Era Digital: Hidup Makin Praktis, Dompet Makin Riskan
Di era ekonomi digital yang serba cepat, urusan belanja dan transaksi keuangan jadi super mudah. Dari handphone saja, kita bisa belanja kapan pun, di mana pun, dan barang diantar langsung ke rumah.
Sebagai konsumen, kita dimanjakan berbagai fasilitas:
Harga produk yang saling bersaing antarmarketplace
Ongkir murah, bahkan sering gratis
Diskon besar-besaran
Fasilitas cicilan dan PayLater yang kelihatannya ringan di awal
Belum lagi strategi pemasaran digital yang kreatif, dikemas cantik di media sosial, membuat kita selalu ingin klik, checkout, dan belanja lagi.
Manfaat Belanja Online: Hemat Waktu, Bisa Cek Harga
Kalau dipakai dengan bijak, belanja online itu banyak untungnya.
Konsumen bisa membandingkan harga dengan mudah dan memilih kualitas yang diinginkan
Hemat waktu dan tenaga, tidak perlu keluar rumah
Bisa ikut berburu harga supermiring saat live sale
Barang yang dibeli bahkan bisa dijual kembali, baik online maupun offline, untuk ambil keuntungan
Jadi, teknologi bukan musuh. Masalah muncul saat kemudahan ini tidak diimbangi pengendalian diri dan literasi keuangan.
Sisi Gelap PayLater dan Cicilan Kecil yang Menjebak
Di balik semua kemudahan, transaksi digital dan PayLater menyimpan mudharat ketika tidak dikelola dengan baik. Banyak kasus gagal bayar yang berujung pada kekacauan finansial keluarga.
Kerja sama antara perusahaan multifinance, peer to peer lending, dan e-commerce membuat proses pengajuan kredit menjadi sangat mudah. Transaksi kecil seperti di bawah 100 ribu rupiah terasa sepele, tetapi ketika diulang berkali-kali dalam sebulan, totalnya bisa membengkak.
Tanpa terasa, ada yang sampai tidak bisa membayar cicilan rumah karena penghasilannya habis untuk belanja fast fashion dan kebutuhan konsumtif lain lewat e-commerce.
Data OJK: PayLater Naik, Masalah Juga Ikut Naik
Berdasarkan data Otoritas Jasa Keuangan (OJK), per November 2024:
Baki debet kredit Buy Now Pay Later (BNPL) naik 42,68% year on year, mencapai Rp21,77 triliun
Jumlah rekening BNPL mencapai 24,51 juta
Pembiayaan bermasalah (Non Performing Financing/NPF) naik dari 2,76% menjadi 2,92%
Yang mengkhawatirkan, banyak kasus macet PayLater justru terjadi pada Gen Z, bahkan yang masih di bawah 19 tahun dan belum memiliki penghasilan tetap.
Gen Z yang sangat melek teknologi lebih tertarik memakai PayLater dibanding kredit perbankan karena prosesnya cepat dan minim syarat. Umumnya, layanan ini dipakai untuk memenuhi gaya hidup kekinian seperti:
Tren fashion terbaru
Perlengkapan rumah tangga
Gadget, laptop, dan handphone
Produk skincare dan perawatan tubuh
Pinjol: Dari Solusi Kilat Jadi Jerat Berat
Selain PayLater, kasus pinjaman online (pinjol) juga semakin marak dan menimbulkan korban.
Banyak orang belum bisa membedakan antara pinjol legal dan ilegal. Kurangnya literasi keuangan membuat masyarakat mudah terjebak pada pinjol dengan bunga mencekik dan cara penagihan yang meresahkan.
Survei Nasional Literasi dan Inklusi Keuangan (SNLIK) Indonesia 2024 menunjukkan:
Indeks literasi keuangan baru di angka 65,43%
Indeks inklusi keuangan sudah 75,02%
Artinya, semakin banyak orang punya akses keuangan, tetapi tidak semua paham cara mengelolanya dengan benar.
Pada tahun 2024, OJK menutup 2.930 layanan pinjol ilegal. Jika dihitung sejak 2017, total yang sudah ditutup mencapai 9.610 unit. Jumlah ini menunjukkan betapa masif dan meresahkannya praktik pinjol ilegal di Indonesia.
Masyarakat perlu diedukasi untuk selalu mengecek status legalitas pinjol di website OJK sebelum mengajukan pinjaman. Jika ilegal, biasanya bunga dan dendanya sangat tinggi dan bisa mengguncang keuangan keluarga.
Sebagai gambaran, untuk pinjol legal saja batas bunga kredit konsumtif per Januari 2025 adalah maksimal 0,2% per hari (6% per bulan), turun dari batas sebelumnya 0,3% per hari (9% per bulan), belum termasuk denda. Bisa dibayangkan seperti apa praktik pinjol ilegal.
Godaan Hedonisme dan Pentingnya Kontrol Emosi
Upaya meningkatkan literasi dan inklusi keuangan harus dibarengi dengan pembentukan karakter dalam mengelola uang.
Informasi yang begitu terbuka, konten gaya hidup glamor, serta budaya hedonisme di media sosial membuat kita mudah tergoda. Karena itu, pengendalian emosi dan nafsu konsumtif menjadi kunci.
Bagi seorang muslim, penguatan iman dan takwa menjadi modal utama. Istighfar, memohon ampun, dan meminta pertolongan Allah Swt. penting dilakukan, baik saat terimpit masalah ekonomi maupun ketika justru diberi kelapangan rezeki.
Kita perlu menanamkan sikap syukur dan qona’ah, karena jika terus mengikuti nafsu, tidak akan ada habisnya. Cantik atau ganteng bukan hanya soal merek baju. Kegaulan bukan diukur dari seberapa sering nonton konser mahal sampai harus memakai PayLater.
Keluarga: Tempat Diskusi, Bukan Sekadar Tempat Pulang
Keuangan keluarga bukan hanya urusan satu orang. Seluruh anggota keluarga perlu terlibat.
Luangkan waktu untuk sering berkumpul dan duduk bersama
Bicarakan masalah keuangan dan mimpi bersama
Saling menasihati dengan cara yang lembut dan penuh hikmah
Untuk Gen Z, pilihlah influencer positif yang membantu mengelola keuangan, bukan yang hanya mempromosikan gaya hidup konsumtif. Ubah mindset: dari hobi berutang menjadi hobi menabung.
Batas Sehat Berutang: Berapa Persen dari Gaji?
Utang bukan hal yang otomatis salah, tetapi harus terukur. Sebagai patokan umum, total cicilan sebaiknya tidak lebih dari 30% pendapatan bulanan.
Angka ini bukan aturan baku, tetapi bisa jadi rambu pengaman. Jika cicilan melewati batas tersebut, bersiaplah kerja lebih keras dan menghadapi tingkat stres yang lebih tinggi karena tekanan membayar kewajiban.
Kalau sudah telanjur berutang:
Tetap bertanggung jawab dan susun strategi pelunasan
Jangan pernah terpikir untuk kabur
Jangan menyakiti diri sendiri atau orang lain, karena itu bukan solusi
Jangan Mulai Bisnis dengan “Uang Panas”
Membangun usaha dengan modal dari “uang panas” berisiko tinggi. Yang dimaksud uang panas adalah uang yang sebenarnya bukan milik kita dan bisa ditarik sewaktu-waktu, misalnya dari utang yang tidak stabil.
Jika modal belum cukup, tidak masalah bekerja dulu dengan orang lain. Justru di situ kita bisa belajar cara menjalankan bisnis sambil mengumpulkan modal sendiri. Ingat, dunia usaha penuh ketidakpastian, apalagi di tengah kondisi ekonomi global yang tidak menentu.
Rumus Anggaran Keluarga: Zakat Dulu, Baru yang Lain
Mengelola keuangan keluarga perlu struktur yang jelas. Salah satu pendekatan yang bisa dipakai adalah membagi pos anggaran seperti berikut:
ZISWAF di awal, bukan di sisa: alokasikan sekitar 2,5% untuk zakat, sisanya untuk infak, sedekah, dan wakaf
ZISWAF diposisikan sebagai wujud syukur, sarana menyucikan harta, dan mendekatkan diri kepada Allah Swt.
Untuk keperluan lain, salah satu skema yang bisa diterapkan:
30% untuk konsumsi sehari-hari
Tambahan 30% untuk angsuran, baik cicilan konsumtif maupun produktif
15% untuk tabungan dana darurat
15% untuk investasi (dana dingin)
Dana darurat idealnya mencapai 4–6 kali pengeluaran bulanan. Misalnya pengeluaran bulanan 5 juta rupiah, maka target dana darurat adalah 20–30 juta rupiah.
Sementara itu, porsi 15% untuk investasi disebut sebagai dana dingin, yaitu dana yang jika hilang tidak mengganggu kebutuhan utama. Namun, saat berinvestasi, kita harus siap dengan segala kemungkinan, termasuk rugi dan bahkan kehilangan modal.
Tingkatkan Penghasilan, Bukan Hanya Pangkas Pengeluaran
Kalau ingin meningkatkan pengeluaran, jawabannya bukan sekadar menghemat, tetapi juga meningkatkan pendapatan.
Karena itu, jiwa entrepreneurship penting dimiliki setiap anggota keluarga:
Cermat memilih skema investasi dan jenis usaha
Rajin belajar dan tidak mudah menyerah
Berani mencoba, tetapi tetap berhitung risiko
Di atas semua itu, sikap tawaduk, berserah diri, dan selalu bersyukur atas nikmat Allah Swt. menjadi bekal utama. Seperti firman Allah dalam Q.S. Ibrahim [14]: 7, bahwa jika kita bersyukur, Allah akan menambah nikmat, dan jika mengingkari, azab-Nya sangat pedih.
Penutup: Bijak Finansial di Tengah Badai Digital
Era digital akan terus berkembang. Teknologi keuangan dan kemudahan bertransaksi tidak akan mundur lagi ke belakang.
Yang perlu kita lakukan adalah memperkuat literasi keuangan, mengendalikan gaya hidup, dan membangun karakter pengelola uang yang bertanggung jawab.
Dengan disiplin mengatur anggaran, membatasi utang, memperkuat iman, dan memperbanyak syukur, insyaallah keuangan keluarga bisa tetap sehat meski diterpa godaan PayLater, pinjol, dan gaya hidup serba instan.






