AI Masuk Kelas: Seru, Dekat, dan Tetap Islami
Suasana kelas 5 Buya Hamka SD Muhammadiyah 15 Surabaya (SDM Limas) mendadak berbeda.
Bukan sekadar belajar seperti biasa, para siswa diajak seru-seruan bareng tim dari Telkom University Kampus Surabaya dalam sebuah kegiatan pengabdian kepada masyarakat bertema “AI Fun Learning: Pengenalan Kecerdasan Buatan dengan Aktif Interaktif untuk Anak SD”.
Kegiatan ini menjadi jembatan pertama bagi banyak siswa untuk mengenal dunia kecerdasan buatan, tapi dengan cara yang ringan, menyenangkan, dan tetap bernuansa Islami.
Dibimbing Dosen dan Mahasiswa: AI Jadi Akrab
Seluruh murid kelas 5 Buya Hamka mengikuti sesi ini dengan antusias.
Mereka dipandu oleh dosen pembimbing, Dimas Chaerul Ekty Saputra, yang mengajak siswa membuka kegiatan dengan semangat dan suasana positif.
Ia menekankan bahwa mengenal teknologi tidak harus menghilangkan nilai keislaman, justru bisa berjalan berdampingan.
Dalam kegiatan ini, beberapa mahasiswa Telkom University terlibat aktif, di antaranya:
Neisyah Nurul Alyazara Ardiansyah
Agnes Destiny Sava S
Arina Qurrata Aini
Muh. Aggum Nias P
Arin bertugas mendokumentasikan momen-momen penting, sementara yang lain bergantian mengisi materi dan memandu aktivitas interaktif bersama siswa.
Apa Itu AI? Dijelaskan dengan Bahasa Anak SD
Sesi materi dibuka oleh Neisyah yang terlebih dahulu bersilaturahmi dan memperkenalkan tim kepada siswa.
Ia lalu mengajak anak-anak masuk ke tema “Mengenal Kecerdasan Buatan dengan Cara Seru dan Islami”.
Neisyah memulai dengan pertanyaan pemantik:
“Adik-adik ada yang tahu apa itu kecerdasan buatan?”
Dari sana, ia menjelaskan bahwa kecerdasan buatan (Artificial Intelligence/AI) adalah teknologi yang dirancang manusia agar mesin bisa belajar dan bekerja mirip manusia.
Beberapa poin penting yang ia tekankan:
AI tidak punya perasaan dan tidak memiliki kemauan sendiri.
Semua kemampuan AI berasal dari data dan program yang dibuat manusia.
AI adalah alat pintar yang bisa membantu aktivitas sehari-hari, bukan sesuatu yang harus ditakuti.
Dengan bahasa sederhana, siswa diajak paham bahwa AI bukan sihir, melainkan hasil kerja keras manusia dan ilmu pengetahuan.
AI Ternyata Ada di Sekitar Kita
Pada sesi berikutnya, giliran Aggum yang mengajak siswa melihat bahwa AI sudah hadir di kehidupan mereka sehari-hari.
Dengan bantuan tampilan di layar LCD, ia bertanya kepada siswa:
“Adik-adik, siapa yang tahu manfaat AI dalam kegiatan kita sehari-hari?”
Aggum kemudian mengurai berbagai manfaat AI, di antaranya:
Membantu proses belajar jadi lebih cepat dan menyenangkan.
Melatih pola pikir logis dan kemampuan memecahkan masalah.
Mengenalkan teknologi sejak dini dengan cara yang positif dan sesuai nilai Islami.
Ia juga memberi contoh konkret AI yang dekat dengan anak-anak, seperti:
Aplikasi Al-Qur’an digital
Google Assistant
Kamera ponsel yang menggunakan fitur AI untuk mengenali wajah atau memperbaiki foto
Dengan contoh-contoh ini, siswa mulai menyadari bahwa AI bukan hanya ada di robot atau film, tapi juga di perangkat yang mereka pegang setiap hari.
Bijak Pakai AI: Anak Hebat, Teknologi Tepat
Setelah siswa mengenal contoh dan manfaat AI, Neisyah kembali menegaskan sisi penting yang tidak boleh dilupakan: kebijaksanaan dalam menggunakan teknologi.
Ia menyampaikan beberapa “aturan anak hebat” dalam memakai AI dan gawai, di antaranya:
Menggunakan AI untuk belajar, bukan sekadar bermain tanpa arah.
Tetap sopan saat memakai fitur suara, misalnya saat berbicara ke asisten digital.
Menyadari bahwa teknologi hanyalah alat bantu, bukan sesuatu yang mengendalikan hidup.
Tidak membiarkan gawai atau aplikasi membuat mereka lalai beribadah dan meninggalkan kewajiban.
Pesan utamanya jelas: generasi yang menguasai teknologi harus tetap berakhlak mulia.
Neisyah mengingatkan bahwa anak-anak bisa tumbuh jadi generasi yang cerdas teknologi sekaligus kuat dalam nilai agama.
Game Seru: Tebak Gambar dan Main Bareng AI
Agar materi tidak membosankan, sesi berikutnya diisi dengan permainan yang dipandu oleh Nessy.
Ada dua game utama yang membuat suasana kelas semakin meriah:
1. Tebak gambar AI
Siswa diminta menebak mana gambar yang asli dan mana yang dibuat oleh AI.
Contoh gambar yang ditampilkan antara lain Ka’bah, buah-buahan, dan anak mengaji.
Anak-anak diajak mengamati detail dan dilatih kepekaannya terhadap konten digital.
2. Percobaan langsung teknologi AI
Melalui platform Educaplay, siswa menebak gambar yang dihasilkan AI.
Melalui Quick, Draw!, mereka menggambar dengan cepat dan melihat bagaimana AI menebak gambar tersebut.
Selama permainan, Nessy memandu dengan energi tinggi sehingga suasana kelas terasa hidup.
Anak-anak tidak hanya belajar konsep, tetapi mengalami langsung bagaimana AI bekerja dengan cara yang menyenangkan.
AI Itu Alat, Bukan Penguasa Hidup Kita
Menjelang akhir kegiatan, Neisyah kembali merangkum pesan penting hari itu.
Ia menyampaikan bahwa mengenal AI tidak harus sulit atau menakutkan.
Dengan pendekatan yang seru dan dibalut nilai Islami, anak-anak bisa:
Akrab dengan teknologi sejak dini
Paham bahwa AI adalah alat bantu, bukan pengganti manusia
Mengarahkan penggunaan AI untuk kebaikan dan penambah ilmu
Ia menegaskan bahwa AI seharusnya dipakai untuk hal-hal yang mendekatkan diri kepada Allah, bukan sebaliknya.
Penutup: Pengalaman Berharga untuk Generasi Digital Muslim
Kegiatan ditutup dengan sesi foto bersama dan dokumentasi oleh Arin.
Bagi para mahasiswa Telkom University, ini menjadi bukti nyata pengabdian kepada masyarakat.
Bagi siswa SDM Limas, ini adalah pengalaman pertama yang mengajarkan bahwa:
Teknologi bisa dipelajari dengan riang gembira
AI bisa menjadi teman belajar yang bermanfaat
Iman dan ilmu pengetahuan bisa berjalan seiring
Dengan bekal ini, diharapkan lahir generasi yang bukan hanya melek digital, tetapi juga cerdas, berakhlak, dan bijak memanfaatkan kecerdasan buatan dalam kehidupan sehari-hari.





