Tangsel One: Definisi Baru Aplikasi Layanan Publik
Tangsel One adalah aplikasi municipal terpadu yang menggabungkan berbagai aplikasi layanan publik ke dalam satu platform digital, sehingga warga dapat mengakses informasi ekonomi, administrasi, dan kanal pengaduan dalam satu genggaman tanpa perlu berpindah-pindah layanan terpisah. Pemerintah kota menempatkannya sebagai super-app yang bukan hanya etalase informasi, tetapi pintu masuk utama ke layanan digital warga. Penambahan fitur cek lowongan kerja (loker) dan pemantauan harga bahan pokok menjadi sinyal jelas bahwa tujuan utama aplikasi ini adalah menjawab kebutuhan ekonomi sehari-hari, bukan sekadar memindahkan formulir kertas ke layar ponsel. Dengan kata lain, Tangsel One sedang dicoba sebagai “dashboard” hidup warga kota: dari peluang kerja, biaya dapur, sampai urusan perizinan, semua dipusatkan di satu aplikasi.
Fitur Cek Loker dan Harga Bahan Pokok: Menyentuh Dapur Warga
Keputusan menambah fitur cek loker dan harga bahan pokok adalah pilihan politik yang sangat eksplisit: pemerintah kota menempatkan urusan perut dan pekerjaan sebagai prioritas utama. Melalui integrasi dengan Portal Kerja, pencari kerja tidak lagi dipaksa mondar-mandir di banyak situs, karena informasi lowongan resmi dikurasi dan dipusatkan di Tangsel One. Sementara itu, data harga pangan di pasar tradisional dihadirkan secara berkala agar ibu rumah tangga dan pelaku UMKM bisa merencanakan anggaran dengan lebih rasional. Kutipan yang patut dicatat: “Aplikasi terpadu Tangsel One telah menyediakan informasi lowongan pekerjaan terbaru dan harga pangan di pasar tradisional.” Ini seharusnya mengurangi asimetri informasi antara pedagang, pembeli, dan pemerintah, serta membuka peluang pengawasan publik terhadap lonjakan harga yang kerap datang tanpa penjelasan.
Dari SIMPONIE ke Smart City: Ambisi Besar, Pengguna Kecil
Secara arsitektur kebijakan, Tangsel One jelas melampaui aplikasi informasi biasa. Integrasinya dengan Sistem Layanan Perizinan Online (SIMPONIE) yang mencakup 73 jenis layanan perizinan menunjukkan ambisi memangkas birokrasi yang berbelit. Warga bisa mengurus izin usaha hingga dokumen legalitas lain dari satu pintu digital, sembari mengakses kanal pengaduan, direktori sarana prasarana, tempat hiburan, dan produk hukum daerah. Menurut Tb. Asep Nurdin, “platform tersebut kini mengakomodasi 73 jenis layanan perizinan”. Di atas kertas, ini gambaran ideal transformasi digital pemerintah dan fondasi kota cerdas yang inklusif. Namun ada paradoks: hingga awal Oktober 2026, pengguna aktif baru 2.237 orang dari lebih 1,3 juta penduduk. Ambisi teknologi berhadapan langsung dengan fakta minimnya adopsi.
Tantangan Adopsi: Dari Super-App Menjadi Kebiasaan Sehari-hari
Rendahnya angka pengguna menunjukkan bahwa transformasi digital pemerintah bukan soal menambah fitur, tetapi mengubah kebiasaan warga. 2.237 pengguna aktif untuk kota lebih dari 1,3 juta jiwa berarti Tangsel One masih lebih mirip proyek percontohan daripada kebutuhan harian. Pemerintah daerah sendiri menyadari hal ini dan menegaskan pentingnya sosialisasi yang masif serta penambahan fitur agar aplikasi menjadi rujukan utama, bukan pelengkap administratif. Strategi ini sejalan dengan tren digitalisasi layanan publik di berbagai kota yang mengejar transparansi dan efisiensi melalui aplikasi municipal terpadu dan layanan digital warga. Namun, tanpa desain yang ramah semua usia, literasi digital yang memadai, dan dukungan lapangan (misalnya bantuan di kelurahan atau pusat layanan), Tangsel One berisiko menjadi super-app di atas kertas yang tidak menembus layar ponsel warga.
Kesimpulan: Transformasi Digital yang Harus Berpihak pada Warga
Penambahan fitur cek loker dan harga bahan pokok di Tangsel One adalah langkah berani yang mengikat langsung transformasi digital pemerintah dengan realitas dapur dan dompet warga. Sebagai aplikasi municipal terpadu, Tangsel One sudah memuat banyak elemen kota cerdas: perizinan online, informasi pasar, kanal pengaduan, hingga produk hukum. Namun keberhasilan transformasi digital tidak diukur dari jumlah fitur, melainkan seberapa jauh warga menjadikannya kebiasaan sehari-hari. Komitmen pemerintah kota untuk terus memperluas integrasi layanan dan menggencarkan sosialisasi adalah sinyal positif, tetapi harus diikuti pengembangan yang lebih berorientasi pengguna rentan: pekerja informal, lansia, dan pelaku usaha kecil. Jika Tangsel One ingin bertahan, ia harus menjadi aplikasi layanan publik yang terasa manfaatnya setiap kali warga membuka ponsel, bukan hanya saat ada kampanye smart city.






