Pamer Harta di Era Media Sosial
Fenomena pamer harta semakin menjadi tren, apalagi dengan mudahnya mengunggah foto barang branded, perhiasan mewah, rumah megah, hingga gaya hidup serba glamor di media sosial.
Dalam perspektif Islam, pamer kekayaan bukan sekadar gaya hidup, tapi menyentuh ranah hukum syariat dan kondisi hati. Di sinilah pembahasan tentang Hukum Pamer Harta menjadi sangat penting, karena bisa menyeret seorang Muslim ke dalam penyakit hati bernama riya.
Para ulama dan lembaga keagamaan menjelaskan bahwa pamer harta dalam Islam adalah perbuatan yang dilarang, karena sarat dengan unsur kesombongan dan keinginan dipuji. Tren flexing—memamerkan rumah mewah, koleksi kendaraan, hingga perhiasan eksklusif—bukan hanya merusak keikhlasan, tetapi juga membawa dampak spiritual yang berat.
Pamer kekayaan di media sosial dipandang sebagai akhlak tercela yang sangat dekat dengan kesombongan. Islam menegaskan bahwa sikap membanggakan diri adalah perilaku yang dibenci Allah SWT.
Allah SWT berfirman dalam Surat Luqman ayat 18:
وَلَا تُصَعِّرْ خَدَّكَ لِلنَّاسِ وَلَا تَمْشِ فِي الْاَرْضِ مَرَحًاۗ اِنَّ اللّٰهَ لَا يُحِبُّ كُلَّ مُخْتَالٍ فَخُوْرٍۚ
Artinya: “Janganlah kamu memalingkan wajah dari manusia (karena sombong) dan janganlah berjalan di bumi ini dengan angkuh. Sesungguhnya Allah tidak menyukai setiap orang yang sombong lagi sangat membanggakan diri.”
Ayat ini memperjelas bahwa Hukum Pamer Harta berkaitan erat dengan larangan bersikap sombong, yang sedikit demi sedikit bisa mengikis ketakwaan.
Secara tegas, Kementerian Agama juga menjelaskan bahwa pamer kekayaan termasuk bentuk kesombongan. Dari sisi syariat, Hukum Pamer Harta adalah haram ketika perbuatan tersebut mengarah pada riya, yaitu syirik kecil yang timbul saat seseorang beramal demi mendapatkan pujian manusia.
Riya: Akar Masalah di Balik Pamer Harta
Riya adalah inti dari problem pamer harta. Imam Al-Ghazali dalam Ihya’ Ulumiddin menjelaskan bahwa amal apa pun yang tercampur niat riya akan menjadi haram, walaupun secara lahiriah tampak seperti ibadah.
1. Menghapus pahala ibadah
Riya bisa menghilangkan nilai pahala amal. Dalam Surat Al-Baqarah ayat 264, Allah menjelaskan bahwa sedekah yang dilakukan dengan niat pamer dan mengharap pujian tidak akan bernilai pahala di sisi-Nya.
2. Termasuk syirik kecil
Rasulullah SAW menyebut riya sebagai asy-syirk al-ashghar (syirik kecil). Penyakit ini begitu berbahaya karena sifatnya yang tersembunyi dan sering tidak disadari oleh pelakunya.
3. Mendatangkan murka Allah SWT
Karena tergolong syirik kecil, pelaku riya berada dalam ancaman azab di akhirat. Menghias feed dengan pamer harta tetapi merusak tauhid di dalam hati bukanlah hal sepele.
4. Merusak keikhlasan
Ikhlas adalah syarat utama diterimanya ibadah. Ketika seseorang memamerkan kekayaannya—baik berupa perhiasan, barang mewah, atau gaya hidup—demi mendapatkan pengakuan orang lain, esensi keikhlasan itu lenyap.
5. Menjerumuskan ke dalam kemunafikan
Dalam Surat An-Nisa ayat 142, orang munafik digambarkan beribadah dalam keadaan malas dan penuh riya. Artinya, riya adalah salah satu ciri kemunafikan yang patut diwaspadai.
6. Lebih berbahaya dari fitnah Dajjal
Rasulullah SAW pernah menyampaikan bahwa kekhawatiran beliau terhadap riya lebih besar daripada kekhawatiran terhadap fitnah Dajjal. Ini menunjukkan betapa seriusnya ancaman penyakit hati yang satu ini.
7. Menimbulkan kegelisahan hati
Orang yang terbiasa riya akan tergantung pada pandangan dan pujian manusia. Hidupnya dipenuhi rasa cemas: takut tidak dipuji, takut dianggap biasa saja, takut kalah glamor. Akhirnya, hati tidak pernah benar-benar tenang.
Semua bahaya ini berkaitan erat dengan Hukum Pamer Harta, karena flexing dan unjuk kekayaan di media sosial sangat mudah memicu riya.
Bentuk-Bentuk Riya yang Nyambung dengan Pamer Harta
Dalam kehidupan sehari-hari, riya bisa muncul dalam banyak bentuk. Semuanya menjadi fondasi pemahaman tentang Hukum Pamer Harta, di antaranya:
Riya dalam ibadah fisik: misalnya sengaja memperlama shalat agar terlihat lebih khusyuk di mata orang lain.
Riya dalam penampilan: berpakaian dengan gaya tertentu, termasuk busana syar’i atau aksesori religius, semata-mata demi pencitraan.
Riya dalam perkataan: menonjolkan bacaan Al-Qur’an atau kata-kata religius demi terlihat saleh.
Riya dalam harta: memamerkan kekayaan di media sosial, mulai dari koleksi perhiasan mewah, tas branded, mobil, hingga liburan mahal.
Riya dalam amal kebaikan: menolong, bersedekah, atau berbagi hanya agar dipuji sebagai orang dermawan.
Riya dalam ilmu: menggunakan ilmu agama sebagai sarana mencari kehormatan dan status sosial.
Seluruh bentuk riya ini menegaskan bahwa pamer harta tidak sejalan dengan etika dan akhlak Islam, meskipun dibungkus caption religius atau kata-kata syukur.
Cara Menghindari Riya dan Kebiasaan Pamer Harta
Agar tidak terjebak pada pelecehan nilai tauhid, para ulama memberikan beberapa langkah praktis yang bisa dipraktikkan di tengah derasnya arus flexing di media sosial:
Meluruskan niat dalam setiap perbuatan
Sebelum mengunggah sesuatu atau melakukan sebuah amal, tanyakan pada diri sendiri: ini karena Allah atau karena ingin dipuji?Memupuk sifat tawadhu dan hidup sederhana
Membiasakan diri untuk rendah hati, tidak berlebihan menampilkan kenikmatan dunia di depan publik.Menyembunyikan amal baik sejauh mungkin
Jika bisa dilakukan tanpa perlu diketahui orang lain, biarkan cukup Allah yang tahu.Konsisten beribadah baik saat sendiri maupun di depan orang
Ibadah yang stabil, tidak bergantung pada ada-tidaknya penonton, menjadi salah satu indikator keikhlasan.Tidak mengungkit amalan yang sudah dilakukan
Jangan menjadikan kebaikan sebagai bahan cerita untuk meninggikan diri.Tidak berlebihan membanggakan kelebihan diri
Baik itu kekayaan, perhiasan, jabatan, atau pencapaian, semua hakikatnya adalah titipan, bukan alat pamer.Memperbanyak dzikir dan doa agar dijauhkan dari riya
Hati mudah tergelincir, karena itu harus terus dijaga dengan mengingat Allah.Tidak terlena oleh pujian manusia
Pujian bisa menjadi racun yang pelan-pelan merusak keikhlasan jika terlalu dinikmati.Rutin melakukan muhasabah diri
Evaluasi niat, sikap, dan aktivitas di media sosial: apakah semakin mendekatkan diri kepada Allah, atau sebaliknya?Mengingat kematian dan hari akhir
Kesadaran bahwa semua yang dipamerkan akan ditinggalkan pada akhirnya, menjadi rem yang kuat dari sikap berlebihan.
Penutup: Nikmati Nikmat, Bukan Dipermainkan oleh Nikmat
Memiliki harta dan perhiasan mewah bukanlah dosa. Yang menjadi masalah adalah ketika harta itu dijadikan panggung untuk memuaskan ego, membangun citra, dan mengejar pujian.
Di era ketika satu unggahan bisa dilihat ribuan orang dalam hitungan detik, bijaklah sebelum memencet tombol “posting”. Pamer harta mungkin mendatangkan banyak like, tetapi bisa jadi di saat yang sama mengikis pahala dan merusak hati.
Pada akhirnya, yang paling berharga bukan seberapa mewah perhiasan yang kita pakai, tetapi seberapa selamat hati kita dari riya dan kesombongan.






