Riset perlu menjangkau pelaku usaha
Riset herbal industri adalah proses pengujian dan pendokumentasian bahan alam untuk menilai keamanan serta potensi manfaatnya, lalu menerjemahkan bukti tersebut menjadi dasar pengembangan produk yang dapat dipertanggungjawabkan. Kerangka itu penting bagi industri jamu: kekayaan tanaman obat tak otomatis menjadi produk yang tepercaya tanpa informasi ilmiah yang bisa digunakan pelaku usaha dan dipahami konsumen. Pada 23 Oktober 2026, IKAFARI menghadirkan Direktur Utama Sido Muncul, Irwan Hidayat, sebagai pembicara dalam konferensi internasional bidang farmakologi, kesehatan, teknologi, dan ilmu hayati di Solo. Forum tersebut mendorong pertukaran pengetahuan serta kolaborasi akademisi dan industri agar penelitian kesehatan dan bahan alami dapat dikembangkan lebih lanjut. Nilai pendekatan ini terletak pada hubungan antara bukti dan praktik: penelitian tidak semestinya berakhir sebagai publikasi, sementara pelaku jamu membutuhkan rujukan yang dapat membantu mereka mengambil keputusan. Ratih juga menyoroti pentingnya komunikasi akademisi dan industri agar hasil penelitian memberi wawasan baru dan berpeluang diterapkan.
Bukti ilmiah sebagai bekal usaha jamu
Sido Muncul mulai memperkuat standardisasi dan pengujian produk pada 2002, termasuk uji praklinis dan toksisitas; Tolak Angin menjadi produk pertama yang disebut Irwan menjalani uji toksisitas. Pengalaman itu menunjukkan mengapa akses data jamu berarti lebih dari sekadar kumpulan dokumen: rujukan penelitian dapat membantu usaha menjelaskan bahan dan potensi manfaatnya kepada pembeli tanpa hanya mengandalkan klaim. Irwan memberi contoh temulawak, yang hasil penelitiannya dapat menjadi referensi saat pelaku usaha berbicara kepada konsumen. Ia merangkum prinsip tersebut dengan jelas: “Yang penting, kami mendapatkan bukti.” Sido Muncul juga merencanakan penelitian terhadap sekitar 200 bahan pada November mendatang, dengan sasaran 269 bahan terdokumentasi. Keterbukaan terhadap hasil yang tidak menunjukkan pengaruh sama pentingnya dengan temuan positif; keduanya membantu memilah klaim dan memberi pijakan lebih kuat bagi inovasi produk jamu.
Dari penelitian ke produk yang dikenal konsumen
Penerapan pengetahuan herbal juga perlu hadir dalam keterampilan produksi. Pada 24 Oktober 2026, program pengembangan produk di Desa Penglipuran, Bali, melibatkan lebih dari 30 peserta dari UMKM dan Karang Taruna.






