Temukan minat Anda, bersama

Promo pilihan, ulasan jujur, dan cerita belanja dari mereka yang seminat dengan Anda — setiap hari di Kuybeli.

Temukan minat Anda, bersamaPromo pilihan, ulasan jujur, dan cerita belanja dari mereka yang seminat dengan Anda — setiap hari di Kuybeli.

Pelatihan Pengolahan Pangan Lokal: Ubi Ungu dan Ikan Jadi Produk Bernilai

Pelatihan Pengolahan Pangan Lokal: Ubi Ungu dan Ikan Jadi Produk Bernilai
Minat|Memasak

Pelatihan Pengolahan Pangan: Bukan Sekadar Resep, Tapi Strategi Ekonomi

Pelatihan pengolahan pangan adalah program terstruktur yang mengajarkan warga dan pelaku UMKM cara mengubah bahan pangan lokal seperti umbi-umbian dan hasil perikanan menjadi produk olahan beragam, bergizi, seimbang, aman, dan bernilai jual sehingga mampu memperpanjang daya simpan, mengurangi ketergantungan pada satu komoditas, serta membuka peluang usaha baru bagi rumah tangga dan kelompok kecil di desa. Di Kutai Barat, Dinas Ketahanan Pangan menggelar Pelatihan Pengolahan Pangan Lokal di Kantor TP PKK Kampung Temula, Kecamatan Nyuatan, pada 15 September dan diikuti 35 peserta dari unsur TP PKK dan masyarakat lokal. Di Tanah Bumbu, Dinas Perikanan melalui Bidang Pengolahan dan Pemasaran Hasil Perikanan menggelar Sekolah Pangan di Balai Rakyat Desa Karang Indah, Kecamatan Angsana, pada 21 September dengan 30 peserta pelaku usaha mikro dan kecil sektor perikanan serta anggota TP PKK desa. Kedua kegiatan ini menunjukkan bahwa pelatihan pengolahan pangan kini menjadi instrumen pemberdayaan ekonomi, bukan acara seremonial.

Ubi Ungu: Dari Hasil Kebun Menjadi Ubi Ungu Produk Bernilai Jual

Di Kampung Temula, ubi ungu yang dulu dipandang sebatas hasil panen untuk dijual mentah mulai naik kelas. Dalam pelatihan pengolahan pangan lokal, peserta mempraktikkan langsung pengolahan ubi ungu menjadi mi ubi ungu, stik ubi ungu, dan puding busa ubi ungu. Ini adalah contoh nyata diversifikasi produk pangan berbasis satu komoditas yang berlimpah di desa. Petinggi kampung menegaskan bahwa ubi ungu tidak hanya layak dijual sebagai hasil pertanian, tetapi bisa diolah menjadi makanan jadi dengan nilai tambah dan peluang pemasaran yang lebih luas. Pendekatan ini sejalan dengan tujuan pelatihan: meningkatkan keterampilan mengolah bahan pangan daerah menjadi produk Beragam, Bergizi, Seimbang, dan Aman (B2SA) bagi 35 peserta yang hadir. Di balik menu mi dan puding, ada gagasan besar: pemberdayaan pangan lokal sebagai strategi ekonomi yang memotong rantai ketergantungan pada beras dan tepung terigu.

Pelatihan Pengolahan Pangan Lokal: Ubi Ungu dan Ikan Jadi Produk Bernilai

UMKM Hasil Perikanan: Sekolah Pangan Mengangkat Nilai Ikan Lokal

Jika ubi ungu menjadi simbol kekuatan pertanian lokal, maka Sekolah Pangan di Angsana menegaskan potensi UMKM hasil perikanan. Pelatihan ini secara eksplisit diarahkan untuk meningkatkan kapasitas SDM pelaku usaha pengolahan dan pemasaran hasil perikanan. Materi yang diberikan meliputi standar mutu, diversifikasi produk, teknologi pengolahan, dan keamanan pangan, plus aspek higienis, legalitas usaha, edukasi sertifikasi halal, serta pengemasan produk. Peserta tidak hanya mendengar teori, mereka berlatih membuat bola-bola nasi ikan, mi kering dari tepung ikan, dan stik dari tepung ikan sebagai bentuk diversifikasi produk hasil perikanan. "Melalui kegiatan ini, pelaku usaha diharapkan mampu mengembangkan produk olahan yang lebih beragam sekaligus meningkatkan nilai jual hasil perikanan di Kabupaten Tanah Bumbu". Dengan 30 peserta dari UMKM dan TP PKK desa, Sekolah Pangan adalah investasi pengetahuan yang menempatkan nelayan dan pengolah ikan dalam rantai nilai yang lebih menguntungkan.

Pelatihan Pengolahan Pangan Lokal: Ubi Ungu dan Ikan Jadi Produk Bernilai

Pemberdayaan Pangan Lokal dan Diversifikasi Produk: Dampak Nyata bagi Warga

Kedua program pelatihan pengolahan pangan ini memiliki benang merah: menempatkan pangan lokal sebagai sumber kekuatan ekonomi, bukan sekadar bahan konsumsi harian. Di Kutai Barat, pengolahan pangan berbasis umbi-umbian, jagung, pisang, dan labu kuning disebut berpotensi menjadi alternatif pangan pokok maupun substitusi tepung terigu. Pemerintah daerah menggunakan teknologi tepat guna agar mutu dan daya simpan produk lokal meningkat, sekaligus menekan ketergantungan masyarakat terhadap beras dan terigu. Di Tanah Bumbu, fokusnya pada peningkatan mutu, keamanan pangan, dan strategi pemasaran produk olahan perikanan lokal. Ini adalah bentuk pemberdayaan pangan lokal yang konkret: warga memperoleh keterampilan, UMKM hasil perikanan memperkuat daya saing, dan desa membangun identitas produk khas. Diversifikasi produk pangan bukan jargon; ia bermakna ketika mi ubi ungu dan mi kering tepung ikan menjadi jalan bagi keluarga desa menambah penghasilan.

Pendekatan Terstruktur Pemerintah Daerah dan Kesimpulan: Saatnya Serius dengan Bahan Lokal

Yang menarik dari dua contoh ini adalah pendekatan terstruktur pemerintah daerah. Pelatihan di Kutai Barat berlandaskan UU No. 18/2012 tentang Pangan, PP No. 17/2015, dan Perpres No. 83/2006, menunjukkan bahwa pengolahan pangan lokal ditempatkan dalam kerangka kebijakan resmi, bukan inisiatif sesaat. Di Tanah Bumbu, Sekolah Pangan dirancang sebagai bagian pembinaan berkelanjutan untuk meningkatkan mutu dan pemasaran produk olahan perikanan. Pendekatan semacam ini membantu petani dan nelayan menambah nilai produk primer mereka, dari ubi dan ikan menjadi mi, stik, dan puding bernilai jual. Kesimpulannya jelas: jika daerah serius mengembangkan pelatihan pengolahan pangan, pemberdayaan ekonomi tidak lagi bergantung pada bantuan tunai, melainkan pada keterampilan mengolah bahan lokal menjadi produk bernilai tinggi dan berkelanjutan. Tantangannya kini adalah menjamin tindak lanjut: akses pasar, pendampingan usaha, dan konsistensi program agar mi ubi dan stik ikan tidak berhenti di meja pelatihan, tetapi menembus rak-rak penjualan.

Kuybeli memperoleh komisi saat Anda berbelanja melalui tautan kami, tanpa biaya tambahan untuk Anda.

Related Products

You May Also Like

Comments
Tulis sesuatu...
Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berbagi pendapat!