Thrifting: Dari Kuno Jadi Ikon Gaya Hidup
Thrifting atau belanja barang bekas sebenarnya bukan fenomena baru.
Yang berubah adalah caranya dipandang generasi sekarang.
Kalau dulu kesannya identik dengan kuno dan “pilihan terpaksa”, sekarang thrifting justru jadi simbol style yang beda sendiri, anti-mainstream, dan sering dianggap lebih berkelas karena nggak pasaran.
Di balik itu semua, ada perjalanan panjang sebelum thrifting naik kelas jadi bagian dari gaya hidup dan bisnis kekinian.
Akar Thrifting di Indonesia: Jauh Sebelum Viral
Jauh sebelum istilah “thrifting” rame di media sosial, budaya belanja barang bekas sudah lama hidup di Indonesia.
Beberapa kota bahkan punya spot legendaris:
Jakarta dengan Pasar Senen
Bandung dengan Pasar Gedebage
Surabaya dengan Pasar Turi
Plus banyak pasar loak dan pasar second-hand di kota-kota lain
Dulu, orang datang ke tempat-tempat ini bukan buat gaya, tapi murni karena kebutuhan.
Baju bekas impor dari luar negeri dijual dengan harga miring, tapi kualitasnya masih oke banget.
Biasanya barang-barang ini masuk dalam bentuk bal-balan — karung besar berisi campuran kaos, jaket, celana, tas, sampai sepatu.
Pedagang bakal bongkar, sortir satu per satu, dan cari mana yang masih layak jual.
Prosesnya jauh dari glamor: penuh keringat, debu, dan kerja manual. Tapi hasilnya? Bisa jadi sumber cuan serius.
Saat Media Sosial Bikin Thrifting Naik Daun
Perubahan besar mulai kerasa sekitar tahun 2015–2017.
Di periode ini, media sosial seperti Instagram dan YouTube mulai dipenuhi konten anak muda yang berburu dan ngebongkar hasil thrifting mereka.
Muncul berbagai jenis konten:
Haul baju thrift
Before–after setelah dicuci atau dimodif
Tutorial mix and match outfit vintage atau retro
Dari situ, pelan-pelan citra “baju bekas” bergeser jadi “hidden gem”.
Gaya vintage, retro, dan unik makin diminati, apalagi ketika harga baju di mall terus naik.
Thrifting jadi cara aman buat tetap tampil keren tanpa bikin dompet berderita.
Banyak yang akhirnya sadar: buat kelihatan fashionable, nggak wajib selalu beli baju baru.
Thrifting, Fashion, dan Isu Lingkungan
Tren thrifting makin kuat ketika isu lingkungan mulai ramai dibahas.
Industri fast fashion sering dikritik karena boros sumber daya dan rawan eksploitasi tenaga kerja.
Di tengah isu itu, thrifting muncul sebagai alternatif yang lebih ramah bumi.
Anak muda pun semakin percaya diri ngomong,
“Ini baju second, loh” — bukan sebagai pembelaan, tapi sebagai bentuk kebanggaan.
Ada rasa puas karena tahu mereka ikut mengurangi limbah fashion dan memperpanjang umur pakai sebuah produk.
Dari Hobi Jadi Bisnis Serius
Naiknya minat terhadap thrifting bikin banyak orang mulai meliriknya sebagai peluang usaha.
Thrifting nggak lagi cuma aktivitas belanja, tapi berkembang jadi ekosistem bisnis baru.
Bentuk-bentuk bisnisnya beragam:
Reseller baju bekas yang hunting bal-balan lalu dijual satuan
Toko offline khusus barang thrift
Toko online via marketplace dan media sosial
Akun Instagram kurasi thrift dengan feed yang dibuat seestetik mungkin
Bal-balan dari luar negeri disortir lagi, dipilih yang paling unik dan punya nilai jual, lalu dijual dengan harga yang jauh lebih tinggi.
Satu jaket bekas yang langka bisa tembus ratusan ribu, bahkan jutaan rupiah.
Apalagi kalau:
Brand-nya terkenal
Kondisinya masih mulus
Punya vibe vintage yang susah dicari di toko biasa
Di berbagai kota, mulai sering muncul event thrift market.
Ini jadi ajang ketemuan antara penjual thrift dan para pencinta barang second-hand.
Suasananya penuh kreativitas: banyak stand dengan kurasi style yang beda-beda, dari vintage Jepang sampai streetwear Amerika.
Dan yang paling bikin nagih: banyak barang unik yang nggak ada di pasaran retail.
Thrifting Sebagai Gaya Hidup dan Cara Ekspresi
Sekarang, thrifting sudah jauh melewati sekadar berburu baju murah.
Bagi banyak orang, thrifting punya beberapa makna baru:
Soal nilai dan cerita di balik barang
Soal karakter personal yang ditampilkan lewat outfit
Soal pilihan gaya hidup yang lebih berkelanjutan
Orang yang suka thrifting biasanya senang karena merasa:
Apa yang mereka pakai nggak pasaran
Setiap item punya karakter
Ada kepuasan menemukan barang bagus dengan harga miring
Mereka berkontribusi mengurangi budaya konsumtif berlebihan
Buat sebagian orang, thrifting juga jadi medium ekspresi diri.
Karena stoknya terbatas dan seringkali one of a kind, outfit hasil thrifting bisa bikin tampilan seseorang lebih personal, unik, dan beda dari yang lain.
Masa Depan Thrifting: Bukan Sekadar Tren Musiman
Dari yang dulunya identik dengan pasar loak dan baju murah, thrifting sekarang sudah menjelma jadi tren gaya hidup anak muda dan peluang usaha yang menjanjikan.
Selama masih ada orang yang ingin tampil beda, cari barang unik, dan peduli dengan cara belanja yang lebih bertanggung jawab, bisnis thrifting kayaknya nggak akan redup.
Justru, peluangnya makin terbuka lebar:
Kolaborasi dengan brand lokal
Kurasi thrift premium dan terkonsep
Event fashion berbasis barang second-hand
Thrifting sudah bukan sekadar alternatif.
Pelan tapi pasti, ia menjelma jadi arus utama baru dalam dunia fashion dan gaya hidup berkelanjutan.






