Sanggul Bali Jadi Panggung Pertemuan Dua Generasi
Di Desa Jagapati, Kecamatan Abiansemal, Badung, ada satu kegiatan yang benar-benar membekas di hati warga, terutama para ibu-ibu PKK.
Bukan sekadar kumpul biasa, tetapi sebuah workshop penataan rambut bertema Sanggul Wanita Khas Bali yang digelar di Kantor Desa oleh mahasiswa Universitas PGRI Mahadewa Indonesia yang sedang menjalankan program KKN.
Semangatnya bukan main: belajar gaya, sekaligus merawat budaya.
Mahasiswa Jadi Mentor, Ibu-Ibu Jadi Bintang
Peserta utamanya tentu saja ibu-ibu PKK yang datang dengan antusias. Mereka serius memperhatikan setiap gerakan tangan mahasiswa I Kade Oka Prawira Wibawa, yang menjadi narasumber sekaligus demonstrator sanggul tradisional Bali.
Mulai dari teknik dasar hingga detail kecil, semua dipraktikkan langsung di depan para peserta.
Berbagai model sanggul Bali diperagakan oleh Kadek Oka:
Sanggul klasik yang sarat nuansa tradisi
Sanggul modifikasi yang lebih simpel dan dinamis
Gaya yang disesuaikan dengan kebutuhan acara dan tren masa kini
Intinya, tradisional tapi tetap bisa tampil kekinian.

Bukan Cuma Gaya, Tapi Juga Warisan dan Peluang
Workshop ini bukan hanya ajang belajar menata rambut.
Di balik sisir, jepit rambut, dan sanggul, ada momen indah pertukaran semangat antargenerasi: mahasiswa berbagi ilmu, ibu-ibu menjaga tradisi.
Manfaat yang mengalir dari kegiatan ini pun berlapis:
Menambah keterampilan penataan rambut khas Bali
Menguatkan kebanggaan terhadap budaya daerah
Membuka peluang ekonomi lewat jasa tata rias dan sanggul tradisional
Warisan budaya ternyata tidak pernah ketinggalan zaman, selama disentuh dengan cara yang tepat.
Dengan kreativitas dan kemauan belajar, sanggul Bali bukan hanya jadi mahkota di kepala, tetapi juga bisa menjadi sumber penghasilan dan simbol kuat cinta pada tradisi.






