Saat Nilai Tugas Melejit, Tapi Otak Diam di Tempat
Beberapa waktu lalu, di sebuah kelas menulis, Prof. Dairabi dari Jambi menemukan fenomena yang bikin alis terangkat.
Mahasiswa yang sebelumnya menulis biasa-biasa saja, tiba-tiba bisa menghasilkan tulisan dengan kualitas setara penutur asli, bahkan kadang lebih rapi dan mulus dari yang ia perkirakan.
Yang janggal, hasil pre-tes dan UTS mereka tidak nyambung dengan performa di tugas akhir.
Setelah dicek dengan alat deteksi AI, muncul indikasi kuat bahwa sebagian besar tulisan tersebut bukan lagi lahir dari kepala mahasiswa, melainkan dari mesin AI.
Sebagai respons, Prof. Dairabi mengambil dua langkah tegas:
Ia mengubah kelas menjadi model flipped classroom: materi dipelajari di rumah, sedangkan kegiatan menulis dilakukan di kelas, tanpa perangkat elektronik.
Ia menegaskan kepada mahasiswa bahwa ketergantungan pada AI dapat menurunkan kualitas pembelajaran dan memutus latihan berpikir mandiri.
Langkah ini bukan sekadar soal teknis menulis, tapi sekaligus upaya etis menghadapi krisis baru di dunia akademik: krisis kognitif akibat otomatisasi berpikir.
Normal Baru: Menulis Tanpa Benar-Benar Berpikir
Sebagai dosen di fakultas yang sama, saya menjumpai gejala yang mirip.
Banyak mahasiswa sekarang lebih tertarik mencari cara paling canggih untuk “mengendalikan AI” ketimbang mengasah kemampuan menulis mereka sendiri.
Mereka semakin jago memberi instruksi (prompt), namun makin gagap ketika diminta mengembangkan ide dengan kata-kata mereka sendiri.
AI memang memudahkan banyak hal, tetapi pada saat yang sama ia perlahan mengikis unsur paling manusiawi dari aktivitas menulis: proses berpikir.
Penelitian terbaru oleh Zhai, Wibowo, dan Li (2024) menunjukkan bahwa penggunaan berlebihan sistem dialog AI berdampak negatif terhadap kemampuan berpikir kritis dan pengambilan keputusan mahasiswa.
Mereka menyebut fenomena ini sebagai cognitive offloading: ketika beban kognitif dialihkan ke mesin sampai otak berhenti bekerja secara aktif.
Akibatnya, mahasiswa jadi mudah puas dengan jawaban instan dan tidak lagi terlatih menyusun argumen sendiri.
Inilah yang menjelaskan kenapa bisa muncul “lonjakan kualitas semu” dalam tugas menulis.
AI mampu meniru struktur akademik, gaya bahasa formal, dan alur argumentasi logis, tapi tidak merefleksikan proses berpikir penulisnya.
Tulisan kelihatan rapi dan “benar” secara teknis, namun secara intelektual terasa kosong, seperti yang oleh Viktor Frankl disebut sebagai Existential Vacuum: kekosongan makna.
AI: Bukan Musuh, Tapi Tes Kedewasaan Intelektual
Sebagian orang menganggap AI sebagai ancaman langsung bagi dunia pendidikan.
Saya tidak sepenuhnya sepakat.
AI lebih mirip pedang bermata dua.
Di tangan individu dengan kemampuan berpikir kuat, ia bisa menjadi alat yang sangat membantu: mereka mampu mengkritisi, memodifikasi, dan mengembangkan ide yang dihasilkan mesin.
Namun bagi mahasiswa yang fondasi berpikir analitisnya masih rapuh, AI mudah berubah menjadi jalan pintas yang justru melemahkan kemampuan berpikir kreatif.
Mahapatra (2024), dalam studi tentang dampak ChatGPT terhadap kemampuan menulis mahasiswa ESL, menemukan bahwa AI memang meningkatkan:
ketepatan tata bahasa
kejernihan kalimat
Tapi hampir tidak ada perkembangan berarti pada kemampuan berpikir tingkat tinggi seperti:
analisis
evaluasi
sintesis ide
Temuan serupa dikemukakan oleh Shi dan rekan-rekan (2024) dalam tinjauan sistematis di jurnal RECALL dari Cambridge.
Mereka menyimpulkan bahwa umpan balik otomatis berbasis AI:
efektif memperbaiki kesalahan dangkal
tetapi gagal membangun kemampuan menulis tingkat lanjut, seperti penyusunan argumen dan koherensi logis
Dengan kata lain, AI bisa memperbaiki kalimat, tapi tidak bisa menggantikan proses berpikir yang melahirkan kalimat itu.
Pendangkalan Kognitif di Era Serba Instan
Dalam konteks pendidikan, fenomena ini bisa disebut sebagai pengurangan atau pendangkalan kognitif.
Mahasiswa tidak lagi belajar karena dorongan ingin tahu, melainkan karena tekanan untuk produktif dan cepat selesai.
Saat AI membuat hampir semua hal terasa lebih mudah, yang diam-diam hilang adalah perjuangan dan kegigihan belajar, dua unsur penting dalam proses pembentukan intelektualitas.
Alkamel (2024) menemukan bahwa mahasiswa yang sering menggunakan ChatGPT untuk menulis cenderung:
mengikuti format dan pola gagasan yang “disetir” teknologi
menulis dengan cepat, namun kehilangan kemampuan mengedit sendiri
semakin jarang merenungkan ide secara kritis
Khan (2024), dalam kajian terhadap mahasiswa di Bangladesh, juga menemukan pola yang mirip.
Alat berbasis AI memang meningkatkan:
kepercayaan diri menulis
efisiensi waktu
Namun ada efek samping serius berupa:
menurunnya kepekaan bahasa
melemahnya kreativitas dalam berpikir
Di titik ini, peran dosen menjadi sangat krusial.
Tanpa pengawasan etis dan pembelajaran yang menekankan proses berpikir, AI hanya akan menjadi alat yang memperparah kemalasan intelektual.
Kembali ke Kelas: Tulis dengan Tangan, Pikir dengan Kepala
Langkah Prof. Dairabi memindahkan tugas menulis ke dalam kelas dan membatasi penggunaan gawai merupakan bentuk perlawanan intelektual terhadap otomatisasi berpikir.
Ini bukan soal romantisasi cara lama, melainkan strategi pedagogis untuk mengembalikan keaslian proses menulis.
Lo, Wang, dan Hew (2024) dalam tinjauan sistematis mereka menekankan bahwa integrasi AI dalam pengajaran harus:
dilakukan dengan bimbingan, bukan diberikan secara bebas tanpa kontrol
dirancang agar mahasiswa tetap menjalani proses kognitif yang sah dalam menyusun teks
Menurut saya, pembelajaran menulis di era AI bukan tentang menolak teknologi, tetapi tentang mendidik cara berpikir terhadap teknologi.
Mahasiswa perlu menyadari bahwa:
menulis bukan sekadar menghasilkan teks
menulis adalah proses menciptakan makna yang kelak bisa diimplementasikan dalam kehidupan
Jika digunakan secara bijak, AI bisa menjadi mentor digital yang berharga, misalnya untuk:
membandingkan gaya penulisan
menguji konsistensi logika
memperkaya kosakata
Namun ketika AI dipakai untuk menggantikan proses berpikir, teknologi itu berubah menjadi bentuk kecanduan intelektual.
Menulis untuk Mengasah Pikiran, Bukan Sekadar Menyelesaikan Tugas
Fenomena tulisan dengan “kualitas di luar nalar” sebenarnya adalah cermin krisis pendidikan hari ini: kecepatan mengalahkan kedalaman.
AI mengaburkan batas antara belajar dan menyalin, antara berpikir dan sekadar mengetik.
Seperti dikatakan Prof. Dairabi, ketergantungan pada AI tools dapat menyebabkan pendangkalan pembelajaran.
Pernyataan ini tepat, karena kemampuan menulis sejatinya bukan hanya urusan tata bahasa, tetapi juga kemampuan bernalar dan menyusun makna.
AI adalah alat, bukan pengganti intelektualitas.
AI akan menguatkan penulis yang mau berpikir, tetapi akan menumpulkan mereka yang hanya mau menyalin.






