KuybeliKuybeli

Bunga Bangkai Suweg Viral di Jagakarsa: Dari Harum Busuk ke Peluang Riset

Bunga Bangkai Suweg Viral di Jagakarsa: Dari Harum Busuk ke Peluang Riset
Minat|Popularisasi Sains oleh Ahli

Suweg Jagakarsa yang Jadi Bintang Sehari

Di Jalan Srengseng Sawah No. 62, Jagakarsa, Jakarta Selatan, seekor “bintang” fenomena alam perlahan turun panggung.

Bunga bangkai jenis Suweg (Amorphophallus paeoniifolius) yang sempat bikin warga heboh itu kini mulai memasuki fase akhir: kelopak memudar, tongkol menghitam, dan bau menyengatnya menghilang.

Pada puncak mekarnya, bunga setinggi kurang lebih 60 sentimeter ini tampil mencolok dengan kelopak merah jingga yang cerah dan bagian dalam kekuningan. Sekarang, tepian kelopak tampak mengering, sementara bagian tengah atau spadix mulai menghitam. Aroma tajam yang dulu menusuk hidung kini sudah benar-benar lenyap.

Meski begitu, aliran pengunjung belum sepenuhnya berhenti. Warga masih berdatangan untuk menyaksikan langsung momen langka ini sebelum benar-benar usai.

Antusiasme Warga & Respons Sang Pemilik

Asmat (60), pemilik lahan sekaligus pemilik bunga, mengamati fenomena ini dengan tenang.

Menurutnya, meski bunganya sudah jelas mulai layu, masih ada saja warga yang mampir hanya untuk sekadar melihat dan berfoto. Ia menanggapinya dengan santai, sambil tetap mengizinkan siapa pun yang penasaran untuk datang.

Yang menarik, bukan hanya warga sekitar yang tertarik. Dinas Pertamanan dan Hutan Kota (Distamhut) serta pihak kelurahan juga sudah turun tangan. Mereka melihat Suweg ini sebagai peluang sampel penelitian.

Asmat tidak keberatan bunganya dijadikan objek riset, tetapi ia punya satu permintaan: jangan sekarang.

Ia ingin memberi kesempatan bagi warga untuk menikmati fenomena langka ini sampai siklus mekarnya benar-benar berakhir. Setelah bunga kering, barulah ia bersedia jika umbi atau bagian lain dijadikan bahan kajian ilmiah.

Tanpa Perawatan, Justru Tumbuh Spektakuler

Yang membuat kisah ini makin menarik, Suweg di Jagakarsa ini tumbuh bukan di taman terawat, melainkan di tanah keluarga yang dibiarkan apa adanya.

Asmat mengaku sama sekali tidak memberikan perlakuan istimewa:

  • Tidak pernah disiram secara khusus

  • Tidak diberi pupuk

  • Tidak dipindahkan ke pot atau media lain

Ia hanya membiarkan tanaman itu tumbuh liar di tanah yang memang sudah subur sejak dulu. Bagi banyak orang, Suweg sering dianggap tanaman biasa karena umumnya hanya mengeluarkan daun.

Menurut Asmat, kemunculan bunga seperti sekarang adalah kejadian yang jarang. Ia mengingat, pada tahun 2012 bunga serupa pernah muncul, tetapi kali ini ukurannya jauh lebih besar dan lebih mencolok.

Siklus Hidup dan Bau “Bangkai Tikus”

Secara ilmiah, Suweg (Amorphophallus paeoniifolius) adalah anggota famili talas-talasan (Araceae), satu marga dengan Amorphophallus titanum, sang bunga bangkai raksasa ikon Kebun Raya Bogor.

Perbedaannya:

  • Ukuran Suweg jauh lebih kecil, dengan tinggi rata-rata sekitar 30–70 sentimeter

  • Meski lebih mungil, karakter baunya tetap ekstrem bagi hidung manusia

Suweg dikenal punya siklus hidup panjang dan hanya mekar sekali dalam beberapa tahun. Pada fase mekar, bunga ini mengeluarkan aroma menyengat yang mirip bangkai tikus.

Aroma tidak sedap ini bukan tanpa tujuan. Ini adalah strategi bunga untuk mengundang serangga penyerbuk:

  • Lalat

  • Kumbang daging

Asmat menggambarkan baunya sangat kuat, terutama dari sore hingga pagi. Setelah itu, intensitas aroma akan menurun dan perlahan menghilang seiring bunga memasuki fase layu.

Begitu fase mekarnya selesai, bagian bunga akan mengering, sementara umbi di dalam tanah kembali “beristirahat” menunggu siklus berbunga berikutnya.

Fenomena Langka yang Bikin Ilmuwan Tertarik

Fenomena Suweg yang mekar di pemukiman padat ini bukan sekadar tontonan warga, tapi juga objek sains yang menarik.

Beberapa hal yang membuatnya istimewa:

  • Kemunculan jarang: Di banyak tempat, Suweg lebih sering hanya terlihat sebagai tanaman berdaun besar. Momen mekarnya bunga adalah fase yang jarang terjadi.

  • Waktu mekar singkat: Ketika akhirnya mekar, masa tampilnya sebagai “bunga bangkai” hanya sebentar sebelum layu.

  • Potensi edukasi: Kasus seperti di Jagakarsa bisa jadi pintu masuk untuk mengenalkan botani, ekologi penyerbukan, dan konservasi tanaman unik kepada masyarakat.

Tak heran jika aparat lingkungan dan instansi terkait tertarik menjadikannya sampel riset — mulai dari studi bau, siklus hidup, hingga potensi konservasi.

Ciri Khas & Fakta Sains tentang Suweg

Berikut beberapa poin penting tentang bunga bangkai jenis Suweg yang bisa kamu catat:

  • Ciri khas bunga: Kelopak berwarna merah keunguan dengan bagian tengah yang disebut spadix. Secara ukuran, ia jauh lebih kecil dibanding bunga bangkai raksasa.

  • Aroma unik: Saat mekar, bunga ini mengeluarkan bau menyengat mirip bangkai tikus. Ini adalah mekanisme untuk menarik lalat dan kumbang daging sebagai penyerbuk utama.

  • Siklus hidup panjang: Suweg tidak mekar setiap tahun. Dalam beberapa tahun, ia hanya benar-benar berbunga satu kali. Setelah itu, bagian atas tanaman layu dan umbinya kembali memasuki fase dorman.

  • Perawatan minim: Kasus di Jagakarsa menunjukkan bahwa di tanah yang subur, Suweg bisa tumbuh dan mekar tanpa perlakuan khusus dari manusia.

Keunikan Suweg dari Kacamata Pop Sains

Bila dilihat dengan kacamata sains populer, Suweg punya beberapa daya tarik yang sayang dilewatkan:

  • Bentuk fisik: Kombinasi kelopak merah keunguan dengan spadix yang semula kekuningan lalu menggelap membuatnya tampak kontras dan dramatis.

  • Fungsi ekologis: Bau busuk yang dianggap mengganggu manusia justru adalah sinyal penting di alam. Aromanya memberi “kode” kepada serangga pengurai dan penyerbuk bahwa ada sumber makanan atau tempat bertelur.

  • Fenomena langka: Karena jarang mekar dan siklus hidupnya panjang, setiap kemunculan bunga Suweg yang mekar penuh berpotensi menjadi peristiwa lokal yang menyita perhatian warga dan peneliti.

  • Nilai edukasi: Dari satu bunga, kita bisa bercerita tentang adaptasi, strategi bertahan hidup tanaman, hingga bagaimana bau tak sedap bisa jadi kunci keberlangsungan spesies.

Sikap Sang Pemilik: Di Antara Sains dan Rasa Sayang

Di tengah hiruk-pikuk warga dan ketertarikan lembaga, sikap Asmat terhadap bunganya cukup menyejukkan.

Beberapa poin penting dari tindakannya:

  • Membuka ruang bagi penelitian: Ia tidak menolak bunga miliknya dijadikan sampel riset, selama waktunya tepat dan tidak mengganggu antusiasme warga.

  • Menghargai kehidupan tanaman: Baginya, tanaman juga makhluk hidup. Selama tidak mengganggu orang, ia memilih membiarkannya tumbuh dan mati secara alami.

  • Menjaga lingkungan sekitar: Ia berharap tidak ada yang merusak atau mengganggu bunga tersebut, terutama selama fenomena mekarnya masih menarik perhatian warga.

  • Tetap ramah pada pengunjung: Meski bunganya sudah mulai layu, ia masih mengizinkan warga datang melihat langsung, menjadikan pekarangannya semacam “laboratorium alam” mini yang terbuka untuk umum.

Penutup: Dari Pekarangan ke Laboratorium Alam

Kisah bunga bangkai Suweg di Jagakarsa memperlihatkan bagaimana fenomena biologis yang sederhana bisa berkembang menjadi momen edukasi, riset, dan interaksi sosial.

Tanpa perawatan mahal, tanpa teknologi canggih, hanya bermodal tanah subur dan kesabaran alam, satu bunga bisa:

  • Mengundang warga datang dari berbagai sudut

  • Menarik minat dinas dan peneliti

  • Menjadi bahan cerita tentang sains di kehidupan sehari-hari

Pada akhirnya, ketika kelopaknya benar-benar kering dan baunya tinggal cerita, yang tersisa bukan hanya umbi di dalam tanah, tetapi juga rasa ingin tahu yang sempat tumbuh di tengah permukiman padat kota.

Itu mungkin warisan paling penting dari satu bunga bangkai Suweg yang sebentar saja mekar, tapi jejak ilmiahnya bisa bertahan jauh lebih lama.

Kuybeli earns a commission when you shop through our links, at no extra cost to you. Editorial content is independently selected by our team.

You May Also Like

Comments
Tulis sesuatu...
Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berbagi pendapat!