KuybeliKuybeli

Gen Z Resmi Pindah Haluan: Dari Doomscrolling ke “Lari, Angkat Beban, Repeat”

Gen Z Resmi Pindah Haluan: Dari Doomscrolling ke “Lari, Angkat Beban, Repeat”
Minat|Fitness AI

Gen Z Capek Doomscrolling, Saatnya Bergerak

Generasi Z di seluruh dunia pelan-pelan meninggalkan kebiasaan tenggelam dalam doomscrolling di media sosial dan mulai memilih aktivitas fisik yang lebih nyata dan bermakna.

Perubahan ini tercermin dalam laporan tahunan ke-12 Strava, “Year In Sport: Trend 2025”, yang mengolah miliaran data aktivitas pengguna plus survei ke lebih dari 30.000 responden.

Strava menemukan bahwa Gen Z sekarang lebih memprioritaskan bergerak, membangun jejaring, dan mencari komunitas di dunia nyata. Mereka bukan cuma makin rajin lari dan ikut race, tapi juga menjadikan olahraga sebagai cara bersosialisasi, bahkan menggantikan sebagian aktivitas yang dulu diisi scrolling timeline.

CEO Strava, Michael Martin, menegaskan bahwa lebih dari separuh Gen Z berencana makin sering menggunakan Strava pada 2026, sementara pemakaian Instagram dan TikTok cenderung stagnan atau malah turun. Gen Z, kata dia, sedang mengejar pengalaman hidup yang nyata, bukan sekadar tambahan jam screen time.

Lari Masih Primadona, Tapi Latihan Makin Variatif

Di Strava, lari tetap duduk di singgasana sebagai olahraga paling populer sepanjang 2025. Partisipasi dalam race dan event lari meningkat tajam, dengan Gen Z tercatat 75% lebih sering menjadikan race sebagai motivasi utama berolahraga dibanding Gen X.

Lonjakan ini bukan hanya datang dari pelari elite. Sebanyak 86% pelari pemula dan menengah berhasil mengukir personal best (PB) tahun ini. Artinya, bukan sekadar ikut-ikutan tren, tapi benar-benar ada progres.

Namun, rutinitas Gen Z jauh dari kata monoton. Mereka aktif menyeimbangkan lari dengan:

  • Jalan kaki

  • Latihan beban

  • Beragam aktivitas fisik lainnya

Latihan beban menjadi bintang baru. Gen Z tercatat dua kali lebih mungkin menjadikannya olahraga utama dibanding Gen X, dengan motivasi pembentukan tubuh yang 61% lebih tinggi.

Tren ini juga kuat di kalangan perempuan. Pengguna perempuan 21% lebih mungkin merekam latihan beban di Strava dibanding pengguna laki-laki, menunjukkan bahwa strength training bukan lagi “wilayah eksklusif” para pria.

Secara keseluruhan, lebih dari 54% pengguna Strava kini mencatat lebih dari satu jenis olahraga. Jalan kaki menempati posisi kedua sebagai aktivitas yang paling banyak direkam.

Meski begitu, ada satu hal yang masih terasa menantang: memulai olahraga baru seperti ski atau snowboarding. Gen Z dilaporkan dua kali lebih berpeluang merasa canggung saat mencoba olahraga baru dibanding Gen X.

Uang & Waktu Lebih Banyak untuk Fitness daripada Kencan

Menariknya, meskipun 65% Gen Z mengaku terdampak inflasi, komitmen mereka terhadap kebugaran justru naik level.

  • 30% Gen Z berencana menambah pengeluaran untuk kebugaran di 2026

  • Investasi terbesar mengalir ke perangkat wearable, di mana Gen Z 63% lebih mungkin membelinya dibanding Gen X

Prioritas finansial mereka jelas: 64% Gen Z lebih memilih menghabiskan uang untuk perlengkapan olahraga ketimbang untuk berkencan.

Olahraga juga berubah menjadi cara baru untuk bersosialisasi. Dibanding Gen X, Gen Z:

  • 39% lebih tinggi kemungkinannya menggunakan aktivitas fisik untuk bertemu orang dengan minat serupa

  • Hampir 46% responden menganggap olahraga adalah ide kencan pertama yang sangat oke

Dengan kata lain, “ngopi dulu?” mulai tersaingi oleh “lari bareng dulu?”.

Komunitas berbasis aktivitas fisik di Strava pun berkembang pesat. Pada 2025, jumlah klub baru hampir naik empat kali lipat, hingga total mencapai 1 juta klub.

Beberapa sorotan penting:

  • Klub hiking tumbuh paling cepat (5,8x)

  • Klub lari menyusul dengan pertumbuhan sekitar 3,5x

  • Aktivitas yang diorganisir klub naik 1,5 kali dari tahun sebelumnya

Semua ini menandakan perpindahan yang kuat dari komunitas digital ke pertemuan langsung dan aktivitas offline.

Liburan Versi Gen Z: Tetap Keringetan

Buat Gen Z, liburan tanpa gerak bukan lagi liburan. Mereka 23% lebih tinggi kemungkinannya dibanding Gen X untuk menganggap olahraga saat liburan sebagai kewajiban.

Filosofi liburan mereka bisa diringkas menjadi: “lari, berjemur, dan ngemil”.

Walaupun perjalanan internasional menurun, eksplorasi di sekitar rumah justru meningkat. Alasan utama mereka bepergian kini banyak berhubungan dengan aktivitas fisik, misalnya:

  • Olahraga musim dingin (65%)

  • Hiking (58%)

  • Olahraga air (48%)

Liburan bukan lagi soal rebahan sepanjang hari, tapi kesempatan untuk mencoba medan baru, rute baru, dan tantangan fisik yang berbeda.

Gadget, AI, dan Data: Senjata Rahasia Gaya Hidup Aktif

Di sisi teknologi, smartphone masih jadi perangkat andalan untuk merekam aktivitas. Sebanyak 72% pengguna memakai ponsel sebagai alat utama.

Di belakangnya, platform seperti Garmin dan Apple Health tetap populer. Untuk kategori jam tangan, Apple Watch mendominasi, sementara di dunia sepatu lari, ada perubahan menarik: ASICS Novablast untuk pertama kalinya merebut posisi teratas sebagai sepatu lari terpopuler, menggeser Nike Pegasus.

Kecerdasan buatan juga mulai berperan sebagai pelatih personal digital. Sekitar 46% responden memanfaatkan AI untuk membantu latihan mereka.

Strava dan mitranya, Runna, berada di garis depan tren ini. Salah satu fitur yang banyak digemari adalah Routes berbasis komunitas. Fitur ini:

  • Menganalisis data rute populer

  • Memberikan rekomendasi rute yang lebih personal

  • Menghadirkan rute baru setiap 19 detik, menandakan betapa aktifnya komunitas berbagi jalur favorit mereka

Semua ini dirancang untuk mendukung pengalaman pengguna yang lebih cerdas, terarah, dan menyenangkan.

Peta Aktivitas Indonesia: Siapa Paling Rajin Bergerak?

Laporan Strava 2025 juga menyajikan potret menarik tentang pola aktivitas di Indonesia.

Sulawesi Utara dinobatkan sebagai wilayah paling aktif dengan median langkah harian tertinggi secara nasional, yaitu 5.392 langkah per hari. Posisi berikutnya ditempati oleh:

  • Banten dengan 5.342 langkah

  • Sulawesi Selatan dengan 5.308 langkah

Untuk kategori jalan kaki, Sulawesi Tenggara memimpin sebagai wilayah dengan pejalan kaki tercepat, mencatat pace rata-rata 00:12:37/km.

Namun, jika bicara jarak per sesi, Nusa Tenggara Timur jadi juara dengan rata-rata 3,9 km setiap aktivitas.

Sementara itu, Yogyakarta menonjol sebagai kota yang paling rajin bergerak di pagi hari. Sekitar 55,4% aktivitas di Yogyakarta dilakukan antara pukul 4–7 pagi. Artinya, banyak pengguna yang sudah berlari, jalan, atau bersepeda ketika sebagian orang masih bergelut dengan alarm.

Secara global, Copenhagen dinobatkan sebagai area metro tercepat untuk lari, sementara pengguna di Afrika Selatan dan Kolombia tercatat paling sering berlari dalam kelompok.

Data-data ini menegaskan bahwa platform seperti Strava bukan hanya alat pelacak aktivitas, tapi juga sumber wawasan kesehatan dan gaya hidup aktif yang sangat kaya.

Dari Layar ke Lapangan: Masa Depan Aktif ala Gen Z

Edisi ke-12 laporan Strava ini pada dasarnya adalah cermin perubahan perilaku generasi muda.

Gen Z menunjukkan bahwa:

  • Kebiasaan pasif di depan layar bisa digantikan oleh kebiasaan aktif di dunia nyata

  • Teknologi dan komunitas bisa bersinergi, bukan saling bertentangan

  • Olahraga bukan lagi sekadar hobi, tapi bagian dari identitas dan cara bersosialisasi

Dengan komitmen Gen Z yang kuat dan dukungan platform seperti Strava yang terus berinovasi, tren positif ini diprediksi akan terus menguat dalam beberapa tahun ke depan.

Dari doomscrolling ke dominasinya di race, dari swipe ke start, Gen Z sedang membuktikan bahwa generasi digital pun bisa menjadi generasi paling aktif secara fisik – kalau tools dan komunitasnya tepat.

Kuybeli earns a commission when you shop through our links, at no extra cost to you. Editorial content is independently selected by our team.

You May Also Like

Comments
Tulis sesuatu...
Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berbagi pendapat!