang menempatkan dirinya di garis bahaya ketika erupsi Krakatau menjadi berita besar.

Pertemuan Terakhir di Pos Pantau: Firasat yang Diabaikan

Bagian paling menyayat dari kisah ini bukan hanya hilangnya Bagus, melainkan dialog terakhir yang berulang dengan kalimat yang sama: “Jangan, Gus. Jangan.” Dziki dan Bagus, dua pewarta foto yang bersahabat sejak 2018, awalnya bertemu karena sama-sama “haus akan visual” dan merasa wajib menyampaikan gambar kepada publik\. Mereka biasa berburu gambar bersama, berdiskusi, dan saling mendukung pekerjaan. Tetapi pada Senin itu, rasa haus visual berbenturan dengan firasat. Dziki baru mendapat tugas memotret dari pos pantau Anak Krakatau, sementara Bagus sudah berada di jalur yang lebih berbahaya: menuju tengah perairan, mendekat ke gunung yang sedang erupsi\.

Sebelum pertemuan singkat di depan pos pantau, keduanya sudah saling memantau lewat WhatsApp sejak Sabtu, saat Bagus berada di pos pantau bersama sejumlah jurnalis lain\\. Pada Senin pagi, sebuah mobil Terios hitam membunyikan klakson panjang di belakang kendaraan Dziki; suara tawa di telepon mengungkapkan bahwa itu Bagus yang bercanda soal kecepatan mobil Dziki\. Ketika Bagus mengatakan, “Gue mau motret ke tengah gunung Anak Krakatau bang,” Dziki langsung mengangkat suara, mengingatkan agar menepi di pos pantau dan tak mencari bahaya\. Nyaris sepuluh kali ia memohon agar Bagus membatalkan niat berlayar, menawarinya alternatif memotret dari atas bersama-sama\. Namun janji dengan jurnalis dari Jakarta dan dorongan profesional membuat Bagus tetap memutuskan berangkat dengan speedboat—keputusan yang menjadi titik balik tragis kisah ini\.

Tanggung Jawab dan Risiko Nyata dalam Fotojurnalisme Bencana

Kisah Bagus menyingkap dilema utama fotojurnalisme bencana: seorang pewarta foto dituntut mendekati peristiwa, melihat lebih dekat, dan membawa pulang gambar yang tidak selalu dapat dilihat orang lain\. Publik membutuhkan bukti visual tentang erupsi Krakatau, tetapi untuk mendapatkannya, seseorang perlu berdiri di antara gunung yang memuntahkan material vulkanik dan laut yang bisa berubah ganas sewaktu-waktu. Hilangnya lima jurnalis foto dan tiga kru kapal di Selat Sunda saat meliput erupsi Anak Krakatau menjadi pengingat keras bahwa kata “dokumentasi” di medan bencana sering berarti mempertaruhkan nyawa\\. Dalam konteks ini, keberanian tanpa batas bukanlah kebajikan, melainkan potensi tragedi.

Menurut Dziki, keberanian pemotret memiliki batas, dan foto yang hebat seharusnya lahir dari keberanian, kejelian, serta kepedulian, bukan dari pengabaian keselamatan\. Di matanya, profesionalisme sejati terlihat ketika seorang jurnalis foto tahu kapan mesti menurunkan kamera demi menghargai keselamatan dan martabat kehidupan\. Di sinilah isu keselamatan fotografer bertemu dengan etika fotojurnalisme bencana: pers dan fotografi ada untuk membela kehidupan, bukan mengorbankannya\. Jika ekosistem media terus menuntut kedekatan ekstrem dengan bahaya tanpa sistem perlindungan yang memadai, maka setiap keberangkatan ke lokasi bencana akan selalu membawa potensi menambah daftar jurnalis foto hilang, alih-alih menambah pemahaman publik.

Solidaritas Komunitas dan Pelajaran Keselamatan ke Depan

Di tengah ketidakpastian, komunitas jurnalis foto tak hanya berduka, tetapi juga saling menggenggam informasi. Bagus dan Dziki, seperti banyak pewarta foto lain, terbiasa saling berbagi lokasi peliputan dan memantau satu sama lain melalui unggahan WhatsApp ketika berada di pos pantau Anak Krakatau\\. Praktik informal ini adalah bentuk solidaritas dasar yang, sayangnya, belum selalu didukung dengan prosedur keselamatan terstruktur. Ketika ayah Bagus, Mansyur, akhirnya menanyakan keberadaan anaknya kepada Dziki di depan pos pantau\, rasa saling menjaga itu berubah menjadi penyesalan: banyak yang tahu risiko besar di laut, tetapi peringatan tidak cukup kuat untuk menghentikan langkah seorang pewarta foto yang merasa berkewajiban pulang dengan gambar.

Kisah ini seharusnya memaksa redaksi, organisasi profesi, dan komunitas jurnalis foto untuk mengubah cara memandang keberanian. Mengirim jurnalis foto ke tengah erupsi Krakatau tanpa standar keselamatan jelas bukan lagi konsekuensi kerja, melainkan kegagalan sistem. Perlu ada komitmen kolektif: penentuan batas aman, penggunaan moda transportasi yang layak, koordinasi intensif dengan tim SAR, serta pengakuan bahwa foto tak pernah sepadan dengan hilangnya nyawa. Hilangnya M Bagus Khoirunnas dan rekan-rekannya bukan hanya tragedi personal, melainkan alarm keras bahwa keselamatan fotografer harus menjadi prasyarat utama setiap liputan bencana alam. Jika tidak, setiap erupsi berikutnya hanya akan mengulang pola yang sama—visual spektakuler di muka publik, di atas korban yang seharusnya bisa diselamatkan.

Kuybeli memperoleh komisi saat Anda berbelanja melalui tautan kami, tanpa biaya tambahan untuk Anda.

You May Also Like

Comments
Tulis sesuatu...
Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berbagi pendapat!