Akses listrik harus sampai ke pintu rumah
Program Light Up The Dream adalah inisiatif sosial PLN yang menggunakan donasi sukarela pegawai untuk membantu keluarga prasejahtera memperoleh sambungan listrik sendiri, terutama ketika jaringan sudah tersedia tetapi biaya sambungan masih menjadi hambatan. Inilah pembeda penting antara listrik yang sekadar melintas di lingkungan warga dan akses listrik keluarga yang benar-benar dapat digunakan secara mandiri. Pemerataan energi belum tuntas jika sebuah rumah masih bergantung pada kabel dari tetangga. PLN UID Sumatera Utara menempatkan LUTD sebagai upaya pemerataan energi dan peningkatan kualitas hidup, bukan hanya kegiatan penyalaan simbolis. Hingga Oktober 2026, program itu telah menjangkau 580 keluarga prasejahtera di Sumatera Utara. Capaian tersebut memperlihatkan kebutuhan nyata, sekaligus mengingatkan bahwa keadilan energi diukur dari siapa yang bisa menikmati listrik di rumahnya, bukan semata-mata dari luasnya jaringan.
Target Jawa Barat menguji jangkauan program
Momentum Hari Listrik Nasional ke-81 menjadi dorongan bagi PLN UID Jawa Barat dan entitas PLN Group untuk memperluas sambungan mandiri bagi warga yang belum mampu, meskipun jaringan telah tersedia di sekitar rumah mereka. Targetnya jelas: 2.710 keluarga prasejahtera menerima sambungan listrik gratis hingga Desember 2026, dengan penyalaan dilakukan bertahap di berbagai wilayah. Sampai laporan diterbitkan, 873 keluarga telah menerima manfaat; sejak 2023, program LUTD di Jawa Barat telah menghadirkan 4.124 sambungan gratis. Angka-angka ini menunjukkan adanya kesinambungan, tetapi target ke depan tetap menuntut pelaksanaan yang menjangkau rumah tangga yang paling membutuhkan. Penyalaan di Desa Sadangmekar, Kecamatan Cisarua, Kabupaten Bandung Barat, pada 28 Oktober 2026 menjadi salah satu contoh pelaksanaan tersebut. Nilai program akan ditentukan oleh seberapa konsisten target itu berubah menjadi sambungan nyata.

Dari bergantung pada tetangga menjadi mandiri
Kisah Suryani di Dusun V Kenanga, Desa Paya Perupuk, Kabupaten Langkat, memperlihatkan arti praktis sambungan sendiri. Sebelumnya, keluarganya menyalurkan listrik dari rumah tetangga untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari. Pada Minggu, 1 November, Komisaris Independen PLN, Ali Masykur Musa, hadir menyalakan listrik di rumahnya melalui LUTD. Suryani menyambut perubahan itu dengan haru; keluarganya kini tidak lagi bergantung pada tetangga untuk memperoleh listrik. Dua warga lain, Rudi Antoni dan Muhammad Azwar, juga menerima sambungan gratis pada kesempatan tersebut. Bantuan token listrik dan paket sembako turut diberikan kepada ketiga keluarga. Cerita ini membuat tujuan program terasa konkret: sambungan mandiri mengurangi ketergantungan dalam urusan rumah tangga sehari-hari. Dampak lebih luas—seperti mendukung pendidikan anak atau usaha produktif—merupakan peluang yang diharapkan dari akses listrik, bukan hasil yang otomatis muncul hanya karena lampu telah menyala.

Keberhasilan perlu diukur setelah penyalaan
LUTD menawarkan bentuk pemerataan yang terarah: donasi sukarela pegawai dan kolaborasi berbagai entitas PLN digunakan untuk membantu rumah tangga yang tertinggal meski jaringan telah hadir di lingkungannya. Namun, jumlah sambungan bukan satu-satunya ukuran keberhasilan. Program akan lebih berarti bila keluarga penerima dapat mempertahankan akses, memanfaatkan listrik dengan aman, dan merasakan manfaatnya dalam kegiatan sehari-hari. Pesan PLN Sumatera Utara bahwa kehadiran perusahaan seharusnya tidak berhenti setelah listrik dinyalakan patut menjadi tolok ukur bagi pelaksanaan program di semua wilayah. Target Jawa Barat hingga Desember 2026 memberi arah kerja yang terukur, sedangkan pengalaman Suryani menunjukkan mengapa pekerjaan itu penting. Sambungan listrik gratis bukan akhir dari pemerataan energi, melainkan prasyarat agar keluarga prasejahtera memiliki kesempatan yang lebih setara untuk belajar, bekerja, dan menjalani kehidupan rumah tangga.






