Alarm Bahaya Brain Rot pada Anak
Fenomena risiko penggunaan gawai berlebihan kembali jadi sorotan setelah Wakil Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah (Wamendikdasmen), Fajar Riza Ul Haq, menegaskan bahaya serius yang mengintai anak usia dini.
Ia mengangkat istilah “brain rot”, yaitu kondisi ketika stimulasi intelektual, emosional, dan sosial anak menurun karena terlalu sering terpapar layar dan dunia digital.
Peringatan ini disampaikan dalam kegiatan Peningkatan Kapasitas Fasilitator PAUD Holistik Integratif (PAUD HI) Tahap 2 yang diselenggarakan oleh Direktorat PAUD, Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah.
Data Mencengangkan: Tsunami Digital di Usia 0–6 Tahun
Fajar memaparkan data yang membuat banyak orang tua patut waspada:
33,4 persen anak usia 0–6 tahun sudah terbiasa memakai gawai.
25 persen di antaranya bahkan berada di rentang usia 0–4 tahun.
Menurutnya, angka itu bukan sekadar statistik kecil, melainkan “gejala tsunami digital” yang menghantam pondasi awal perkembangan anak.
Anak yang seharusnya sibuk bereksplorasi dengan dunia nyata, justru tenggelam dalam layar ponsel dan tablet.
Masa Emas Anak, Bukan Milik Layar
Wamendikdasmen menegaskan bahwa usia dini adalah fase paling penting untuk tumbuh kembang optimal.
Di fase ini, anak jauh lebih membutuhkan:
Interaksi fisik yang hangat.
Komunikasi langsung dengan orang tua dan orang di sekitarnya.
Stimulasi multisensorik dari lingkungan nyata.
Ia mengingatkan dengan tegas bahwa pelukan tidak bisa digantikan oleh emoji, dan suara orang tua tidak bisa digantikan video edukasi di layar.
Dengan kata lain, gawai boleh hadir, tapi tidak boleh mengambil alih peran utama keluarga dalam pengasuhan.
Sekolah Tidak Bisa Bekerja Sendiri
Menurut Fajar, tantangan brain rot dan kecanduan gawai pada anak tidak akan selesai jika hanya dibebankan pada sekolah atau satuan PAUD.
Ia mendorong fasilitator PAUD HI untuk tampil sebagai aktor perubahan, yang aktif menyebarkan pesan literasi digital sehat kepada:
Orang tua.
Pendidik.
Masyarakat luas di lingkungannya.
Fajar mengingatkan, jika Indonesia ingin benar-benar menyiapkan generasi emas 2045, maka kerusakan potensi anak tidak boleh dibiarkan sejak dini hanya karena kelalaian orang dewasa hari ini.
Kolaborasi Lintas Sektor untuk Selamatkan PAUD
Ia juga menggarisbawahi pentingnya kerja bersama lintas sektor guna menciptakan ekosistem PAUD yang sehat, berkualitas, dan berkelanjutan.
Sektor yang perlu terlibat antara lain:
Kesehatan, untuk memantau dampak gawai terhadap fisik dan mental anak.
Sosial, untuk memastikan lingkungan tumbuh kembang anak lebih suportif.
Pemberdayaan masyarakat, agar program pengasuhan dan edukasi bisa menjangkau lebih banyak keluarga.
Keterlibatan banyak pihak ini diharapkan dapat menahan laju dampak negatif paparan gawai yang tidak terkontrol.
Peran Strategis Fasilitator PAUD di Daerah
Direktur Pendidikan Anak Usia Dini, Nia Nurhasanah, menjelaskan bahwa pelatihan ini bukan kegiatan sesaat, melainkan bagian dari strategi jangka panjang.
Fokus utamanya adalah memperkuat peran fasilitator sebagai penggerak perubahan di daerah.
Nia menegaskan beberapa harapan konkret setelah pelatihan:
Fasilitator segera menyusun program pendampingan di wilayah masing-masing.
Program tersebut menyasar orang tua dan pengelola PAUD.
Pelaksanaan program akan dimonitor secara berkala oleh kementerian.
Dengan begitu, pesan tentang pembatasan gawai dan pencegahan brain rot tidak berhenti di ruang pelatihan saja, tetapi benar-benar sampai ke keluarga.
Komitmen Peserta dari Berbagai Daerah
Kegiatan ini diikuti oleh 134 peserta yang berasal dari 9 provinsi dan 25 kabupaten/kota.
Mereka terdiri dari:
Pejabat yang menangani bidang PAUD.
Fasilitator daerah yang berinteraksi langsung dengan lembaga PAUD dan masyarakat.
Selama tiga hari pelatihan, seluruh peserta menunjukkan komitmen penuh dengan mengikuti rangkaian kegiatan hingga tuntas.
Saatnya Orang Tua dan Pendidik Bergerak
Peringatan tentang brain rot bukan sekadar istilah baru yang menakut-nakuti, melainkan cermin dari kebiasaan digital yang kian tak terkendali.
Agar anak tidak tumbuh dengan otak yang tumpul oleh layar, orang dewasa perlu segera:
Menetapkan batas waktu penggunaan gawai yang jelas.
Mengganti sebagian waktu layar dengan aktivitas fisik, permainan kreatif, dan obrolan hangat.
Bekerja sama dengan guru, fasilitator, dan lingkungan sekitar untuk menjaga pola asuh yang lebih sehat.
Masa depan anak bukan milik gawai, tetapi milik orang dewasa yang berani mengatur ulang prioritas hari ini.






