Peralatan Live Streaming Gereja Jadi Sasaran Pencurian
Di Wamena, Kabupaten Jayawijaya, Papua Pegunungan, suasana tenang di Gereja GPdI El Shaddai mendadak terusik.
Pada Rabu malam, 20 Agustus 2025 sekitar pukul 21.00 WIT, seorang pelaku nekat membobol masuk ke area gereja dan menggasak sejumlah peralatan penting milik gereja.
Pelaku tidak menyadari bahwa setiap gerak-geriknya terekam jelas oleh kamera pengawas (CCTV) saat berada di sekitar dan di dalam gereja.
Sasarannya bukan barang biasa, melainkan peralatan live streaming yang selama ini mendukung jalannya ibadah secara daring.
Aksi Terekam CCTV: Pelaku Diduga Mabuk
Pendeta Gereja GPdI El Shaddai, Doni Emmanuel Rum, menjelaskan bahwa pelaku diduga adalah seorang anak muda yang masuk ke area gereja pada malam kejadian.
Dari cuplikan CCTV, tampak pelaku berjalan sempoyongan dan terlihat seperti sedang berada dalam pengaruh minuman keras.
Ia lebih dulu mengamati situasi di sekitar gereja sebelum akhirnya mulai beraksi.
Pelaku masuk dengan cara melompati pagar yang sebenarnya dalam kondisi terkunci.
Setelah itu, ia menendang pintu samping gereja hingga terbuka dan kemudian masuk ke dalam untuk mengambil sejumlah fasilitas milik gereja.
Peralatan Live Streaming Jadi Target Utama
Pada awalnya, pelaku mencoba mengangkat beberapa pengeras suara (speaker).
Namun karena berat, salah satu speaker akhirnya ditinggalkan di luar dan tidak sempat dibawa kabur.
Pelaku lalu mengubah strategi dan menyasar barang-barang yang lebih ringan tetapi bernilai tinggi.
Peralatan yang berhasil dibawa kabur antara lain:
Satu unit kamera Sony yang digunakan untuk siaran langsung ibadah secara daring
Satu unit laptop Asus
Satu unit laptop Lenovo
Peralatan tersebut merupakan inti dari fasilitas live streaming gereja yang dipakai untuk mendukung pelayanan dan penyiaran ibadah kepada jemaat yang tidak bisa hadir secara fisik.
Hilangnya peralatan ini jelas memukul aktivitas pelayanan digital gereja.
Kepedihan Pendeta dan Keprihatinan atas Anak Muda
Pendeta Doni menyampaikan keprihatinan yang mendalam atas kejadian ini.
Bukan hanya karena peralatan gereja hilang, tetapi karena pelaku diduga adalah pemuda asli Wamena.
Sebagai pemimpin pemuda se-pegunungan GPdI, ia menilai peristiwa ini sebagai tamparan keras sekaligus pelajaran bagi semua pihak.
Dengan nada lembut, ia mengungkapkan isi hatinya bahwa ia sangat mengasihi para anak muda dan tidak menyimpan kebencian kepada pelaku.
Sebulan sebelumnya, gereja baru saja mengadakan KKR pemuda yang dihadiri sekitar 400 peserta.
Dalam konteks itu, kejadian pencurian ini terasa semakin ironis dan menyedihkan.
Menurut Pendeta Doni, insiden ini menunjukkan bahwa sebagian anak muda mulai kehilangan rasa hormat terhadap rumah ibadah.
Ia menilai, banyak di antara mereka yang lebih memilih memenuhi keinginan sesaat, seperti mengonsumsi minuman keras, ketimbang mengembangkan karakter dan kreativitas.
Meski begitu, ia tetap bersyukur karena dalam peristiwa ini tidak ada korban kekerasan, hanya kerugian materiil berupa peralatan gereja.
Pesan Keras tetapi Penuh Kasih untuk Anak Muda
Pesan Anak Muda
Pendeta Doni berharap besar agar kamera dan peralatan lainnya bisa segera ditemukan, mengingat semua itu merupakan fasilitas strategis bagi kegiatan gereja.
Ia menyampaikan pesan khusus kepada para pemuda, menegaskan bahwa mencuri bukanlah solusi untuk masalah hidup.
Dalam penjelasannya, ia menyoroti pola pikir ingin cepat kaya tanpa kerja keras.
Menurutnya:
Orang yang memilih jalan mencuri biasanya ingin sukses secara instan
Mereka berangan-angan tinggi, namun enggan bekerja
Sikap seperti ini justru memperbudak hidup dan mematikan kreativitas
Ia menambahkan bahwa “roh mencuri” akan terus menuntut dan tidak pernah merasa puas, sehingga orang yang terjebak di dalamnya makin jauh dari potensi dirinya yang sebenarnya.
Pendeta Doni juga mengingatkan bahwa mencuri dari rumah Tuhan bukan sekadar pelanggaran hukum, tetapi juga dapat mendatangkan kutuk secara rohani.
Penutup: Harapan Pemulihan dan Pertobatan
Menutup penjelasannya, Pendeta Doni menyampaikan bahwa pihak gereja sudah melaporkan kejadian ini kepada pihak berwenang.
Di balik insiden yang merugikan ini, terselip satu harapan besar: agar peralatan live streaming bisa kembali, dan yang lebih penting, agar hati para anak muda dipulihkan.
Peralatan bisa diganti, tetapi karakter dan masa depan generasi muda jauh lebih berharga untuk diselamatkan.






