Temukan minat Anda, bersama

Promo pilihan, ulasan jujur, dan cerita belanja dari mereka yang seminat dengan Anda — setiap hari di Kuybeli.

Temukan minat Anda, bersamaPromo pilihan, ulasan jujur, dan cerita belanja dari mereka yang seminat dengan Anda — setiap hari di Kuybeli.

Ketika Mindfulness Jadi Tone Deaf: Batas Tipis Self-Care dan Pengabaian Realitas

Ketika Mindfulness Jadi Tone Deaf: Batas Tipis Self-Care dan Pengabaian Realitas
Minat|Kesehatan Mental

Mindfulness Bukan Sekadar Menutup Mata dari Berita Buruk

Mindfulness adalah praktik menjaga kesehatan mental dengan memusatkan perhatian pada pengalaman saat ini, sekaligus menyadari pikiran, emosi, sensasi tubuh, dan realitas sekitar tanpa menghakimi, sehingga kita dapat merespons hidup dengan lebih jernih, bukan sekadar lari dari hal yang tidak menyenangkan.

Perdebatan tentang mindfulness tone deaf mengemuka setelah Maudy Ayunda merilis video YouTube bertajuk “Mindfulness in the Age of Bad News” pada 21 Agustus di kanalnya, membahas cara menjaga kesehatan mental di tengah berita negatif yang terus bermunculan. Ia menceritakan bahwa dirinya memilih menyaring informasi agar tidak terlalu terbebani secara mental. Bagi sebagian orang, nasihat ini terasa menenangkan, terutama mereka yang memang butuh jeda dari tekanan. Namun bagi banyak penonton, terutama yang sedang hidup di tengah krisis sosial dan ekonomi, ajakan mengurangi konsumsi berita buruk terdengar seperti ajakan memalingkan wajah dari kenyataan pahit yang tak bisa mereka hindari.

Ketika Mindfulness Jadi Tone Deaf: Batas Tipis Self-Care dan Pengabaian Realitas

Kapan Mindfulness Menjadi Tone Deaf di Tengah Krisis

Masalah utama dalam kasus ini bukan pada konsep mindfulness itu sendiri, melainkan pada konteks dan cara menyampaikannya. Dalam video Maudy, yang dibicarakan sebagai “berita buruk” adalah bencana dan kebijakan yang menyentuh kehidupan banyak orang, termasuk karhutla di Kalimantan dan gempa di NTT. Di saat publik berharap figur berpengaruh ikut bersuara dan menggerakkan kepedulian, ajakan untuk memfilter berita buruk terdengar seperti langkah mundur dari tanggung jawab moral.

Inilah titik di mana mindfulness tone deaf lahir: ketika konten kesehatan mental dipakai seolah-olah alasan untuk menjaga jarak dari realitas sosial yang menyakitkan. “Membicarakan mindfulness ketika orang lain tengah berjuang untuk bernapas rasanya agak sedikit kurang etis” menjadi keluhan yang menggambarkan rasa kecewa banyak orang. Bagi mereka, masalah hidup bukan sekadar “bad news” yang boleh dipilih untuk dibaca atau di-skip; itu adalah kenyataan yang menentukan apakah mereka bisa makan, bekerja, atau tetap selamat.

Ketika Mindfulness Jadi Tone Deaf: Batas Tipis Self-Care dan Pengabaian Realitas

Self-Care, Privilege, dan Jurang dalam Wellness Culture

Kontroversi ini menyoroti self-care privilege yang sering tersembunyi dalam wellness culture kritik. Maudy datang dengan latar belakang berpendidikan dan relatif mapan; publik pun mengaitkan konten mindfulness-nya dengan posisi tersebut. Apa yang baginya tampak sebagai pilihan sederhana—mengurangi paparan berita, mencari ruang tenang—bisa saja mustahil bagi orang yang bergantung pada informasi untuk keselamatan atau mata pencaharian mereka.

Ketika konten kesehatan mental disampaikan seolah semua orang punya kondisi dan pilihan hidup yang sama, di situlah jurang privilege menganga. Orang yang bekerja di lapangan, korban bencana, atau mereka yang setiap hari hidup di bawah kebijakan bermasalah tidak punya kemewahan untuk berhenti memperhatikan berita. Nasihat yang mengabaikan ketimpangan ini terdengar seperti: “Kalau kamu stres, itu karena kamu kurang memfilter, bukan karena sistem yang tidak adil.” Padahal, mindfulness yang sehat semestinya membantu kita melihat struktur yang menekan, bukan hanya menenangkan individu agar tetap “produktif” di tengah ketidakadilan.

Ketika Mindfulness Jadi Tone Deaf: Batas Tipis Self-Care dan Pengabaian Realitas

Mindfulness yang Peka: Dari Self-Care ke Kesadaran Sosial

Menurut American Psychological Association, mindfulness berarti fokus pada diri dan realitas yang sedang terjadi di sekitar kita, bukan melepaskan diri dari dunia. Itu artinya, mindfulness yang sehat justru menuntut kesadaran sosial: kita menyadari emosi sekaligus mengakui bahwa dunia di luar diri memiliki masalah yang harus dihadapi. Dengan cara ini, self-care bukan pelarian, melainkan pit stop agar kita cukup kuat terlibat dalam perubahan.

Perbedaannya tipis tapi penting: self-care yang sehat membantu seseorang menerima dan mengolah realitas, sedangkan pola pikir yang mengarah ke spiritual bypassing menjadikan praktik batin sebagai tameng untuk menghindari masalah nyata. Mindfulness bukan konsep yang keliru; kemampuan menyadari pikiran, emosi, dan keadaan diri membantu hidup lebih sehat dan terarah. Namun, pesan itu menjadi masalah ketika disampaikan seakan-akan semua orang memiliki kondisi dan pilihan hidup yang sama. Mindfulness yang peka akan berkata: “Jagalah dirimu, tetapi jangan memalingkan wajah dari mereka yang masih berjuang untuk bernapas.”

Kuybeli memperoleh komisi saat Anda berbelanja melalui tautan kami, tanpa biaya tambahan untuk Anda.

You May Also Like

Comments
Tulis sesuatu...
Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berbagi pendapat!