Kuybeli

Rabies Mengintai NTT: Jadikan Pemilik Hewan Sebagai Garda Terdepan Perlindungan

Profil ชนินทร์ อินทร์ดีชนินทร์ อินทร์ดี01-30

Rabies Kembali Bayangi NTT

KUPANG – Ancaman rabies kembali menghantui Nusa Tenggara Timur (NTT), memicu rasa cemas di tengah masyarakat.

Namun bagi Rektor Universitas Nusa Cendana (Undana), Prof. Dr. drh. Maxs U.E. Sanam, M.Sc, penyakit mematikan ini bukan sesuatu yang baru dan sebenarnya bisa dikendalikan.

Menurutnya, kunci keberhasilan bukan semata pada program pemerintah, melainkan pada komitmen dan peran aktif seluruh lapisan masyarakat, terutama para pemilik hewan.

Memahami Bahaya Rabies Sebelum Terlambat

Sebelum bicara soal cara mencegah, kita perlu tahu dulu seberapa berbahayanya rabies.

Rabies adalah penyakit zoonosis, yaitu penyakit yang menular dari hewan ke manusia dan disebabkan oleh virus.

Virus ini menyerang sistem saraf pusat, dan bila tidak ditangani segera, hampir selalu berujung pada kematian.

Penularan paling sering terjadi melalui gigitan hewan yang terinfeksi. Virus yang terdapat di air liur masuk melalui luka gigitan, lalu berjalan menuju otak dan menyebabkan gejala berat.

Peran Masyarakat: Bukan Sekadar Penonton

Penanggulangan rabies tidak bisa dibebankan hanya pada pemerintah.

Ini adalah tanggung jawab bersama, dan warga—khususnya pemilik hewan peliharaan—memegang peran yang sangat krusial.

Prof. Maxs menyinggung keberhasilan Inggris yang sudah bebas rabies sejak berabad-abad lalu. Salah satu kuncinya: aturan ketat soal anjing yang tidak boleh dilepas bebas, tetapi harus dikandangkan.

Contoh ini menunjukkan bahwa ketaatan masyarakat pada aturan adalah fondasi keberhasilan pengendalian rabies.

Langkah Nyata Pemilik Hewan untuk Putus Mata Rantai Rabies

Masyarakat NTT, terutama pemilik anjing dan hewan peliharaan lain, bisa melakukan serangkaian aksi nyata berikut untuk membantu memutus penularan rabies.

1. Patuh pada Aturan, Bukan Mencari Celah

Patuhi setiap kebijakan yang berlaku, termasuk aturan lalu lintas hewan.

  • Praktik penyelundupan anjing dari daerah endemik seperti Flores harus benar-benar dihentikan.

  • Aturan yang dibuat pemerintah bertujuan melindungi masyarakat, bukan untuk diakali atau dilanggar.

Setiap pelanggaran bisa membuka pintu bagi virus untuk menyebar lebih luas.

2. Vaksinasi Massal: Harga Mati untuk Hewan Peliharaan

Vaksinasi adalah senjata utama dalam perang melawan rabies.

  • Vaksin membantu membentuk kekebalan kelompok pada populasi hewan.

  • Setiap pemilik anjing wajib memastikan hewannya mendapat vaksin rabies secara rutin sesuai jadwal dari dinas terkait.

Tanpa vaksin, anjing kesayangan bisa berubah menjadi sumber bahaya, baik bagi keluarga sendiri maupun lingkungan sekitar.

3. Kandangkan dan Awasi Hewan Peliharaan

Jangan biarkan anjing berkeliaran tanpa pengawasan.

  • Hewan yang dibiarkan bebas lebih berisiko kontak dengan anjing liar atau hewan yang terinfeksi.

  • Mengendalikan pergerakan anjing membantu meminimalkan peluang penularan.

Dengan mengkandangkan atau selalu mengawasi anjing, pemilik telah melakukan satu langkah sederhana tapi sangat penting dalam menjaga keamanan lingkungan.

4. Waspada Gigitan, Cepat Bertindak

Jika seseorang—baik Anda sendiri, keluarga, maupun tetangga—digigit anjing atau hewan lain yang dicurigai rabies, jangan menunggu.

Lakukan langkah berikut:

  • Segera cuci luka dengan sabun dan air mengalir selama beberapa menit.

  • Setelah itu, secepat mungkin datangi fasilitas kesehatan terdekat untuk mendapatkan penanganan medis.

Dalam kasus rabies, kecepatan respons bisa menjadi pembeda antara hidup dan mati.

5. Jadi “Influencer” Edukasi di Lingkungan Anda

Rabies bukan hanya urusan tenaga kesehatan atau akademisi.

Setiap orang bisa menjadi agen edukasi di lingkungannya:

  • Ceritakan kepada keluarga dan tetangga tentang bahaya rabies.

  • Tekankan pentingnya vaksinasi hewan peliharaan.

  • Bagikan informasi sederhana tentang apa yang harus dilakukan jika terjadi gigitan.

Semakin banyak orang yang paham, semakin kuat pertahanan komunitas terhadap virus ini.

6. Dukung Penuh Program Pemerintah

Untuk mencapai NTT bebas rabies, dibutuhkan kerja sama erat antara pemerintah, akademisi, dan masyarakat.

Masyarakat diharapkan:

  • Mendukung program vaksinasi gratis yang diselenggarakan pemerintah.

  • Mengikuti kegiatan sosialisasi dan tidak menganggapnya sekadar formalitas.

  • Menjadi bagian dari solusi, bukan penghambat, dengan tidak menolak program penanggulangan.

Prof. Maxs menegaskan bahwa tanpa komitmen masyarakat, seluruh upaya pemerintah berpotensi sia-sia.

Rabies Bisa Dikalahkan, Asal Kita Kompak

Rabies adalah ancaman serius, tetapi bukan musuh yang mustahil dikalahkan.

Dengan:

  • Pemahaman yang benar,

  • Ketaatan terhadap aturan,

  • Vaksinasi hewan peliharaan yang rutin,

  • Pengawasan ketat terhadap anjing,

  • Serta partisipasi aktif masyarakat,

NTT berpeluang besar untuk bebas dari rabies.

Pada akhirnya, keberhasilan ini ada di tangan kita sebagai bagian dari komunitas.

Kalau pemilik hewan peliharaan mau pegang kendali, rabies tidak punya kesempatan untuk menang.

komentar

Belum ada komentar,